Dampak cuaca buruk, banjir landa sejumlah wilayah Aceh

Habil Razali
Dampak cuaca buruk, banjir landa sejumlah wilayah Aceh
"Sebanyak lima kecamatan sudah lima hari terendam banjir."

BANDA ACEH, Indonesia — Cuaca buruk menerjang Provinsi Aceh selama sepekan terakhir. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi di sejumlah kabupaten. Akibatnya, banjir melanda beberapa titik di Aceh.

Informasi yang dihimpun Rappler, banjir terjadi di sejumlah wilayah di pantai timur Aceh. Ketinggian air beragam di masing-masing wilayah, mulai dari 20 cm hingga 1,5 meter. Ribuan rumah pun terendam. Warga yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi ke tenda pengungsian atau ke mushala yang tidak terkena banjir.

Banjir sudah terjadi sejak lima hari lalu dan hingga kini airnya belum juga surut. Bahkan seorang warga dikabarkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir.

Lima hari Pidie tergenang banjir

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie, Apriadi mengatakan banjir merendam ratusan rumah di Kabupaten Pidie sejak lima hari lalu. Ketinggian air mencapai lutut hingga sepinggang orang dewasa.

Banjir terjadi akibat luapan dua sungai besar di sana (sungai Krueng Baro dan Krueng Tiro). Debit air sungai meningkat drastis setelah hujan mengguyur Pidie tiada henti selama sepekan terakhir.

Banjir luapan dua sungai itu mulai memasuki rumah warga lima hari lalu di lima kecamatan dan hingga kini belum surut. Terdiri dari Kecamatan Kota Sigli, Pidie, Grong-grong, Delima dan Padang Tiji.

“Sebanyak lima kecamatan sudah lima hari terendam banjir. Namun yang paling parah dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Sigli dan Grong-grong,” kata Apriadi, Sabtu 3 Desember 2017.

Di dua kecamatan terparah itu, BPBD Pidie sudah mendirikan tenda pengungsian. Di sana juga telah dibuka dapur umum untuk korban banjir yang mengungsi. 

Hingga hari kelima, tambah Apriadi, banjir tak kunjung surut, dikarenakan di kawasan yang terendam banjir merupakan wilayah yang bermasalah dengan saluran pembuangannya (drainase). Apalagi hujan deras terus mengguyur Kabupaten Pidie.

“Hujan berhenti dua jam, kemudian turun lagi. Kita sudah sediakan perahu karet untuk evakuasi warga dari lokasi banjir,” kata Apriadi.

Tak hanya rumah, banjir luapan ini juga merobohkan dua jembatan gantung di Kecamatan Sakti dan Tiro. “Jembatan ambruk saat dihantam terjangan banjir,” kata Apriadi. Namun, ambruknya jembatan itu belum mengganggu aktivitas warga.

Selain itu, banjir di Pidie ternyata menelan korban jiwa. Seorang bocah bernama Muhammad Khadafi (4,5) warga Desa Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie. Bocah malang ini terseret arus saat tengah bermain dengan temannya. Jasadnya ditemukan seratus meter dari tempatnya semula bermain.

Di Kabupaten Pidie Jaya, banjir luapan juga terjadi. Genangan air mulai merambah rumah warga setelah hujan deras mengguyur. Di Kecamatan Ulim, ketinggian air mencapai 1,5 meter. Ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kepala BPBD Pidie Jaya, Muhammad Nasir, mengatakan banjir terparah terjadi di Desa Balee Ulim, Nangroe Barat, dan Nangroe Timu, yang termasuk dalam Kecamatan Ulim. Banjir juga melanda Kecamatan Meureudu dan Kecamatan Meurah Dua.

“Kami sudah meminta tim siap siaga terhadap semua kemungkinan dan melakukan pemantauan terhadap cuaca,” kata Nasir.

Ratusan KK mengungsi di Bireuen

Warga mengungsikan barang di Kabupaten Aceh Utara. Foto oleh BPBD Aceh Utara.

Sementara di Kabupaten Bireuen, hujan deras yang melanda sejak Jumat, 1 Desember 2017, mengakibatkan banjir dan longsor di beberapa kecamatan. Ratusan kepala keluarga (kk) mengungsi ke tempat yang lebih aman. Longsor bahkan merusak sejumlah rumah warga dan jembatan.

Kepala BPBD Bireuen Muhammad Nasir mengatakan banjir dan longsor terjadi di sembilan kecamatan di Bireuen. Dari jumlah itu, hanya dua kecamatan berdampak paling parah, hingga warganya terpaksa harus mengungsi.

“Dua kecamatan paling parah, yaitu Kecamatan Kuta Makmur dan Gandapura,” kata Muhammad Nasir.

Di Kuta Makmur, katanya, jumlah warga yang mengungsi mencapai 267 kk di delapan desa. Di kecamatan itu, terdapat enam rumah rusak akibat longsor. 

Satu unit rumah milik Muslem (40) di Desa Cot Kruet, Di Desa Trieng Gadeng tiga unit rumah milik Zakaria Ismail, Nasai A Gani, dan Ummi Kalsum,  Di Desa Panton Mesjid dua unit rumah rusak milik Marzuki M Ali dan Bakhtiar.

Sedangkan Kecamatan Gandapura, warga mengungsi sebanyak 179 kk dari lima desa. Sebelumnya sebanyak 23 kk warga Desa Paya Baroe terisolir. Kini mereka sudah dievakuasi ke tenda pengungsian. Sementara kerusakan jembatan dan jalan terjadi di beberapa kecamatan.

19 kecamatan di Aceh Utara terendam banjir

Di Kabupaten Aceh Utara, genangan banjir telah merendam ribuan rumah warga di 19 Kecamatan selama tiga hari terakhir. 

Dari jumlah itu, tiga Kecamatan terparah dampak banjir yaitu Kecamatan Matang Kuli, Samudera, dan Pirak Timu. Ketinggian air di sana mencapai 1 – 1,5 meter.

Kepala BPBD Aceh Utara, Munawar mengatakan banjir pertama sekali terjadi pada Jumat lalu setelah terjadi hujan deras dan meluapnya air sungai. Namun banjir bertambah parah pada Sabtu, 2 Desember 2017, setelah datang banjir kiriman dari pegunungan Kabupaten Bener Meriah.

BPBD Aceh Utara telah mendirikan tenda pengungsian di beberapa titik. Mereka juga membuka dapur umum untuk para korban banjir. Munawar mengatakan pihaknya tidak memiliki data konkret berapa jumlah warga yang mengungsi, karena kebanyakan warga hanya sebentar saja bertahan di titik pengungsian.

“Ketika banjir berangsur surut warga meninggalkan titik pengungsian. Bantuan sudah mulai disalurkan kepada para korban,” kata Munawar saat dihubungi Rappler, Senin 4 Desember 2017.

Hujan deras yang mengguyur Aceh sepekan terakhir juga menyebabkan empat titik tanggul sungai Krueng Pasee jebol. Akibatnya, air meluap ke pemukiman warga. Empat titik itu berada di sepanjang bantaran Krueng Pasee yang masuk dalam Kecamatan Syamtalira Aron dan Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

“Ada satu titik lainnya yang nyaris putus, yakni di Krueng Peuto, lokasinya di dekat jalan lintas nasional tepatnya di Paya Brandang, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Aceh Utara, Edi Anwar, saat dihubungi, Senin, 4 Desember 2017.

Dampak siklon Dahlia 

Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Bandara Sultan Iskandarmuda Blang Bintang, Aceh, Zakaria mengatakan cuaca buruk di Aceh terjadi karena dampak dari siklon Dahlia yang melintasi Aceh.

“Siklon Dahlia ini dapat menimbulkan dampak cuaca ekstrem di beberapa wilayah Aceh,” katanya.

Bergeraknya pusaran angin Eddy dari Laut China Selatan melintasi Semenanjung Malaysia menuju Selat Malaka, akan berdampak tumbuhnya siklon Dahlia di sebelah Barat Daya Bengkulu. Sehingga nantinya membuat belokan angin serta pengerucutan masa udara di atmosfer Aceh.

“Maka akan ada awan-awan konvektif yang berpotensi terjadi hujan lebat, petir dan angin kencang juga berefek meningkat nya gelombang tinggi di wilayah Aceh,” kata Zakaria. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.