US basketball

Penulis muda Taufiqurrahman berfilsafat dengan imajinasi sastrawi

Rosa Cindy
Taufiqurrahman, mahasiswa filsafat UGM, menjadi bagian dari ‘emerging writers’ Ubud Writers and Readers Festival 2017. Namun ia tidak mau mati seperti Sokrates

'ORIGINS'. Tahun ini, ajang 'UWRF 2017' akan mengangkat tema 'Origins'. Foto dari UbudWritersFestival.com

JAKARTA, Indonesia — Sudah tiga tahun sejak Taufiqurrahman mengetahui acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Namun, baru tahun ini ia mencoba peruntungannya. Meski demikian, ia mengaku hanya iseng mencoba karena memang mahasiswa filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) ini tidak memiliki banyak tulisan sastra. Sedangkan UWRF merupakan acara yang terfokus pada seni dan sastra.

Ia mencoba peruntungannya dengan mengirim lima esai ke panitia UWRF, yang akhirnya menjadikannya sebagai salah satu emerging writers Indonesia yang akan tampil di festival sastra tahunan di Pulau Dewata tersebut.

Tiga dari tulisannya—Solastalgia; Manusia Heideggerian dalam Ikan-ikan yang Terdampar; Waktu, Manusia, dan Tuhan—merupakan esai kritik sastra. Sedangkan dua lagi—Filsafat Nusantara dan Sebuah Kisah tentang Subaltern dan Fisikalisme dan Celah bagi Tuhan—adalah esai filsafat.

“Sastra adalah cermin paling jernih untuk memahami dunia. Filsafat adalah proses abstraksi terhadap dunia yang selalu bergerak dalam kejernihan dan keburaman.”

Ketika dinyatakan lolos dalam seleksi, Taufiqurrahman menganggapnya sebagai kebetulan saja.

Atau mungkin juga sebagai panggilan bagi saya untuk lebih akrab lagi dengan sastra,” katanya kepada Rappler dalam sebuah wawancara melalui surat elektronik.

Sebab, sebagai orang yang terlempar ke dalam filsafat, saya merasa menemukan satu cara lain berfilsafat dengan imajinasi sastrawi. Ini seperti belajar jurus silat lengkap dengan mantranya.”

Meski demikian, ia enggan menceritakan kisah di balik kelima tulisannya tersebut. Baginya, itu adalah momen yang menyeramkan.

“Dan bagi saya akan jadi momen penuh horor jika harus menceritakan kembali tulisan-tulisan yang telah lama selesai saya tulis. Itu seperti melihat diri-saya-yang-lain yang telah mati. Mengerikan,” ujarnya.

Sastra dan filsafat saling melengkapi

Taufiqurrahman mulai menulis sejak duduk di kursi SMP. Saat itu, ia terinspirasi kakak sepupunya yang juga gemar menulis. Sayang, kini inspiratornya tersebut sudah tidak lagi menulis. Pada inspirasi yang diberikan kepadanya tersebut, ia berterima kasih.

Ditambah lagi, dunia baca tulis memang dekat dengannya sebagai mahasiswa filsafat. Menurutnya, filsafat mengajarkan berpikir kontemplatif, suatu hal yang dapat berlangsung dengan sempurna dalam kegiatan membaca dan menulis. Atau setidaknya, jika memang tidak bisa menulis, filsafat juga dekat dengan kemampuan retorika yang persuasif dan dapat “meracuni” pikiran orang lain.

Taufiqurrahman, penulis muda asal Yogyakarta, akan menjadi bagian dari program 'emerging writers' Ubud Writers and Readers Festival 2017. Foto dari UWRF

Karenanya, sastra dan filsafat dapat disebut merupakan dua hal yang bisa saling melengkapi.

“Sastra, bagi saya, adalah cermin paling jernih untuk memahami dunia. Sedangkan filsafat adalah proses abstraksi terhadap dunia yang selalu bergerak dalam kejernihan dan keburaman,” kata Taufiqurrahman.

“Saat abstraksi filsafat menemukan aphoria [jalan buntu], maka di situlah sastra, dengan kejernihannya, dapat menembus ketidakmungkinan-ketidakmungkinan pikiran di hadapan dunia.”

Mengajak berpikir kritis

Dibanding peradaban Islam atau Eropa, menurutnya, filsafat di Indonesia masih terlalu muda. Perkembangannya pun dinilai kurang. Sebab, lanjutnya, di Indonesia, filsafat masih terkurung dalam model penokohan dan pengidolaan, serta minim kritik. Padahal, filsafat hidup saat kritik tersedia.

Misalnya, diceritakannya, saat ini ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbit indie dan pernah membaca naskah filsafat populer yang akan diterbitkan ulang. Ia menemukan adanya konsep yang tidak tepat dalam naskah tersebut. Padahal, naskah tersebut sudah lama terbit dan sudah dibaca, bahkan dikutip, oleh terlalu banyak orang. Tapi ia tidak menemukan satu pun kritik terhadap naskah ini. 

“Kecenderungan seperti ini berbahaya bagi filsafat. Ia dapat menjerumuskan filsafat ke dalam intellectual fallacy yang oleh Francis Bacon disebut ‘idols’—dalam arti: filsafat hanya soal pengidolaan, dan setelah itu selesai,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, hakikat filsafat itu sendiri sudah hilang—dan ini berbahaya.

Sedangkan untuk ke depannya, ia mengaku ingin kembali menerbitkan buku. Karya tugas akhirnya di Fakultas Filsafat UGM yang kini telah dipersiapkan menjadi kandidat kuat konten bukunya tersebut. Meski demikian, ia harus memastikan bahwa karya tersebut cukup memuaskan. Jika tidak, tentu karya tersebut batal diterbitkan, atau disebutnya berakhir di tong sampah.

“Berikutnya saya hanya ingin terus berfilsafat tetapi tetap bisa makan. Saya enggak mau kayak Sokrates yang mati ditelan filsafat,” katanya. —Rappler.com

Pembaca Rappler dapat menghemat hingga 20% untuk tiket 4-Hari dan 1-Hari dengan memasukkan kode MPRP17 saat melakukan checkout di situs www.ubudwritersfestival.com