Menyoal pragmatisme masyarakat Indonesia terhadap laut di Social Good Summit 2017

Sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehidupan bawah laut

Duo YouTubers Asumsi, Pangeran Siahaan (kanan) dan Iman Sjafei, saat menjadi pembicara di panel Social Good Summit Jakarta pada 4 Oktober 2017. Foto oleh Valerie Dante/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Social Good Summit (SGS) Jakarta 2017 mempertanyakan kontribusi apa yang bisa kita—masyarakat umumnya—lakukan untuk menjaga biodiversitas laut di Indonesia. 

Duo YouTubers yang memiliki kanal Asumsi, Pangeran Siahaan dan Iman Sjafei, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya belum begitu dekat dengan isu-isu serius seperti pentingnya kelautan. 

“Suatu campaign yang mereka anggap berat dan tidak langsung bersentuhan dengan kita, cenderung akan dilewati. Itu disebut pragmatisme,” kata Pangeran dalam SGS Jakarta yang digelar di Plaza Indonesia, pada Rabu, 4 Oktober.

Pada dasarnya hal ini menjadi bentuk ketidakpahaman sebagian besar masyarakat akan betapa pentingnya menjaga kehidupan bawah laut. 

“Kayaknya mindset-nya harus dibalik. Biasanya campaign memberitahukan kita mengenai bahaya dan kerusakan laut. Itu harus dibalik, kita harus lihat langsung untuk lihat betapa indahnya laut kita itu,” kata Iman.

Menurutnya, dengan begitu masyarakat akan mampu disentuh sisi emosinya dan lebih menyayangi kehidupan bawah laut, sehingga kemudian mereka tidak mudah untuk merusaknya. 

“Konsumen Indonesia belum dalam tahap tersentuh emosinya. Kita harus tahu kepada siapa campaign itu berbicara, anak muda kah, orang tua kah,” kata Pangeran.

Selain itu, mereka juga mengusulkan bahwa dengan kebiasaan “pamer” di media sosial yang kerap dilakukan anak muda Indonesia, mampu mendongkrak promosi pariwisata kita. Kebiasaan pamer tersebut bisa menjadi kepentingan yang bisa ditunggangi dalam promosi wisata.

Tak hanya keapatisan masyarakat, sutradara, blogger, dan penyelam, Iman Brotoseno, menyayangkan ketidakhadiran pemerintah di lapangan. Hal ini ia ungkapkan setelah menampilkan cuplikan film dokumenter buatannya yang menampilkan keindahan laut Banda dengan judul Ring of Fire.

Sutradara, blogger, dan penyelam Iman Brotoseno saat mempresentasikan salah satu karyanya di Social Good Summit Jakarta pada 4 Oktober 2017. Ia mempertanyakan kehadiran negara dalam isu kelautan. Foto oleh Valerie Dante/Rappler

Ia menambahkan, “Saya sedih negara enggak hadir, wilayahnya kita tapi guide-nya orang bule,” kata Iman Brotoseno ketika sedang mengerjakan proses pembuatan filmnya tersebut.

Ia juga menceritakan tentang pengalamannya ketika ke Raja Ampat pada 2002, karena sebagian pemandu wisata dan penyelam di sana merupakan orang asing.

Ketika menyelam, ia juga sempat mendengar beberapa kali dentuman dari pengeboman ikan. Tak hanya itu, potas ikan yang mengandung racun juga berada disana. 

“Saya heran, kok negara enggak hadir, ya? Akhirnya, bagaimana kita bisa mencintai laut?” ucapnya.

Sebagai seorang blogger di situs dunialaut.com, ia juga mengimbau masyarakat untuk mulai menulis soal ekosistem laut di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kekuatan media sosial untuk menjangkau global dan mendapatkan efek viral. Pola pikir yang semulanya menjadikan laut sebagai halaman belakang kita, harus diubah menjadi halaman depan.

Salah satu alasan masyarakat pesisir melakukan pemboman adalah karena seringnya mereka terisolasi selama 3 bulan. Hal ini mebuat Iman sempat membawakan semen, pompa air, dan alat-alat bangunan lain, dengan demikian masyarakat pesisir bisa bertahan hidup.

Social Good Summit adalah konferensi yang membahas dampak teknologi dan new media terhadap inisiatif sosial di seluruh dunia. Rappler Indonesia dan Program Pembangunan PBB (UNDP) bekerjasama mengadakan acara ini di Jakarta sejak 2015. —Rappler.com