Bincang Mantan: Apa yang harus dilakukan jika naksir sahabat sendiri?

Dalam berinvestasi ada istilah 'high risk high return'. Memang sih risikonya besar, tapi kalau berhasil pasti hasilnya rewarding kayak Nobita dan Shizuka

JAKARTA, Indonesia —Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius.

Adelia: Jangan kebanyakan takut, deh.

Pacaran dengan sahabat sendiri memang terdengar klise – ibarat plot cerita FTV pagi: gonta-ganti pacar sana-sini, akhirnya sadar kalau sahabatnya selalu menanti selama ini. Fuh. Tapi kan hidup tidak sesimpel dan se-absurd FTV – perjalanan hidup kan enggak beres setelah kamu pelukan saat matahari terbenam.

Entah udah berapa artikel, berapa cerpen yang sudah kita baca tentang plot klise ini, tapi kok ya sampai sekarang masih banyak teman-teman yang nge-galauin hal yang sama? Lah, bukannya study case-nya sudah banyak?

“Iya, study case-nya banyak, tapi kan enggak ada jawaban pastinya kalau naksir apalagi pacaran sama sahabat sendiri itu pilihan yang tepat atau bukan.”

Yah yang namanya hubungan sosial tidak pernah bisa dijawab dengan pendekatan posititivis, berbuat A hasilnya B. Banyak faktor yang berpengaruh yang tidak bisa diprediksi di awal – makanya skripi mahasiswa jurusan sosial sering butuh waktu lama dan penjelasan ngejelimet, semua yang urusannya sama manusia, mah, ribet. Begitu juga dengan masalah hubungan yang ini, karena enggak ada konklusinya, ya berarti kamu harus menimbang-nimbang sendiri untung-ruginya.

Iya, kamu sendiri. Jangan kebanyakan dengerin kata orang kalau masalah ginian – jangan terlalu dengerin saya juga, kenal saja tidak. Cuma kamu yang bisa jujur tentang untung-ruginya, karena kebanyakan orang hanya akan menjawab dengan ‘Uh, so sweet’ atau mendramatisir keadaan – dan malah bikin kamu makin pusing.

Kenapa untung-rugi? Ini kan bukan jualan? Well, saya percaya kalau semua hal yang kita lakukan itu ada untung-ruginya. Kalau kata social exchange theory, hubungan dan perilaku kamu ke orang lain saja sebenenarnya hasil dari perhitungan untung-rugi yang tidak sadar kamu lakukan setiap hari. Nah, tinggal kamu hitung-hitung saja risikonya.

Kalau kata bos saya, risiko itu selalu ada di manapun, dan jangan jadikan itu alasan tidak mau investasi (termasuk dalam hal perasaan) – tapi jangan bodoh juga, pastikan risiko yang kamu ambil itu calculated risk

Kamu siap enggak menghadapi risiko hubungan kalian tidak akan baik-baik selamanya lagi? Kamu siap enggak kalau pacaran tiga bulanmu digantikan kebencian yang bertahan selama setahun? Cuma kamu yang tahu.

Salah satu quote favorit saya dari film lawas Andai Ia Tahu bilang begini, “Kalau punya cinta jangan terlalu dibawa terbang tinggi, sekalinya jatuh sakit!” “Tapi kalau enggak terbang tinggi nanti enggak bisa liat pemandangan indah.”

Ya, itu. Punya sahabat sebagai pasangan kamu is one of the best things in life. You get to skip a whole lot of awkward stages in dating and you get the all-in-one package of lover/bestfriend thing. So, if you think you can manage the risk  and want to take the leap of faith, go for it!

Kalau kata Mama saya sih, jangan kebanyakan mikir, nanti keburu mati. Kata teman saya, minta maaf lebih mudah daripada minta izin. Ya intinya, saya nyaranin kamu untuk mikir-mikir risikonya, tapi jangan kebanyakan mikir juga, nanti enggak maju-maju hidup kamu.

Terus gimana kalau gagal? Yah kan kamu sudah tahu risikonya di awal. Lagipula, time heals almost everything kok, termasuk hubungan baik. Dan kalau ternyata persahabatan kamu enggak bisa diperbaiki lagi? Move on saja. Perasaan nyaman bisa dimanipulasi kok. Nanti kamu juga nyaman lagi sama orang lain.

Bisma : Pacaran dengan sahabat ibarat investasi high risk high return

Saya termasuk orang yang punya banyak sahabat perempuan dan jika ditanya apakah pernah terbersit pikiran untuk naksir sama mereka? Jawabannya adalah tidak.

Sebelumnya mohon maaf untuk sahabat-sahabat saya yang ternyata punya harapan lebih, karena  prinsip hidup dan alam bawah sadar saya sudah mengatur bahwa kita tidak mungkin lebih dari ini (oke ini mulai jijik. Ha ha ha). 

Alasannya sederhana aja, saya percaya bahwa orang bisa balikan sama mantan pacar, tapi jarang ada yang namanya balikan dengan mantan sahabat.

Misal saya punya sahabat yang sudah dekat selama puluhan tahun, terus karena nyaman yang kadang nyaru sama naksir saya iseng coba kasih “proposal” untuk jadi pacar dan diterima. JIka hubungan itu berhasil sampai nikah sih syukur alhamdulillah ya, saya berhasil jadiin sahabat saya partner seumur hidup kayak Nala dan Simba yang sukses beranak pinak memimpin Pride Rock. Tapi kalau gagal? Saya yakin kedekatan puluhan tahun itu tidak ada artinya lagi.

Saya penganut aliran bahwa cinta itu tidak ada kaitannya dengan logika sebagaimana di bahas di artikel sebelum iniYou love who you love. Kalau kamu yakin memang rasa yang kamu rasain itu adalah rasa cinta, bukan sekadar rasa nyaman karena keadaan yang sementara, dan kamu serius, go for it!!

Tapi kalau kamu belum yakin itu perasaan cinta atau cuma sekedar perasaan nyaman (apalagi cuma karena kamu ditemenin terus selama masa galau atau masa menjomblo) lebih baik pikir-pikir lagi deh.

Jangan sampai karena perasaan atau euphoria sesaat kamu malah mempertaruhkan persahabatan yang sudah lama terjalin. Padahal jauh lebih gampang cari pacar dibanding cari sahabat yang tetap stick around selama bertahun-tahun tahun kan?

Memang sih ada kisah langka dimana sepasang mantan pacar bisa berteman lagi, bahkan ada lho yang sampai nulis artikel bareng (tos, Del!!), tapi ini kejadian langka yang butuh kedewasaan dari kedua belah pihak (tos lagi!!) dan bahkan melibatkan orang sekitar yang biasanya lebih “pintar” dibanding yang menjalani.

Yang kembali berteman aja langka dan banyak variabelnya, gimana yang mau jadi sahabat lagi? Mungkin ada yang berhasil, tapi pasti kemungkinannya sangat kecil. Yakin mau coba taruhan pakai persahabatan kamu?

Tapi balik lagi, you love who you love. Kalau yakin yang kamu rasa itu adalah cinta dan mau serius ya monggo aja. Lagipula dalam berinvestasi kan ada tuh istilah high risk high return. Memang sih risikonya besar, tapi kalau berhasil pasti hasilnya rewarding kayak Nobita dan Shizuka, sepasang sahabat yang akhirnya hidup bahagia selama-lamanya.

Tapi kamu perlu ingat, jauh lebih susah cari kisah bahagia pasangan yang bermula dari sahabatan dibanding pasangan yang bermula dari teman biasa atau stranger sekalian kan?

Makanya saya sih tetap enggak mau gambling ya, toh ternyata masih ada jalan alternatif untuk dapat kebahagiaan yang sama dengan risiko yang lebih minim.

Yang aman-aman aja lah. —Rappler.com

Adelia adalah mantan reporter Rappler yang kini berprofesi sebagai konsultan public relations, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.