Perpuseru mentransformasi perpustakaan menjadi tempat meraih mimpi

Fanny Sara
Tersedianya fasilitas perpustaakaan serta internet secara gratis, membuat masyarakat di desa menjadi mudah mendapatkan informasi. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi digunakan sebagai peluang membuka usaha

 Agar masyarakat yang tinggal di daerah ikut merasakan kemajuan teknologi, maka Perpuseru didirikan sebagai tempat belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Foto oleh Fanny Sara/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Tinggal di pusat kota dengan segala kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat penduduk Jakarta sangat mudah untuk mendapatkan segala akses dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mendapatkan akses informasi hingga pendidikan. 

Tetapi hal tersebut belum tentu dapat dirasakan bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, seperti di pedesaan. Sulitnya mendapatkan sarana teknologi informasi dan komunikasi, serta minimnya kehadiran perpustakaan di daerah, membuat Cola-Cola Foundation beserta Bill & Melinda Gates Foundation mendirikan perpustakaan daerah yang diberi nama Perpuseru.

Agar semua masyarakat yang tinggal di daerah ikut merasakan kemajuan teknologi, maka Perpuseru didirikan sebagai tempat belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Semakin banyak membaca maka semakin memiliki wawasan luas. 

Perpuseru menyediakan buku dari berbagai kategori untuk semua kalangan. Tidak hanya membaca buku, Perpuseru juga menyediakan fasilitas internet untuk mempermudah mendapatkan informasi di desa. Kehadiran Perpuseru sangat berarti bagi masyarakat daerah, karena dari sinilah tercipta entrepreneur yang akan menghasilkan inovasi dan transformasi. 

Sulistioningsih, misalnya. Warga Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, ini memanfaatkan kehadiran perpustakaan di daerahnya. Ia membaca buku dan mencari tahu di internet tentang obat herbal untuk menyembuhkan penyakit diabetes yang dialaminya. 

Setelah ia mencari tahu dan membaca buku akhirnya ia melakukan budidaya bawang dayak sebagai obat herbal. Ia pun kemudian menjadikannya sebagai peluang usaha. Setelah mengetahui cara menggunakan internet, Sulistioningsih akhirnya mengembangkan usahanya lewat berjualan secara online di media sosial. 

“Saya menemukan satu buku yang mengulas tentang diabetes, cara menyembuhkan diabetes melalui bawang Dayak,” kata Sulistioningsih saat peluncuran Perpuseru di Senayan National Golf Club, Jakarta, pada pertengahan Desember lalu.

“Suami saya padahal menanam bawang Dayak itu. Tapi saya enggak tahu itu untuk apa. Dari perpustakaan itulah saya jadi tahu. Saya jadi tahu, tanaman ini obatnya untuk apa. Setiap minggu saja selalu mengunjungi perpustakaan.”

Fahrurozzi lain lagi. Ia menggunakan YouTube sebagai sarana belajar di Perpuseru Desa Sandik, Lombok Barat. Ia terus berinovasi mengembangkan usahanya, yaitu pangkas rambut. Melalui layanan internet gratis di perpustakaan, ia belajar tentang teknik-teknik mencukur rambut dan model rambut yang terbaru.

“Bagi saya dengan adanya Perpuseru di Desa Sandik sangat membantu, untuk mengakses YouTube, untuk mengetahui teknik-teknik cara mencukur. Dasar-dasarnya saya sudah tahu, tapi tekniknya belum. Jadi saya lihat YouTube terus saya praktekin,’’ tutur Fahrurozzi

Bagi sebagian orang, perpustakaan mungkin tempat yang sangat membosankan karena ruangannya yang sunyi, tapi bagi Patrick Stevy Kaya perpustakaan adalah tempat rehabilitasi saat ia keluar dari tahanan penjara. Patrick adalah seorang mantan bandar narkoba. Tetapi setelah berkunjung ke Perpuseru ia kini menjadi seorang motivator.  

“Di perpustakaan saya banyak ketemu orang hebat. Banyak hal baru yang saya terima di perpustakaan kota Ambon. Saya belajar untuk mengalahkan ego diri sendiri. Saya baca-baca di media internet gimana caranya jadi pembicara di depan umum. Sekarang dapat banyak tawaran jadi pembicara,’’ kata Patrick.

Jadi, ayo kita mulai dari sekarang kunjungi perpustakaan di daerah masing-masing. —Rappler.com