Walau status Gunung Agung diturunkan, tidak boleh ada aktivitas di zona bahaya

Bram Setiawan
Pasca status Gunung Agung diturunkan, sudah ada pengungsi yang kembali ke rumahnya

DITURUNKAN. Status Gunung Agung diturunkan dari level awas menjadi siaga. Foto diambil dari akun Twitter @Sutopo_BNPB

KARANGASEM, Indonesia – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan status Gunung Agung dari awas menjadi siaga pada Minggu, 29 Oktober. Menurut mereka, penurunan status itu murnia berdasarkan data teknis dan tidak ada tekanan dari pihak mana pun.

Status Gunung Agung diturunkan sejak pukul 16:00 WITA. Sebelumnya, status Gunung Agung dinaikan ke level IV pada 22 September.

“Ini (penurunan status) murni data teknis dan tidak ada tekanan. Namun, pemantauan kami terus berjalan,” ujar Kepala PVMBG Kasbani ketika memberikan keterangan pers pada Minggu kemarin.

Ia menjelaskan sejak 20 Oktober, aktivitas kegempaan vulkanik di Gunung Agung sudah menurun secara drastis. Berdasarkan data satelit, energi termal terus menurun.

“Dari data GPS menunjukkan perlambatan deformasi atau inflasi,” kata dia.

Ia turut menjelaskan radius berbahaya juga dikurangi dari 9 kilometer menjadi 6 kilometer dari puncak Gunung Agung. Sedangkan untuk sektoral yang sebelumnya ditetapkan 12 kilometer menjadi 7,5 kilometer.

Kendati sudah diturunkan, namun ia mengimbau warga yang berada di kawasan rawan bencana tersebut tetap waspada, karena aktivitas Gunung Agung sewaktu-waktu bisa terjadi peningkatan kembali. PVBMG juga merekomendasikan agar pendaki, pengunjung atau wisatawan tidak beraktivitas di dalam zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung serta seluruh area di dalam radius 6 kilometer dari kawah Puncak Gunung Agung.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali Dewa Made Indra menjelaskan ada 6 desa yang berada di radius tersebut. Keenam desa yaitu Jungutan, Bhuana Giri, Sebudi, Besakih, Dukuh, dan Ban.

“Tetapi tidak seluruh wilayah desa ini berada di dalam kawasan rawan bencana (KRB). Sebagian wilayah desa di (dalam) radius sebagian di luar,” kata Dewa.

Setelah muncul informasi resmi dari PVMBG terkait penurunan status, sebagian pengungsi yang berada di luar radius bahaya sudah kembali ke rumah. Data yang dihimpun dari pos pengungsian Gelanggang Olahraga (GOR) Swecapura, Kabupaten Klungkung sudah ada 14 orang yang melapor kembali ke kampung halaman mereka di Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem.

“Mereka pulang mandiri (kendaraan pribadi),” kata Kepala Pelaksana BPBD Klungkung Putu Widiada.

Selain itu, Widiada menjelaskan ada 10 orang lagi dari Desa Muncan yang minta diantar kembali ke rumah.

“Kami akan fasilitasi (kendaraan) besok (Senin, 30 Oktober),” ujarnya.

Widiada mengatakan ada 5 bus dan 3 truk yang disiapkan untuk mengantar pengungsi yang ingin kembali ke desa masing-masing.

Dampak pariwisata

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat menghitung jika total kerugian di sektor ekonomi akibat erupsi Gunung Agung mencapai Rp 2 triliun. Sementara, kerugian di bidang pariwisata mencapai Rp 264 miliar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sektor perbankan turut mengalami kerugian karena status awas Gunung Agung. Hal itu lantaran banyaknya kredit macet masyarakat yang mengungsi.

“Sektor perbankan diperkirakan mencapai Rp 1,05 triliun karena banyaknya kredit macet warga di sekitar Gunung Agung yang mengungsi. Belum lagi ditambah hilangnya sektor pekerjaan dari warga yang mengungsi mencapai Rp 204,5 miliar,” tutur dia.

– Rappler.com