Indonesia

Menanti bioskop Islami di bumi Aceh

Habil Razali
Menanti bioskop Islami di bumi Aceh
Paska tsunami 2004, bioskop hilang bak ditelan ombak. Sampai hari ini tak ada bioskop berdiri di Banda Aceh

BANDA ACEH, Indonesia — Jam baru saja menunjukkan pukul 20:05 WIB saat ratusan muda-mudi Kota Banda Aceh berdiri mengular di halaman Gedung Taman Budaya, Banda Aceh, Sabtu malam, 9 Desember 2017.

“Ingin nonton film bang,” kata salah seorang warga kepada Rappler. Ia harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebelum bisa masuk ke gedung dan menikmati suguhan gratis ini.

Di dalam gedung, sebuah layar lebar terpampang di depan. Deretan kursi diatur sedemikian rapi. Warga yang ingin menonton terus berdesak masuk. Namun laki-laki dan perempuan dipisahkan.

Alunan musik terdengar perlahan dan bertambah keras. Tak lama kemudian, semua lampu dalam gedung dipadamkan. Suasana berubah menjadi gelap.

Secara perlahan, layar lebar mulai menyala diiringi musik pembuka sebuah film. Penonton senyap, hanya suara film yang terdengar semakin keras.

Malam itu, film yang diputar adalah film nasional ’Night Bus’. Pemutaran film ini merupakan satu dari rangkaian acara Aceh Film Festival (AFF) 2017 yang digelar 8-10 Desember 2017.

Ratusan warga antusias menyambut festival film ini, meskipun Gedung di Taman Budaya Banda Aceh sejatinya bukan gedung bioskop, melainkan hanya gedung biasa yang disulap menjadi tempat pemutaran film. 

Semenjak tsunami melanda Aceh pada 2004, bioskop ikut tenggelam dan seakan tidak dapat dibangkitkan lagi hingga kini. 

Sejumlah film lokal Aceh dan nasional dipertontonkan di sana. Festival tahunan ini sebagai tempat untuk menampilkan dan mengapresiasi karya-karya sineas muda Aceh. Ajang promosi film ini pertama sekali digelar pada 2014 lalu di tempat yang sama.

“Acara ini digelar sebagai apresiasi untuk sineas muda Aceh, nasional dan internasional. Kita melihat perkembangan teman-teman komunitas film di Aceh terus meningkat,” kata Direktur Festival Film Aceh 2017, Jamaluddin Phonna (26) kepada Rappler, 9 desember 2017.

Menurut Jamal, sudah sepantasnya AFF menjadi tempat untuk sineas muda Aceh yang sedang menggeliat. Apalagi tidak adanya bioskop di Aceh, membuat dunia perfilman Aceh berjalan sangat perlahan. “Di sinilah kita dapat memutarkan karya-karya mereka,” ujarnya.

Presiden AFF 2017, Fauzan Santa (41), mengatakan festival ini secara khusus dilaksanakan oleh sineas-sineas muda Aceh yang tergabung dalam beberapa komunitas film. Mereka mencari film-film terbaru di bioskop sebagai alternatif pengganti bioskop di Aceh.

“Kita cari film-film terbaru di bioskop, kita putar di sini. Kita buat seperti bioskop lah,” kata Fauzan.

Perfilman di Aceh, kata Fauzan, dalam beberapa tahun belakang ini mulai menggeliat. Meskipun pelan, namun dirinya memastikan akan terus meningkat. “Kita butuh energi, teman-teman yang punya vitalitas tinggi,” ungkapnya.

Fauzan juga mengatakan ke depannya akan dibentuk sekolah film di Aceh. Namun ia sedikit prihatin dengan tidak adanya bioskop di Aceh. Menurutnya, bioskop ialah sebuah perangsang agar menghasilkan karya-karya baru.

“Saat orang menonton dengan suasana yang luar biasa seperti di bioskop, semangat sineas-sineas muda ini akan bangkit,” jelas Fauzan.

Refleksi

Aceh Film Festival 2017 mengusung tema refleksi. Tema ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali dunia perfilman di Aceh. Paska tsunami 2004, bioskop hilang bak ditelan ombak. Kehausan warga Aceh akan bioskop, terlihat dengan banyaknya antrian saat menonton bioskop sulapan.

“AFF ini sebenarnya sebuah bukti, bahwa adanya kehausan penonton film di Aceh, yang memang sesudah tsunami tidak lagi merasakan sinema di Aceh,” kata Jamal.

Saat ribuan penonton hadir menyesaki gedung, refleksi adanya bioskop di Aceh terlihat kembali. Meskipun begitu, Jamal mengaku tidak mampu menyamakan kondisi gedung yang terbatas itu dengan bioskop.

“Kita tidak mampu menyamakan saat film nasional datang ke sini, memang karena keterbatasan teknis,” kata Jamal. Memang karena keterbatasan itu, beberapa dialog film tidak terdengar baik oleh penonton.

Hingga hari kedua AFF digelar, Fauzan mengatakan refleksi yang diharapkan ternyata tidak sepenuhnya tercapai. 

Belum terbiasanya warga Aceh menonton film layaknya di bioskop membuat mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya memang telah dilarang. Misalnya, memotret saat film diputar atau pun berbisik yang dapat mengganggu penonton lain.

“Itu akibat kita sudah lama tidak menikmati tontonan yang memiliki kualitas emosional dan dramatik yang bagus,” kata Fauzan. “Saya kira kita harus banyak memutarkan film seperti ini di tempat yang bagus.”

Bioskop Islami 

Wacana untuk membentuk bioskop di Aceh berulang kali diutarakan oleh sineas muda. Ia pun bagaikan sebuah angan yang timbul tenggelam. Kerap kali, wacana ini dibenturkan dengan aturan syariat Islam yang berlaku di Aceh.

Fauzan Santa membantah bioskop tidak sesuai dengan nilai syariat Islam. Ia menjelaskan bahwa bioskop sebenarnya mengajarkan hal-hal yang paling sederhana.

“Misalnya tidak boleh ribut, tidak boleh ini itu, tidak boleh merekam,” kata Fauzan. Menurutnya, kehadiran bioskop sangat kompromistis dengan nilai kebudayaan Islam di Aceh.

Karena Islam itukan nilai, kata Fauzan, selebihnya adalah kebudayaan Islam yang berbeda di setiap wilayah.

“Kebudayaan itukan berbeda di setiap wilayah. Saya kira masih bisa didialogkan, seperti tempat penonton laki-laki dan perempuan dipisah, film kita sensor, habis-habisan kita potong,” kata Fauzan.

Fauzan memastikan kalau bioskop Islami tidak ada alasan untuk berbuat maksiat. “Saya kira cukup lumayan untuk kita buatkan bioskop Islami di Aceh,” katanya.

Bioskop Islami ini nantinya akan menerapkan nilai-nilai keislaman. Film-film yang diputarkan juga akan bersifat dakwah atau kemanusiaan. “Prinsip Islam itu menutup aurat, kalau masalah baju warna apa itukan suka-suka pemakai.”

Bioskop sebenarnya bukan hal baru di Aceh. Ia punya masa kejayaannya di Kota Banda Aceh pada era 2000-an (sebelum tsunami). Beberapa gedung bekas bioskop itu, kini beralih fungsi menjadi pertokoan atau tujuan lain.

Misal, Sinar Indah Bioskop (SIB) di Peunayong, Jelita Theater di Beurawe, Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh.

“Bioskop hilang di Aceh bukan karena dilarang, tapi dia mati sendiri karena keluarnya televisi dan DVD pada waktu itu. Sekarang kita mau menghidupkan pola itu lagi, apa masalahnya? kita bisa negosiasikan,” kata Fauzan.

“Tidak ada bioskop tidak masalah, asalkan ada Festival Film Aceh,” kata Jamal sembari tersenyum. Festival ini bagaikan sebuah sinar di tengah gelapnya dunia perfilman di Aceh. Ia sebuah energi baru untuk semangat sineas muda Aceh agar terus berkarya.

Malam semakin larut saat penonton berangsur bubar usai film selesai diputar. Kehausan mereka akan bioskop di tanah Serambi Mekkah terbayar lunas. Di hati mereka tersimpan sebuah harap akan hadirnya bioskop Islami di bumi syar’i. —Rappler.com