Apa makna pahlawan menurut mantan napi teroris?

Uni Lubis
Apa makna pahlawan menurut mantan napi teroris?
Program deradikalisasi BNPT yang melibatkan mantan napi terorisme merupakan ‘soft approach’ dalam pemberantasan terorisme

JAKARTA, Indonesia – Dalam rangka Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap 10 November, sejumlah mantan narapidana kasus terorisme menyampaikan pendapat mereka tentang makna pahlawan. Dalam video singkat yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mantan napi Kurnia Widodo mengatakan, “Pahlawan adalah orang yang berjasa bagi keutuhan negara ini”.

Kurnia tadinya adalah perakit bom di jaringan Jemaah Islamiyah. Dia dijatuhi vonis penjara 5 tahun ketika polisi berhasil mengangkap rencananya untuk menyerang Markas Komando Brimob di Kelapa Dua, Depok, untuk membebaskan teman-temannya. Kurnia pernah dilatih di kamp pelatihan di Aceh.

Sedangkan Khairul Ikhwan mengatakan, “Pahlawan adalah yang membentuk fondasi-fondasi kenegaraan yang tadinya tercerai-berai di pulau-pulau, kini jadi satu.”

Khairul ditangkap karena dianggap sebagai anggota kelompok yang berencana mengebom Kedutaan Besar Myanmar. Kelompok Khairul juga dituding merencanakan pengeboman gereja di Solo dan Mako Polres Cirebon. Dia diganjar penjara 5 tahun.

Dizulfahri, atau Yudi Zulfahri, mengatakan, “Pahlawan adalah yang berjuang untuk menegakkan kebenaran, siapa saja yang berjuang untuk melawan kejahatan.”

Yudi Zulfahri alias Barok merupakan lulusan STPDN tahun 2005 yang ditangkap di Banda Aceh pada 17 Maret 2010. Ia terlibat dalam pelatihan militer di Gunung Bun, Jalin Jantho, Aceh Besar.

Ia dijatuhi vonis penjara 5 tahun dan ditahan di Aceh dan Jakarta. Kini, selain terlibat dalam kegiatan deradikalisasi yang dilakukan pemerintah melalui BNPT, Dizulfahri tengah menyelesaikan kuliah Program Pascasarjana Studi Kajian Ketahanan Nasional di Universitas Indonesia (UI).

Menurut Dizulfahri, cara menjadi pahlawan di masa kini adalah dengan “mendidik anak kita menjaga keluarga kita tetap benar, menjadi manusia bermoral. Itu adalah pahlawan.” 

“Membantu tetangga kita yang kekurangan itu adalah pahlawan,” ujarnya lagi.

Sementara Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan kampanye yang dilansir pusat media damai ini melibatkan mantan napi teroris sebagai upaya pendekatan lunak (soft approach) dalam pemberantasan terorisme dan radikalisasi.

BNPT menggelar sejumlah program yang melibatkan mantan napi terorisme, termasuk mendirikan pesantren bagi keluarga mereka.  

(BACA: Mantan teroris perampok bank kini kelola pesantren)

Ali Fauzi, mantan napi terorisme perakit bom untuk Bom Bali, menyetujuinya. Ia mengatakan bahwa mantan napi harus aktif menyebarkan perdamaian. 

Ali kini mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian dan aktif bersama BNPT mengadakan kegiatan deradikalisasi di penjara dan memberikan penyadaran kepada kaum muda agar tidak tergoda dengan paham radikalisme yang kini menyebar dengan mudah lewat internet. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.