Aktivis Papua serukan kelompok ‘penyandera’ berdialog

Ryan Songalia
Aktivis Papua serukan kelompok ‘penyandera’ berdialog
Kelompok bersenjata mengisolasi ribuan warga di sejumlah kampung di Papua

JAKARTA, Indonesia — Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Papua, Pater John Djonga, mengatakan kelompok bersenjata yang saat ini ‘menyandera’ warga di sejumlah kampung di Papua bukanlah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Hasil informasi dari Tembagapura itu bukan KKB, tapi kelompok OPM (Organisasi Papua Merdeka). Jadi bukan KKB. Itu menurut pengakuan mereka,” kata Pater John Jonga kepada Rappler melalui sambungan telepon, Sabtu 11 November 2017.

Seperti diberitakan sebelumnya ribuan warga Kampung Banti dan Kimbely ‘disandera’ oleh kelompok bersenjata beberapa hari lalu. Kelompok ini melakukan intimidasi dan mengancam warga untuk tidak meninggalkan kampung.

(Baca: Ribuan warga Tembagapura diisolasi kelompok bersenjata)

Pater mengatakan kelompok tersebut bukanlah kelompok kriminal bersenjata karena tujuan mereka untuk memerdekakan Papua. “Mereka mau melawan TNI-Polri, untuk perjuangan Papua Merdeka,” katanya.

Pater mengatakan kelompok bersenjata tersebut belum lama memasuki kampung-kampung lalu berbaur dengan masyarakat setempat. “Mereka tinggal di tengah masyarakat sehingga bagi TNI itu sulit melakuan penyergapan,” kata Pater.  “Mereka baru tinggal di kampung sekitar tanggal 20 bulan lalu.”

Ia berharap kelompok tersebut bersedia berdialog dengan pemerintah daerah, pusat dan TNI-Polri sehingga tidak perlu terjadi kekerasan. Ia juga meminta TNI-Polri mengambil jalan persuasif dan sebisa mungkin menghindari kontak senjata.

“Saya menyerukan kepada mereka, kenapa kamu harus tinggal di tengah kampung? Nanti kalau terjadi baku tembak antara TNI dengan OPM, nanti korban masyarakat yang tidak berdosa jadi korban,” katanya.

Kelompok tersebut, menurut Pater, menilai akar persoalan di Papua adalah keberadaan PT Freeport. “Mereka katakan Freeport itu masuk ke pegunungan daerah itu juga penuh dengan tipu muslihat,” katanya.

Peter tak menyebutkan berapa jumlah kelompok yang mengisolir warga desa. Namun saat ini polisi telah menetapkan 21 orang dalam daftar pencarian orang. “Jumlahnya tidak bisa kasih tahu, saya hanya menghimbau pada mereka, jangan mengorbankan warga sipil,” kata Pater.

Saat ini, Pater melanjutkan, kondisi warga yang terisolasi mulai kekurangan makanan. Warga juga harus menanggung makan para anggota kelompok tersebut. 

Karena itu ia meminta  segera digelar forum dialog antara kelompok yang mengisolasi warga dengan pemerintah, juga dengan TNI-Polri. “Solusinya, menurut saya, harus segera dialog.”

Untuk diketahui, Pater John Djonga pernah dianugerahi Yap Thiam Hien Award di bidang penegakan hak asasi manusia pada 2009. Pater dikenal sebagai rohaniawan yang kokoh melawan kesewang-wenangan terhadap masyarakat kecil yang tertindas. 

—Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.