Bincang Mantan: Balikan sama mantan, yes or no?

Ryan Songalia
Bincang Mantan: Balikan sama mantan, yes or no?
Intinya, balikan sama mantan pasangan bukan masalah prinsip iya atau enggak, tapi ke masalah mau berubah atau enggak

JAKARTA, Indonesia — Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Adelia: Never say never

In the words of modern day’s most famous philosopher, Justin Bieber: “Never say never”.

Baru-baru ini, teman saya menikah dengan pacar sejak masa SMP-nya. Mereka tidak berpacaran selama belasan tahun (pacaran apa nyicil KPR sih sampai belasan tahun gitu?), tapi mereka putus-nyambung-putus-nyambung seperti lagu BBB, bahkan beberapa kali diselingi pacar lain, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.

Teman saya yang lain juga seperti itu, tapi tidak berakhir di pernikahan – untungnya, berakhir di kesadaran kalau pasangannya itu mungkin selamanya tidak akan pernah berubah. Kesalahan yang sama akan diulang berkali-kali, dan akhirnya akan ribut, putus, nyambung, ribut, begitu saja terus sampai Blink 182 reuni lagi.

Intinya, balikan sama mantan pasangan bukan masalah prinsip iya atau enggak, tapi ke masalah mau berubah atau enggak. Kalau kata buku-buku motivasi, cuma orang bodoh yang melakukan usaha yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Ya itu, sebenarnya asal keduanya mau instrospeksi diri dan mencoba berubah, menurut saya tak ada yang salah mencoba lagi.

Time heals almost everything and changes everything. Mungkin kali ini timing-nya lebih cocok, mungkin kali ini dua-duanya sudah berada di posisi dalam hidup yang setara, mungkin kali ini keduanya sudah lebih dewasa dalam berperilaku.

People can change, dan mungkin kalau dicoba lagi dengan pendekatan berbeda, hubunganmu bisa berjalan lebih baik di kali kedua ini. Nah, penting sekali untuk membicarakan hal-hal fundamental seperti alasan kalian berpisah, hal-hal yang selama ini dibenci dari satu sama lain, harapan ke depannya, dan masih banyak lagi.

Makanya saya benci sekali sama istilah ‘cinta lama bersemi kembali’ – seakan-akan cinta bisa mengatasi segalanya. Pret. Kalau modal cinta saja cukup, kalian sih enggak akan berpisah kemarin. Kalau cinta tapi enggak ada usaha, apa bedanya kamu punya pasangan beneran dengan kamu berkhayal pacaran dengan Minho?

Satu hal lagi, buat saya, ada dua pengecualian untuk urusan ini: kalau kalian berpisah karena perselingkuhan atau karena pasanganmu main kasar. Saya percaya kedua hal tersebut adalah cerminan sebenarnya dari tabiat dan karakter seseorang. Selingkuh dan berlaku kasar bukan hanya sekadar ‘perilaku’ tapi sesuatu yang sudah terintegrasi di dalam diri sesorang.

Enggak ada istilah ‘khilaf’ atau ‘enggak sengaja’, karena keduanya adalah bukti dari ketidakmampuan seseorang mengontrol diri dan rendahnya ia memandang pasangannya. Dan percaya deh, kemungkinan besar kalau ia pernah ‘kelepasan’ sekali, ia akan ‘kelepasan’ untuk kedua dan ketiga dan keempat kalinya.

Jadi ya, most people can change, but some just can’t, so please be careful before getting yourself into something more.

Bisma : Logika tidak ada kaitannya dengan kebahagiaan

Kalau aja pertanyaan ini dikasih ke saya sebelum tahun 2017, saya dengan gamblang akan bilang “Enggak usah balikan sama mantan.”

Alasannya? Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta yang saya akses tanggal 6 Desember 2017 aja, jumlah perempuan usia 20 sampai 24 tahun ada 464.982 orang, sedangkan pria ada 418.901. Itu baru yang KTP Jakarta, dan dengan rentang usia sesempit itu.

Dari segitu banyak pilihan, masa iya kamu harus balik lagi sama yang hubungannya udah pernah dicoba (terus gagal), dan pernah nyakitin kamu sih? Cari yang lain lah. Her loss, not yours!!

Pada saat itu saya masih menanggapi semua isu dengan logika, pertimbangan, dan berbagai idealilsme yang saya buat sendiri.

Tapi tahun ini terlalu banyak kejadian yang akhirnya mengubah pola pikir saya, dan jawaban saya berubah, menjadi: “Kalau memang balikan akan buat kamu bahagia, ya boleh aja”

Alasan saya berubah haluan sejauh itu salah satunya adalah ini. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terombang-ambing di tengah laut, dengan speedboat kecil yang tidak punya lampu dan GPS plus mesin kapal mati satu karena kena karang. Cuaca sedang kurang baik dan hari sudah gelap. Karena kondisi begitu kami terpaksa pilih jalan memutar melewati laut lepas yang ternyata habitat hiu putih.

Kalau di film, kapal itu sudah pasti kebalik deh dan tinggal tunggu ada superhero yang nolong aja. Oh iya sebagai catatan, saya mengidap thalassophobia (ketakutan terhadap laut). Kebayang kan pikiran saya udah ke mana?

Begitu sudah di darat saya berpikir, kalau tadi Tuhan berkehendak lain, terus kapal kami dibuat terbalik, tamat sudah kisah hidup saya. Tamat sudah semua idealisme saya dan segala rencana jadi sia-sia.

Entah kenapa near death experience itu membuat saya jadi jauh lebih sederhana dalam memandang sesuatu. Saya jadi yakin bahwa hidup ini sebentar dan bisa kapanpun berakhir, jadi selama masih dalam koridornya, have fun aja menjalani hidup. Enggak usah kebanyakan idealisme dan enggak usah semuanya dibawa ribet.

Termasuk untuk urusan mantan.

Iya betul dia sudah jadi mantan kamu, iya dulu kalian pernah nyoba dan gagal, iya dia yang pergi gitu aja waktu kamu lagi sayang-sayangnya, tapi kalo memang kamu yakin balikan dengan dia, atau paling tidak dengan berusaha untuk balikan dengan dia bisa buat kamu bahagia, why not?

Hidup ini intinya mengejar kebahagiaan kan? Saya yakin semua orang punya berbagai idealisme dan aturan dalam hidupnya juga tujuannya supaya nantinya jadi orang yang bahagia.

Tapi kalau idealisme dan aturan itu, yang bahagianya masih di masa depan itu, malah buat kita menafikan kebahagiaan yang sudah konkret di depan mata, berarti idealisme dan aturan itu salah karena seharusnya kita tidak sampai lupa bahwa kita saat ini juga perlu bahagia.

Lagipula, you love who you love. Kamu tidak bisa memilih kepada siapa kamu jatuh cinta, kan?

Memang sih ada ratusan ribu orang di luar sana yang secara logis potensial untuk dijadikan pengganti, tapi kalau hati kamu maunya sama yang sudah nyakitin itu memang salah?

Mungkin orang akan bilang kamu bodoh atau bahasa halusnya mereka bilang “you deserve better”. Tapi coba deh, mana yang lebih bodoh, berusaha denial dan membohongi perasaan sendiri bahkan kemudian nyoba berhubungan dengan orang lain dengan setengah hati, atau bertahan dengan perasaan kamu dan jujur kepada perasaan diri sendiri dengan bonus kebahagiaan yang nyata?

Jika menjadi orang jujur, apalagi jujur pada diri sendiri, dan kejujuran itu berimbas pada kebahagiaan, membuat saya dianggap orang bodoh, so be it!!

Dari dulu saya selalu setuju dengan Agnes Monica bahwa “cinta ini kadang kadang tak ada logika”. Tapi sekarang saya berani untuk menyatakan bahwa pernyataan itu kurang tepat.

Cinta terkait erat dengan kebahagiaan, dimana kebahagiaan adalah suatu perasaan. Perasaan, bagaimanapun caranya tidak bisa disandingkan dengan logika. (Secara logika orang kaya raya harusnya bahagia, tapi apakah mereka semua bahagia? Tidak)

Jadi menurut saya pernyataan yang tepat adalah “cinta tidak pernah ada kaitannya dengan logika”. Secara logika ada ratusan ribu orang di luar sana yang berpotensi bisa buat saya bahagia. Tapi secara perasaan, mungkin kebahagiaan saya hanya ada di satu orang itu. Iya, orang itu, orang yang kebetulan sudah jadi mantan itu.

Kalau sudah begitu, masih yakin mau mengharamkan balikan sama mantan? Kalau saya sih lebih baik dianggap orang bodoh ya daripada jadi orang yang tidak bahagia.

—Rappler.com

Adelia adalah mantan reporter Rappler yang kini berprofesi sebagai konsultan public relations, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.

 

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.