Viral, isu senjata impor masih ‘digoreng’

Uni Lubis
Mabes Polri klarifikasi impor amunisi untuk latihan menembak PB Perbakin

Menkopolhukam Wiranto (tengah) bersama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) dan Kapolri Jenderal Pol SALAM KOMANDO. Tito Karnavian (kanan) melakukan salam komando seusai menghadiri upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, Minggu, 1 Oktober. Foto oleh Rosa Panggabean/ANTARA

JAKARTA, Indonesia –  Perang informasi di ranah aplikasi informasi berkaitan dengan isu senjata impor masih berlangsung.  Pada Jumat malam, 6 Oktober 2017, beredar secara viral informasi tentang kedatangan satu kontainer berisi 500 boks (500.000 butir amunisi kaliber 9 mm). 

Informasi yang viral via aplikasi Whatsapp itu dimulai dengan  kalimat provokatif, “Dan Terjadi Lagi Sodara2”.  Dalam informasi disebutkan bahwa  kiriman amunisi itu “berangkat menuju GUDANG MABES POLRI”. Tulisan dicetak tebal untuk memberi penekanan. 

Informasi itu beredar hanya beberapa jam setelah pertemuan di kantor Menteri Koordinator Politik dan Keamanan yang membahas nasib senjata dan amunisi yang diimpor Polri dan memicu nuansa perpecahan di antara institusi Polri dan TNI.  Menko Wiranto mengatakan bahwa heboh impor senjata dipicu terlalu banyak regulai.

Tidak cukup dengan informasi teks, kali ini informasi viral itu dilengkapi foto kontainer yang parkir di Dermaga Terminal Pelabuhan Peti Kemas Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan latar belakang Kapal MV Hyundai Supreme.  Lumayan meyakinkan.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Mayjen Pol Setyo Wasisto membantah informasi viral yang menyebutkan bahwa kiriman amunisi itu pesanan Mabes Polri. 

“Kiriman itu pesanan Perbakin, bukan milik Polri,” ujar Setyo Wasisto, menjawab Rappler, pada Sabtu pagi, 7 Oktober 2017.  Setyo juga menunjukkan informasi asli, sebelum ditambahi kalimat, “berangkat menuju GUDANG POLRI” di atas.

Rappler juga mendapatkan dokumen surat menyurat izin yang diberikan Mabes Polri untuk memasukkan (impor) senjata api dan amunisi untuk olahraga menembak.  Surat yang ditanda tangani Kepala Badan Intel dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri Komisaris Jenderal Lutfi Lubihanto itu bertanggal  7 Juli 2017, dan ditujukan untuk menjawab permintaan izin dari  Ketua Umum Persatuan Olahraga Menembak Indonesia (Perbakin) Bambang Triharmodjo, yang dikirim pada tanggal 8 Juni 2017.

Dalam surat kepada Polri, Perbakin mengajukan  impor  250 pucuk pistol, 100 pucuk senapan dan 2,7 juta butir amunisi berbagai kaliber sesuai kebutuhan senjata.  Dalam surat disebutkan asal negara adalah Eropa, Eropa Timur, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Asia, Filipina, Thailand dan Singapura. 

 

Juga disebutkan bahwa pelabuhan masuk adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.  Pelaksana impor adalah PT Bintang Cakra Kencana.

 

Surat izin dari Polri mencantumkan  ketentuan yang antara lain mengatakan bahwa “penggudangan senjata api yang belum memperoleh izin kepemilikan disimpan di gudang senjata api Baintelkam  Polri.  Untuk senjata api yang sudah memperoleh izin kepemilikan wajib disimpan di gudang masing-masing Pengda  atau gudang Polda setempat.”  Surat izin berlaku selama 1 (satu) tahun sejak tanggal dikeluarkan izin dan tidak dapat diperpanjang.

 

Selain itu, ada surat rekomendasi impor dari Badan Intelijen Strategis (Bais) Mabes TNI, yang ditanda tangani Wakil Kepala Bais,  Marsekal Muda TNI Donny Ermawan.  Surat bertanggal 8 Agustus 2017 itu ditujukan kepada Direktur Utama Bintang Cakra Kencana, yang mengimpor senjata dan amunisi.

Rappler juga mendapatkan  fotokopi Berita Acara Penyerahan Amunisi di Gudang PB Perbakin dari Kompol Marjuki mewakili Kabaintelkam kepada Basuki, kepala gudang PB Perbakin atas kiriman 500.000 butir amunisi kaliber 9 mm luger 115 GR merek PMC Small Arm Made Korea sesuai surat izin Kapolri. 

 

Di surat izin, tidak tercantum Korea sebagai asal negara impor.

 

“Petugas verifikasi yang terdiri dari Polri, Bais TNI dan Bea dan Cukai telah memverifikasi kesesuaian antara fisik barang dan dokumen. Demikian informasi yang saya dapatkan,” demikian Setyo.

 

Info viral versi yang diakui Polisi

 

Berikut adalah isi informasi yang kami dapatkan dari Kadiv Humas Mabes Polri.  “Ini aslinya sebelum diubah,” ujar Setyo.

Selamat malam

 

Yth Komandan

 

 Ijin melaporkan , pada hari Jumat 06 Oktober 2017 pukul 16.20 wib Bertempat di Dermaga TPK Koja Pelabuhan Tanjung Priok Jakut berlangsung kegiatan bongkar muat Barang Berbahaya (Amonisi) dari Kapal MV HHYUNDAI SUPREME V. 076S dengan data sebagai berikut :

 

1. Nama barang : Barang Berbahaya (Handak)

 

2. Jenis barang : Amonisi Kaliber 9 mm

 

3. Jumlah : 1 kontainer (20 ft)

 

4. Pemlik : PB Perbakin 

 

5. Importir : PT Bintang Cakra Kencana

 

6. Nama pelayaran : PT ARPENI PRATAMA OCEAN LINE TBKAsal barang : Korea

 

7. Dasar :

 

a.  Surat Ijin Impor Kapolri nomor SI/5882/VII/2017 tanggal 17 Juli 2017

 

b. Surat Rekomendasi Impor Kabais TNI nomor : R/1178/VIII/2017 tanggal 8 Agustus 2017

 

Barang Amonisi dimuat menggunakan Trailer dengan Nopol B 9204 WV dan dikirim menuju gudang PB Perbakin di Jl. Gelora Senayan, Senayan  untuk dilaksanakan Pengecekan secara fisik dan dilanjutkan dengan penyimpanan.

 

Pada pukul 18.00 WIB Kendaraan tiba di Gudang perbakin dan langsung dilaksanakanpembongkaran sekaligus pengecekan fisik yang disaksikan oleh Tim Bais TNI (Lettu Suratno), Tim Baintelkam (Kompol Marjuki, SH, MH), Tim Perbakin (Bp. Basuki/Kepala Gudang PB Perbakin) dan Tim Importir (Sdr. Yadi). Dengan hasil 

 

1. Di dalam Kontainer (20 ft) berisi  Amonisi caliber 9 mm yang dikemas dalam 500 box

 

2. Masing masing box berisi 1.000 butir.

 

3. Jumlah total keseluruhan : 500.000 butir 

 

Pukul 19.21  Wib pelaksanaan Check fisik selesai dilanjutkan dengan peandatanganan Berita Acara penyerahan barang dari Baintelkam (Kompol Marjuki, SH., MH) kepada Perbakin (Bp. Basuki)

 

Pukul 19.30 kegiatan selesai dalam keadaan tertib dan aman.

 

Catatan :

 

Impor Barang Berbahaya berupa Ammonisi oleh PB Perbakin dilaksanakan secara bertahap.

 

Menurut Setyo, peluru diimpor dalam rangka mendukung latihan atlet Perbakin guna mengikuti Kejuaraan Menembak “Bascot VI Shooting Championship & Expo” pada tanggal 5-29 Oktober 2017 di Lapangan Tembak Hoegeng Imam Santoso di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. 

“Selain itu peluru juga akan digunakan untuk kejuaraan menembak reaksi level III IPSC 5th Physician’s Cup 2017, a Memorial Tribute To Iroa/nroi Mr Chepit Dulay di Filipina pada tanggal 13-26 Oktober 2017,” demikian info dari Setyo.

 

Informasi mengenai PT Bintang Cakra Kencana menurut mesin pencarian di internet, menyebutkan bahwa, “PT Bintang Cakra Kencana, yang lebih dikenal dengan nama ARIRANG,  merupakan  supplier kebutuhan percetakan ternama di Jakarta, yang  mensuplai berbagai kebutuhan cetak, mulai dari pelat, tinta, hingga separasi seperti: CTP, Blanket, Chemical, Kawat Jahit, Pisau Pond dan sebagainya.” 

 

Perusahaan ini beralamat di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

 

Heboh soal impor senjata dipicu oleh pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang mengatakan akan ada impor 5.000 senjata api ilegal.  Saat pidato pada HUT TNI ke-72, di Dermaga Cilegon, 5 Oktober 2017, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengingatkan agar TNI bersinergi dan solid dengan institusi lain di dalam pemerintahan. – Rappler.com