Rayakan hari jadi, Komunitas Anak Kali Ciliwung gelar karnaval

Ryan Songalia
Rayakan hari jadi, Komunitas Anak Kali Ciliwung gelar karnaval
“Warga juga ikut membersihkan sungai, tidak buang sampah ke sungai, dan waktu itu sempat menebar benih ikan ke sungai.”

Jakarta, Indonesia – Komunitas Anak Kali Ciliwung (KAKC) merayakan hari jadinya untuk yang ke-2 di bantaran kali Ciliwung, Kampung Krapu, Jakarta, Minggu 12 November 2017. Perayaan itu pun sekalian untuk merayakan hari Ciliwung yang ke-6, dimana hari Ciliwung itu ditetapkan pada 11 November 2011. 

Berbagai rangkaian acara mereka lakukan di tiga kampung, yaitu Kampung Krapu, Kampung Tongkol, dan Kampung Lodan. Acara ini dibuka dengan karnaval gunungan hasil bumi Ciliwung. Itu merupakan acara pengarakan berbagai hasil bumi dari warga kampung itu sendiri.

Ada bermacam hasil bumi seperti beimbing, mangga, pisang, dan masih banyak lagi. Mereka malukan karnaval dengan mengelilingi tiga kampung tersebut. Dilanjut dengan acara menanam dan merawat tanaman yang bekerja sama dengan mahasiswa UPH. 

Lalu, sebagai bukti kebersamaan komunitas dengan warga kampung, mereka mengadakan acara masak bersama yang berupa hasil “petikan” warga kampung. Dan dilanjut dengan pentasi seni dari anak-anak kampung dan makan bersama.

Tahun ini Komunitas Anak Kali Ciliwung (KAKC) memilih tema “Kampung Jaga Kali” yang dimaksudkan warga kampung harus bisa merawat kali Ciliwung dengan cara tidak membuang sampah ke kali dan limbah rumah tangga tidak langsung dibuang ke kali. 

Pihak komunitas pun memberikan fasilitas berupa resapan air untuk limbah rumah tangga dan memperbanyak tong sampah agar warga tidak membuangnya ke kali.

“Warga juga ikut membersihkan sungai, tidak buang sampah ke sungai, dan waktu itu sempat menebar benih ikan ke sungai,” jelas Salijan selaku Sekjen Komunitas Anak Kali Ciliwung (KAKC).

“Komunitas ini memiliki program sanitasi dari hulu ke hilir. Limbah itu diolah dengan sanitasi, jadi limbah tidak langsung ke sungai. Jadi melalui resapan tanah. Apabila gubernur memiliki program yang serupa untuk tiap rumah di Jakarta, saya yakin setiap got di Jakarta akan bersih. Dan akan berimbas dengan sungai yang bersih. Karena sungai kotor itu lebih besar dari limbah rumah tangga yang langsung mengalir ke sungai,” lanjutnya.

Komunitas ini berhasil menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan sungai terhadap keberlangsungan hidup warga kampung. Itu dikarenakan mereka yang hidup berada di pinggir sungai. Yang dulunya pada kepemimpinan Gubernur Jokowi, Salijan mengatakan bahwa akan ada penggeseran sejauh 15 meter dari bibir pantai. 

Tetapi hal itu tidak terjadi, karena Komunitas Anak Kali Ciliwung berhasil mengajak warga kampung untuk menggeser atau melebarkan sungai Ciliwung sendiri sejauh 5 meter. Yang hasilnya tidak ada lagi rumah warga yang dekat atau benar-benar di bibir sungai.

Beberapa mahasiswa Universitas Indonesia ikut membantu untuk memajukan warga yang berada di pinggir kali Ciliwung itu. Mereka membantu untuk membuatkan rancangan berupa taman, penambahan getek dan lokasi dimana akan ada tempat duduk atau balai untuk warga kampung berkumpul. Hal ini dikarenakan warga kampung Krapu, Tongkol, dan Lodan ingin membuat daerah mereka menjadi tempat wisata. Di sana terdapat wisata sejarah berupa Benteng Belanda.

“Untuk kerjasama dengan warga, biasanya kami hanya memfasilitasi design. Dan kami berdiskusi dengan warga sekitar, seperti apa yang akan lebih baik. Kami sudah bekerja sama dengan warga selama 2 tahun terakhir ini. Sebelum ini juga ada pembuatan septictank, dan penyadaran masyarakat agar tidak buang sampah sembarangan,” jelas Amira Paramitha selaku Asisten Pengajar dari Universitas Indonesia.

“Untuk mengeksekusi program ini, semua tergantung dengan pejanjian dengan warga. Misal mereka ingin mengerjakan dengan tukang dari senin-kamis dan jumat-minggu kerja bakti, itu akan kami lakuakan. Eksekutor program ini tergantung dari warga itu sendiri,” lanjutnya. —Rappler.com  

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.