Kucing bakau yang hampir punah ditemukan di Surabaya

Hutan mangrove semakin terdesak oleh rumah-rumah mewah

Aktivis Wildlife Photography Surabaya (WPS) memasang camera trap di hutan mangrove kawasan Pantai Timur Surabaya. Foto oleh Amir Tejo/Rappler

SURABAYA, Indonesia — Tanah itu sekilas kering. Namun begitu diinjak, ternyata amblas. Amblasnya tak tanggung-tanggung: sedalam lutut orang dewasa. Namun kejadian itu tak menyurutkan semangat Iwan Febrianto, Agus Azhar dan Dwi Cipto yang tergabung dalam Wildlife Photography Surabaya (WPS) untuk memasang camera trap di hutan mangrove kawasan Pantai Timur Surabaya.

Komunitas ini lagi bersemangat mengobservasi keberadaan kucing bakau yang diduga masih bisa dijumpai di hutan mangrove Pantai Timur Surabaya. Kucing bakau yang bernama latin Prionailurus viverrinus ini adalah kucing liar berukuran sedang yang ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. 

International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2008 mengklasifikasikan kucing ini terancam punah karena mereka terkonsentrasi di habitat lahan basah. Keberadaan mereka semakin terdesak karena lahan basah mangrove semakin sering dijadikan permukiman manusia.

Awal mula anggota WPS tertarik untuk mengamati kucing bakau berawal tahun lalu. Saat itu salah satu WPS, Agus Azhari, secara tak sengaja memotret keberadaan kucing bakau yang selama ini belum pernah ia jumpai di kawasan hutan mangrove Pantai Timur Surabaya. 

Padahal Agus sudah sejak 1998 mengamati keberadaan satwa terutama burung di hutan mangrove ini. Dan selama itu, dia belum pernah menjumpai kucing dalam hutan mangrove.

Setelah mendapatkan foto pertama kucing bakau September tahun lalu, Agus mendiskusikan bersama teman-temannya di WPS soal temuannya itu. Mereka mendiskusikan kira-kira jenis kucing apa yang tertangkap kamera tersebut. 

Baru tahun ini komunitas ini kemudian bersepakat untuk mengadakan observasi lanjutan soal kucing bakau itu. Ada jeda waktu yang lama untuk mengadakan observasi, karena komunitas terkendala dengan pengadaan camera trap.

“Anggota komunitas patungan dengan uang pribadi untuk membeli camera trap yang harga per unitnya sekitar Rp 5 juta. Kami membeli camera trap sebanyak lima unit,” kata Iwan anggota WPS lainnya.

Setelah memiliki camera trap, awal September kemarin, komunitas ini kemudian memasang lima unit camera trap di lima area di hutan mangrove Pantai Timur Surabaya. Lima wilayah itu, mereka menyebutnya sebagai Wonorejo I sampai dengan V. Sebutan Wonorejo sesuai dengan nama kelurahan tempat hutan mangrove Pantai Timur Surabaya ini berada. 

“Penamaan wilayah I sampai V, sebenarnya sebutan kami saja untuk membedakan wilayah pemotretan,” kata Iwan.

TERTANGKAP KAMERA. Kucing bakau yang tertangkap camera trap pada awal September. Foto oleh Agus Azhari/Wild Photography Surabaya

Camera trap kemudian dipasang di setiap wilayah I Wonorejo sampai dengan V. Lama pemasangan sampai hampir satu bulan. Mereka sengaja tak terlalu sering memeriksa camera trap karena khawatir “bau” manusia bakal membuat kucing bakau ogah  mendekat kamera.

Hingga akhirnya akhir September kemarin mereka memeriksa camera trap. Dari lima kamera yang terpasang, salah satunya menangkap keberadaan kucing bakau di hutan mangrove Pantai Timur Surabaya.  

“Atas hasil dua temuan ini, kami mendiskusikan dengan para ahli yang tergabung dalam fishing cat group. Grup ini adalah grup para ahli di bidang kucing bakau dari berbagai negara. Tiga dari lima ahli, berpendapat jika temuan itu adalah kucing bakau,” kata Iwan.

Namun meski, sudah ada ahli yang berpendapat bahwa temuan mereka adalah kucing bakau, namun WPS tetap meminta kepada pemerintah untuk mengadakan observasi lanjutan, untuk memastikan keberadaan kucing bakau tersebut. 

Ilmuwan mengatakan seringkali orang salah mengidentifikasi antara kucing bakau dengan kucing leopard yang memiliki habitat dan jejak yang mirip.

Hutan mangrove vs rumah mewah

Kata Iwan dari hasil penemuannya ini, yang menjadi perhatiannya bukan hanya mamalianya saja, namun keberadaan hutan mangrove di pantai Timur Surabaya yang semakin menjorok ke laut. 

Sebagai perbandingan, saat dia mulai menjejakkan kaki untuk memotret habitat mangrove Pantai Timur Surabaya pertama kali  sekitar 1998, dia masih harus menyusuri jalan setapak. 

Namun sekarang, untuk menuju lokasi yang sama, sudah ada jalan berlapis paving selebar dua mobil berpapasan. Ditambah lagi dengan keberadaan rumah mewah yang letaknya sekitar  100 meter ujung jalan paving.

“Hutan mangrove Pantai Timur Surabaya ini adalah batas akhir satwa liar yang masih dimiliki oleh Surabaya. Jangan sampai bergeser terus apalagi punah,” kata dia.

Asal tahu saja, selain diduga masih menyimpan populasi kucing bakau yang hampir punah, hutan mangrove Pantai Timur Surabaya juga menjadi important bird area

Dalam bulan-bulan tertentu di setiap tahun, ada ribuan burung pantai seperti Kedidi Merah, Kedidi Besar, Trinil Ekor Kelabu yang singgah di hutan mangrove Pantai Timur, Surabaya. 

Mereka berasal dari daerah tundra Artik, seperti Rusia, Siberia untuk menghindari musim dingin. Itu terjadi sekitar  September-April. 

Mereka kemudian mampir di hutan mangrove Pantai Timur Surabaya untuk beristirahat, untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju Australia dan Selandia Baru. —Rappler.com