XIAMEN, Tiongkok — Indonesia masih dianggap memiliki status dominan di Asia Tenggara. Dalam posisi itu Pemerintah Tiongkok berupaya menjaga hubungan baik dengan Pemerintah Indonesia. “Tentu ada masalah, potensi sengketa, tapi kami selalu memilih negosiasi dan bekerjasama,” kata XU Ke, asisten profesor di Xiamen University.
Pakar di jurusan hubungan internasional Universitas terbesar di Provinsi Fujian ini banyak melakukan riset studi kerjasama keamanan maritim dengan Indonesia, terutama dengan Universitas Indonesia.
“Meskipun masalahnya kompleks, Pemerintah kami tentunya berupaya memahami kebijakan Menteri Susi yang menenggelamkan kapal ikan asal Tiongkok yang mencari ikan di perairan Indonesia secara ilegal,” kata XU Ke, saat menjawab pertanyaan Rappler.
Sejumlah editor media asal Indonesia berkunjung dan berdiskusi dengan ilmuwan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Tiongkok itu, Selasa, 24 Oktober 2017
(BACA: Menteri Susi geram kapal Tiongkok masuk ke perairan Natuna)
Menurut XU, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menerapkan kebijakan tegas tidak hanya ke kapal asal Tiongkok. “Melainkan juga berlaku ke kapal asal negara lain,” ujar XU.
Lin Mei, asisten profesor di lembaga yang sama mengatakan, kerjasama dengan Indonesia adalah bagian penting dari Sabuk Jalur Sutra Maritim yang digagas Presiden Xi Jinping.
Di Universitas Xiamen ada 108 mahasiswa/i dari Indonesia. Anisa Pratita Mantovani, mahasiswi asal Magelang yang tengah menempuh kuliah pasca sarjana di sini mengatakan bahwa yang membuatnya nyaman kuliah di Xiamen University karena suasana internasional. Sekitar 50% mahasiswa berasal dari warga negara luar Tiongkok. – Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.