Proud Project: Membuat perubahan sosial melalui ‘storytelling’

Dzikra Fanada
Proud Project: Membuat perubahan sosial melalui ‘storytelling’
CEO Proud Project Trivet Sembel berbagi kisahnya mendirikan gerakan ini seorang diri

JAKARTA, Indonesia — Suatu hari Trivet Sembel pernah bertanya kepada CEO Humpuss Intermoda Transportasi Theo Lekatompessy.

“Kapan Anda pernah merasa hancur? Dan apa yang Anda pelajari dari hal tersebut?” tanya Trivet kepada seniornya itu dalam sebuah kesempatan.

Theo menjawab, ia merasa hancur ketika ibunya meninggal dan keesokan harinya, pesawat Malaysian Airlines MH17 yang ditumpangi oleh kakaknya dari Belanda ke Surabaya untuk pemakaman sang ibunda, ditembak oleh Ukraina.

Ditambah lagi segala problematika nasional dan internasional yang Theo hadapi sebagai seorang wirausaha. Namun Theo berhasil mengubah masa kelamnya dan ia juga dinobatkan sebagai Best CEO 2016 dari Majalah SWA. 

“Kisah itu yang paling saya ingat sampai sekarang. Dari situ saya sadar betapa kuatnya storytelling,” kata Trivet kepada Rappler.

Kekuatan storytelling itulah yang mendorong Trivet untuk mendirikan Proud Project, sebuah proyek sosial di Instagram untuk menyebarkan kisah-kisah positif dan inspiratif dari pelosok nusantara.

“Gerakan ini untuk inspire people to break boundaries,” kata Trivet mengenai Proud Project yang kini sudah diikuti oleh lebih dari 63 ribu orang di Instagram.

Proud Project sekilas mirip Humans of New York karya fotografer Amerika Serikat, Brandon Stanton. Namun lebih dari sekadar mengunggah foto masyarakat Indonesia, Proud Project secara organik juga membentuk komunitas secara online dan offline. Tak jarang mereka kumpul bersama dengan followers-nya dalam kehidupan nyata untuk berdiskusi. 

Namun pada awal pembentukan Proud Project, Trivet bukanlah satu-satunya pendiri gerakan tersebut. Ialah Almarhum Oka Mahendra yang dinobatkan sebagai CEO pertama. Namun mantan kekasih selebgram Awkarin itu mengundurkan diri karena ada bisnis lain yang harus ditanganinya. 

Meski Oka memutuskan untuk fokus di usaha lainnya, ia masih tetap memberikan bantuan kepada Proud Project. Trivet pun harus menambah wawasan dan keterampilannya demi proyek ini, mulai dari wawancara orang yang akan diangkat, editing foto, caption, dan urusan manajemen lainnya. 

“Saya kuliah jurusan sosiologi. Jadi saya enggak ngerti apa-apa masalah jurnalisme dan fotografi serius. Tapi karena niat saya mantap, jadi saya belajar dari awal,” kata Trivet.

Mempelajari semua hal dari awal sambil mulai untuk jalan memang bukan hal yang mudah. Trivet mengaku sering keteteran untuk membagi waktunya. Namun, ia tetap berusaha sebisa mungkin menjadwalkan segala hal dengan baik agar memiliki waktu untuk wawancara dan mendalami fotografi.

Trivet sendiri menjadwalkan turun ke jalan untuk mewawancarai pedagang atau profesi jalanan lainnya setiap Selasa dan Rabu. Sebelum meminta izin untuk wawancara, ia memastikan bahwa orang tersebut sedang istirahat agar Trivet tidak menganggu pekerjaan mereka. Namun, proses masih panjang setelah wawancara, dan semua itu ia lakukan sendiri.

Di awal, Trivet bahkan pernah berpikir untuk mundur karena ia merasa bahwa gerakan ini tidak berkembang. “Pertama kali saya wawancara 15 orang, masukin Instagram, dan followers yang didapet enggak terlalu banyak. Belum lagi saya melakukan semuanya sendiri, I feel lonely sometimes,” kenangnya.—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.