Polisi tangkap relawan dari area penggusuran Kulon Progo

Dyah Ayu Pitaloka
Polisi tangkap relawan dari area penggusuran Kulon Progo
Penangkapan dilakukan karena relawan dinilai menghalang-halangi proses pembersihan tanah

YOGYAKARTA, Indonesia – Proses penggusuran dan pembersihan tanah di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, diwarnai peristiwa penangkapan relawan oleh aparat kepolisian. 

Para relawan ditangkap dan kemudian dibawa ke Polresta Kulon Progo untuk diperiksa identitas, maksud dan tujuan mereka. Penangkapan dilakukan karena aktivitas para pendatang yang bukan warga setempat dinilai menghalang-halangi proses pembersihan tanah. 

Mereka juga dianggap tinggal di rumah warga tanpa ijin perangkat desa setempat. Aparat membersihkan pepohonan dan merobohkan sekitar 9 rumah yang telah dikosongkan oleh penghuninya hari ini.

“Tadi ada beberapa orang, kita amankan dan kita interogasi saja, kita bawa ke Polres dulu. Ini karena ada lurah yang lapor beberapa orang tinggal di rumah warga sejak dua hari ini, tapi tidak lapor kegiatan mereka. Mereka juga menghalang-halangi petugas yang mau bekerja,” kata Wakapolres Kulon Progo Kompol Dedi Surya Dharma, Selasa 5 Desember 2017.

Proses penggusuran yang berlangsung pada Selasa pagi sempat ricuh. Sejumlah alat berat yang masuk ke halaman Masjid Al Hidayah yang jadi satu dengan halaman Posko Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) mendapat perlawanan dari warga yang menolak digusur. Posko tersebut milik warga yang menolak untuk menjual lahan dan tanahnya. Sejak dua hari terakhir, rumah tersebut menjadi pusat berkumpulnya relawan jaringan soilidaritas yang terdiri dari berbagai latar berbeda, baik mahasiswa maupun aktivis lain. Pagi itu alat berat masuk untuk membersihkan pepohonan dan semak, selain bangunan posko dan masjid Al Hidayah. Puluhan aparat keamanan tersebar di lokasi tersebut.

Namun sanggar milik Hermanto yang berada di depan Masjid ikut diratakan juga. Peristiwa itu kemudian memantik reaksi dari Hermanto dan puluhan warga yang menolak menjual aset dan tanah untuk protes. Mereka berteriak dan mencoba menghentikan alat berat yang menggerus sanggar tersebut, namun gagal. 

“Ini sanggar milik saya, ndak tau kenapa ikut dirusak. Apraisal apa, saya nggak jual kok appraisal,” kata Hermanto sebelum berlari mendekati arah alat berat yang sedang bekerja. Dalam proses perlawanan tersebut Hermanto mengalami luka dibagian wajahnya.

Suasana yang panas juga melibatkan relawan berkonflik dengan aparat. Terdengar teriakan aparat meminta semua yang tidak berkepentingan untuk keluar dari dalam posko. Sejumlah relawan ditangkap aparat. Beberapa yang berlindung di dalam Posko pun dipaksa keluar oleh aparat. 

“Ada 12 dan sedang kami interogasi mereka siapa. Jika benar mahasiswa kan ada id nya, jika bukan mereka tujuannya apa. Khawatirnya kan provokasi. Sampai sekarang mereka masih bisu. Katanya nunggu pengacara. Selama pengamanan tidak ada yang terluka. Mungkin ada bentak-bentak karena menghalangi petugas,” kata Wakapolres.

Aparat persuasif himbau warga kosongkan rumah

Proses penggurusan terus berlangsung. Setidaknya terdapat puluhan rumah yang masih berdiri. Pada daun pintu dan dinding rumah mereka tertempel penolakan untuk terlibat dalam proses jual beli lahan dan aset. Stiker penolakan terhadap tim appraisal bandara juga tertempel pada pintu dan dinding rumah.

Proses penggusuran paksa yang terus berlanjut di hari kedua membuat warga penolak yang  bertahan terlihat semakin tertutup. Warga yang kecewa sekaligus takut karena bertahan untuk tidak menjual lahan dan aset tak mudah percaya dan tak mau berbicara dengan orang asing.

Kondisi tersebut akan menjadi tantangan bagi aparat yang mengatakan akan melakukan pendekatan persuasif hingga warga mengosongkan rumah secara sukarela. 

“Kita persuasive, sambil terus berdoa agar teman dan saudara kita yang masih bertahan bisa pindah secara sukarela,” kata Project Manajer NYIA, PT Angkasa Pura 1 R.Sujiastono. Menurutnya, perpindahan warga yang bertahan akan semakin baik jika semakin cepat dilakukan meskipun pihaknya tidak mengatakan tenggat waktu secara khusus. Sebab proses percepatan pembangunan akan dilakukan secara sporadis memasuki tahun 2018.

Bagi warga yang tetap bertahan di kediaman mereka menurutnya akan terganggu dengan proses pembangunan, dengan debu, dengan suara yang bising dan berbagai peralatan yang banyak masuk. 

“Kalau mereka belum keluar, kita biarkan keluar dengan sendirinya. Gunanya apa, kalau mereka bertahan nanti sulit sendiri. Sampai kapan batas waktunya, lebih cepat lebih baik,” katanya sambil mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah sarana yang bisa digunakan warga selama mengungsi.

Mulai dari rumah susun sementara untuk warga yang belum memiliki tanah dan rumah baru serta kendaraan untuk mengangkut barang. “Untuk sampai kapan rusunnya bisa dipakai, silahkan tanya Pemda Kulon Progo,” katanya.

Sementara untuk tanah makam, Angkasa Pura telah berkomunikasi dengan pihak desa untuk menyiapkan lahan relokasi makam. “Sudah ada makamnya, tinggal kesepakan bersama saja dan kapan relokasinya,” katanya. —Rappler.com