Mengenal Malahayati, laksamana perempuan pertama dari Aceh

Habil Razali
Mengenal Malahayati, laksamana perempuan pertama dari Aceh
Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda

 

BANDA ACEH, Indonesia — “Jihad rakyat Aceh demi keadilan dan kesewenang-wenangan adalah cita-cita kami semua. Allahu Akbar!” teriak seorang perempuan tangguh dari atas sebuah kapal di perairan laut Selat Malaka.

Kapal itu terus berlayar menuju arah kapal berisi  pasukan Belanda yang ingin mencapai daratan Kesultanan Aceh Darussalam. 

“Hei kalian para kaphe-kaphe, jangan sesekali menyentuh tanah Nanggroe Darussalam, negeri suci ini,” hardik perempuan perkasa itu lagi kepada kapal perang Belanda yang terus mendekat.

“Apakah Aceh Darussalam tidak ada lagi laki-laki, sehingga perempuan lemah sepertimu ikut turun ke medan perang dan ingin melawan kami?” balas kapten kapal perang Belanda saat sudah mendekat dengan armada perang Aceh.

Pertempuran pun pecah antara pasukan perang Aceh dengan Belanda di lautan Selat Malaka pada tahun 1599 M. Belanda saat itu dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Pria itu terkenal sangat berangas. Sedangkan pasukan perang Aceh, bernama pasukan Inong Balee dipimpin oleh Laksamana Malahayati.

Peperangan itu rupanya berhasil dimenangkan oleh Laksamana Malahayati dengan pasukan Inong Balee yang dipimpinnya. Pasukan armada laut Kesultanan Aceh tersebut semua personelnya perempuan.

Pada 11 September 1599, Cornelis de Houtman tewas di tangan Laksamana Malahayati. Sejumlah pasukan perang Belanda yang tersisa ditawan pasukan Inong Balee. 

Begitulah sebuah penggalan kisah kegigihan seorang perempuan asal Aceh: Laksamana Malahayati yang ditampilkan dalam drama kolosal saat peringatan hari pahlawan nasional di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, 10 November 2017.

Laksamana Malahayati diperankan oleh seorang perempuan. Ia tampil menggunakan hijab. Drama tersebut menarik perhatian peserta upacara. 

Aksi kolosal Laksamana Malahayati ditampilkan guna mengingatkan generasi sekarang tentang perjuangan pahlawan saat ingin mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajahan asing.

“Kami tampilkan kolosal drama Laksamana Malahayati agar generasi penerus yang mungkin tidak suka membaca nantinya mereka tahu sejarah pahlawannya,” kata Panglima Kodam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Moch Fachrudin kepada wartawan seusai upacara.

Menurutnya, Laksamana Malahayati merupakan sosok perempuan yang feminim namun berjiwa ksatria. “Beliau wanita yang feminim tapi berjiwa kstaria.”

Gelar Pahlawan

Laksamana Malahayati dikenal sebagai laksamana perang perempuan pertama di dunia. Ia mendapat gelar pahlawan nasional pada 6 November 2017 lalu, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Nama lahirnya adalah Keumalahayati. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. 

Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada tahun 1585–1604, dia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. 

Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

Akan difilmkan

Meskipun perempuan, pimpinan pasukan Inoeng Balee tersebut tidak gentar melawan penjajah yang menyerbu Kesultanan Aceh pada abad ke-16 silam. Kisah kegigihan laksamana perang perempuan pertama di dunia ini rencananya akan segera difilmkan. 

Usulan ini diungkapan Panglima Kodam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Moch Fachrudin saat diwawancara usai pelaksanaan upacara peringatan hari pahlawan nasional di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Aceh.

“Jikalau dibuatkan film mungkin sejarah kegigihan Laksamana malahayati tidak akan mudah dilupakan. Generasi sekarangkan mungkin tidak terlalu suka lagi membaca,” kata Fachruddin.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Sulaiman Abda mengatakan pihaknya sangat mendukung rencanya pemfilman kisah laksamana perang asal Aceh itu.

“Kami selaku pimpinan DPRA mengapresiasi apa yang disampaikan Pak Pangdam,” kata Sulaiman. 

“Kami sangat mendukung karena ini adalah warisan-warisan yang nantinya sangat berguna untuk anak cucu kita, bangsa dan negara.”

Sulaiman menambahkan pemerintah pusat telah memberi penghargaan yang luar biasa kepada Laksamana Malahayati dengan memberi gelar pahlawan nasional. 

“Penghargaan pemerintah pusat luar biasa kepada Laksamana Malahayati. Kami sangat menghargai dan sangat membantu jikalau nanti difilmkan,” katanya.

Sekretaris Daerah Aceh Dermawan mengapresiasi penganugerahan gelar pahlawan kepada Laksamana Malahayati. Terkait rencanya untuk membuat film Malahayati, pihaknya mengaku sangat mendukung. 

“Ini ide positif. Pemerintah Aceh sangat mendukung. Saya kira mendokumentasikan hal ini sangat layak untuk dilakukan,” pungkas Dermawan. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.