Pasca erupsi Gunung Agung, industri pariwisata andalkan kunjungan turis domestik

Bram Setiawan
Pasca erupsi Gunung Agung, industri pariwisata andalkan kunjungan turis domestik
Pelaku industri pariwisata berharap kunjungan turis ke Bali masih mampu menembus angka 50 persen

BALI, Indonesia – Fase erupsi Gunung Agung secara nyata berdampak ke sektor pariwisata Bali. Data dari PHRI Bali, okupansi hunian yang seharusnya berada di kisaran 60 persen di awal bulan Desember, justru malah berkisar 15-20 persen saja.

“Sebelum ada erupsi, menjelang Natal dan perayaan Tahun Baru, tingkat hunian terus naik mencapai 80 persen. Wisatawan baik dari luar negeri dan domestik ramai-ramai berkunjung ke Bali. Namun, untuk tahun ini, kami berharap masih bisa menembus angka 50 persen,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati yang ditemui pada Rabu, 6 Desember.

Pria yang akrab disapa Cok Ace itu mengatakan saat ini memang ada beberapa hotel yang tingkat okupansi hotel mencapai 60 persen. Jika tidak ada lagi pembatalan pemesanan hotel, ia optimistis angka itu masih bisa naik.

“Tetapi, itu semua kan bergantung kepada aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Airport yang sempat ditutup itu yang menyebabkan (pariwisata) merosot,” kata dia.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai ditutup pada Senin, 27 November 2017, pukul 07.15 Wita, karena terjadi erupsi Gunung Agung. Adapun pada Rabu, 29 November pukul 15.00 Wita, aktivitas bandara kembali dibuka.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), fase erupsi Gunung Agung dimulai pada 21 November pukul 17.05 WITA. Saat itu, ditandai semburan abu vulkanik setinggi 700 meter di atas puncak. Erupsi kembali terjadi pada 25 November pukul 17.20 WITA dan mencapai ketinggian 1.500 meter di atas puncak.

Sementara, pada 26-27 November erupsi terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 3.000 meter di atas puncak. Pada 28 November erupsi Gunung Agung terjadi dengan ketinggian kolom abu mencapai 4.000 meter. Sedangkan saat erupsi pada 29 November, abu mencapai ketinggian 2.000 meter.

Menurut Cok Ace fase erupsi Gunung Agung yang tidak bisa diduga membuat dia belum bisa memprediksi agar okupansi hotel tidak terus merosot. Merujuk data pada 2016, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali mencapai 5 juta.

Sementara, penerbangan domestik ke Bali berkisar 11 juta orang. Walaupun menurut Cok Ace, angka itu bukan keseluruhan wisatawan domestik.

“Saya berasumsi (jumlah) wisatawan domestik sama dengan asing (mencapai) 5 juta (orang). Harapan saya (wisatawan) domestik ini masih bisa ke Bali, maka (tahun ini) Bali masih tertolong,” katanya.

Ia menambahkan untuk kunjungan jumlah wisatawan pada bulan November dan Desember setidaknya sudah mencapai 600 ribu. Sementara, pada bulan Oktober 2017 kunjungan wisatawan mancanegara sudah berjumlah 5 juta.

“Ekspektasi kami wisatawan mancanegara tahun ini mencapai 5,6 juta,” tutur dia.

Cok Ace menjelaskan jumlah kunjungan wisatawan menjelang akhir tahun biasanya meningkat pada 20 Desember sampai 3 Januari.

“Itu baru naik, masuk libur Natal dan Tahun Baru,” kata dia.

Namun fase erupsi Gunung Agung yang tidak bisa dipastikan, membuat dia masih belum mau memprediksi.

Sementara, Ketua Associations Of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, I Ketut Ardana, tak menampik menjelang Tahun Baru 2018, sektor pariwisata di Bali merosot. Menurut dia, para wisatawan masih menimbang soal erupsi Gunung Agung.

Ardana berharap para wisatawan tidak hanya fokus pada kondisi Gunung Agung saja. Apalagi, kata dia, setiap tahun baru seluruh obyek wisata di luar Karangasem selalu dipadati wisatawan.

“Kuta, Nusa Dua, Seminyak, dan Bedugul (menjadi) langganan (tujuan) tahun baru. Banyak (wisatawan) yang tahu itu tidak berbahaya karena lokasi jauh dari Gunung Agung,” katanya.

Gunung Agung berada di Kabupaten Karangasem. Saat ini zona bahaya Gunung Agung adalah radius 8 kilometer.

Adapun perluasan sektoral 10 kilometer ke arah Utara-Timur Laut dan Tenggara-Selatan-Barat Daya. Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di luar zona tersebut, Bali masih aman untuk dikunjungi. – Rappler.com

BACA JUGA: