restaurants in Metro Manila

Pengungsi Gunung Agung rayakan hari Galungan di tengah rasa was-was

Bram Setiawan
Pengungsi Gunung Agung rayakan hari Galungan di tengah rasa was-was
Masih ada enam desa di radius 6 kilometer dari Gunung Agung yang masuk dalam zona bahaya

DENPASAR, Indonesia – Para pengungsi kawasan Gunung Agung dari Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Posko Pengungsian, Jalan Danau Tempe, Desa Sanur Kauh, Denpasar, Rabu, 1 November. Hari Raya Galungan di Bali diperingati setiap 6 bulan dalam perhitungan kalender Bali, atau 210 hari.

Meskipun begitu, ada sebagian pengungsi yang menyempatkan diri untuk pulang sebentar ke kampungnya agar bisa melakukan persembahyangan di sana. Salah satunya, I Putu Dana (30 tahun) yang berasal dari Dusun Cegi, Desa Ban.

“Setelah sembahyang, saya mampir ke rumah untuk bersih-bersih sebelum kembali lagi ke pengungsian,” ujar Dana. 

Ia berangkat dari Denpasar menuju Desa Ban pukul 04.00 WITA. Tetapi, pada pukul 15.00 WITA, ia sudah berada di Posko Pengungsian Jalan Danau Tempe untuk melakukan persembahyangan bersama.

“Saya enggak berani menginap di rumah. Saya takut dengan situasi Gunung Agung. Ini pun saya nekat pulang hanya untuk sembahyang saja, tidak mau lama-lama,” tuturnya. 

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih ada enam desa yang berada di radius kawasan rawan bencana yakni 6 kilometer dan sektoral 7,5 kilometer. Desa-desa tersebut, yaitu Ban, Jungutan, Bhuana Giri, Sebudi, Besakih, dan Dukuh. Warga dari enam desa tersebut harus tetap berada di lokasi pengungsian, meskipun status awas Gunung Agung sudah diturunkan menjadi siaga oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak 29 Oktober 2017, pukul 16.00 WITA. (BACA: Walau status Gunung Agung diturunkan, tidak boleh ada aktivitas di zona bahaya)

Meskipun kondisi Gunung Agung membuat aktivitas warga sekitarnya menjadi terbatas, namun ia tidak mau berkecil hati.

“Ya, biasa-biasa saja (kondisinya),” ujarnya.

Dana menambahkan dirinya enggan memperkirakan kapan Gunung Agung akan meletus. Ia mempercayakan informasi terkait aktivitas Gunung Agung melalui pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Ada sekitar 25 orang yang menyempatkan kembali ke kampung halaman kemudian kembali lagi ke Posko Pengungsian di Jalan Danau Tempe, Denpasar. Warga yang tetap berada di posko pengungsian, yaitu dari kalangan lanjut usia (lansia) dan anak-anak. Data yang tercatat di Posko Pengungsian Jalan Danau Tempe, Denpasar terdapat 245 jiwa warga pengungsi.

Adapun 45 orang lanjut usia (lansia). Sedangkan anak-anak berjumlah 47 jiwa. Bayi berjumlah 5 orang dan balita berjumlah 15. Pengungsi di Posko Pengungsian Jalan Danau Tempe adalah warga Desa Ban, yang terdiri atas dusun, Cegi, Perasan, Pengalusan, dan Bonyoh.

Ni Wayan Kaning, 66 tahun, warga Banjar Cegi, Desa Ban, mengatakan dirinya tidak ingin larut dalam kejenuhan di pengungsian.

“Waktu Gunung Agung meletus tahun 1963, saya mengungsi satu tahun di Denpasar, tidak merayakan Galungan. Suasana masih sepi,” kata Kaning.

Meskipun saat ini Kaning kembali merasakan suasana pengungsian, ia enggan merasa terbebani dengan kondisi Gunung Agung saat ini.

“Kami merayakan Galungan di sini bersama teman-teman. Terkadang saya sedih ingat kampung halaman, tapi enggak bisa bilang begitu juga dengan situasi seperti sekarang,” ujarnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana memahami bahwa Galungan selain sebagai hari raya juga momen berbagi kebahagiaan bersama di kampung halaman. Meskipun demikian, ia berharap pengungsi bisa menemukan makna baru dalam perayaan Galungan di luar kampung halaman.

“Situasi Gunung Agung membuat kita melakukan olah pikir dalam melakukan Galungan. Yang terpenting melakukan persembahyangan dengan hati yang tulus,” tuturnya. – Rappler.com