Mengintip tuah kayu dewandaru dan stigi, incaran para pejabat

Ryan Songalia
Mengintip tuah kayu dewandaru dan stigi, incaran para pejabat
"Aparat Polri dan TNI sering memesan dewandaru sebagai penangkal santet di rumahnya."

SEMARANG, Indonesia — Menjelajahi Pulau Karimunjawa seolah tidak habisnya. Butuh waktu berhari-hari untuk mengupas sisi keunikan yang ada di dalam pulau nan eksotis di utara Jepara, Jawa Tengah tersebut.

Rappler pun mengulik sedikit demi sedikit keunikan ekosistem di penjuru Karimunjawa. Ketika menyusuri ruas Jalan Danang Doyo, sejumlah warga terlihat beraktivitas seperti biasanya.

Warga di pagi hari ada yang sibuk membuat aneka kerajinan tangan. “Kalau kepengin nyari oleh-oleh dewandaru atau stigi mampir saja ke rumah sebelah,” kata seorang ibu penjual sembako sembari menunjukan rumah yang ada di samping warungnya, pada Kamis 2 November 2017.

Benar saja. Sebuah rumah bercat biru terlihat memajang berbagai aksesoris berbahan dasar kayu. Ahmad Biki, sang pemilik rumah sedang memoles beberapa tongkat kayu yang siap dijual.

Biki mengatakan kerajinan yang kerap ia buat di dalam rumahnya berasal dari bahan baku kayu dewandaru dan stigi. Dua jenis kayu itu, menurutnya, kini semakin langka karena banyak ditebang oleh penduduk setempat.

“Dewandaru di sini sudah sangat langka. Tetapi banyak dicari para pejabat. Ini saja saya sedang membuat tongkat komando dari dewandaru pesanan beberapa pejabat di institusi kepolisian,” ungkap Biki kepada Rappler.

Banyak yang meyakini bahwa dewandaru mampu memunculkan kewibawaan bagi sang pemilik. Biki bilang tak jarang dewandaru punya daya magis tersendiri untuk penyembuhan sejumlah penyakit.

“Aparat Polri dan TNI sering memesan dewandaru sebagai penangkal santet di rumahnya,” katanya. 

Dalam sehari dirinya membuat lima tongkat komando pesanan dari aparat kepolisian. “Jika pas ramai, pesanannya bisa sampai 30 buah,” tutur pria 41 tahun ini.

Lain dewandaru, lain pula kayu stigi. Ia menyebut bahwa kayu stigi juga punya tuah tak kalah hebatnya. Ia yang telah berjualan kayu stigi dan dewandaru sejak kelas VI SD ini mengatakan banyak orang percaya jika kayu stigi bisa mengobati gigitan ular berbisa.

Di Pulau Karimun, stigi kerap dijual dalam bentuk gelang, kalung, tasbih, warangga keris hingga pipa rokok. Harganya bervariasi mulai Rp 35 ribu hingga Rp 3 juta per buah.

“Selain dewandaru, di sini memang yang paling istimewa itu stigi barik atau doreng. Fungsinya bisa untuk menghilangkan gangguan mistik. Karena punya daya magnet tersendiri, kayu ini bahkan mampu membersihkan racun ular yang menjalar di tubuh manusia,” terangnya.

Meski begitu, tak mudah untuk mendapatkan kayu stigi berkualitas bagus.

Nur Soleh, Sekretaris Camat Karimunjawa mengungkapkan pohon stigi yang berkualitas bagus umumnya menghasilkan daun berbentuk mawar.

Kayu stigi loreng misalnya, hanya bisa ditemukan jika sudah dibelah pada bagian batangnya. Kayu tersebut secara alamiah muncul corak loreng layaknya kulit macan. “Kita harus pakai insting yang tajam agar dapat yang kualitas bagus,”.

Hampir punah

Di kawasan tropis, kayu stigi ini juga dapat ditemui di pesisir pantai Asia Selatan dan Asia Tenggara, macam Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Sri Lanka, hingga pesisir Tazmania di Australia dan beberapa gugusan Kepulauan kecil di Samudera Pasifik, seperti Mikronesia, Fuji, Guam.

“Pohon Stigi memiliiki tinggi kurang lebih empat meter dengan ciri khas batang yang berkelok-kelok,” ucapnya.

Ia sangat menyayangkan masih banyak warga yang nekat menebang pohon stigi di hutan-hutan yang ada di Karimun. Pasalnya, pohon stigi dengan kualitas kayu yang langka sebenarnya jadi ekosistem yang dilindungi oleh Balai Taman Karimunjawa dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Eman-eman banget pohonnya malah ditebangi. Karena jumlahnya saat ini semakin langka dan terancam punah,” katanya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.