Menikmati pesona Lut Tawar di Tanah Gayo

Habil Razali
Menikmati pesona Lut Tawar di Tanah Gayo
Waktu yang paling tepat menikmati Lut Tawar ialah di pagi hari. Sebelum matahari terbit, air danau tampak seperti embun

TAKENGON, Indonesia — Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, memiliki banyak sekali pesona wisata. Daerah ini berada di dataran tinggi Gayo. Wilayah Gayo mencakup tiga kabupaten. Di antaranya Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Daerah ini juga dikenal dengan daerah penghasil kopi terbaik.

Selain pengunungan dan kopi, satu dari sejumlah daya pikat wisatawan ke sana ialah Danau Lut Tawar. Sebagian orang menyebutnya Laut Tawar.

Danau ini seluas 5,472 hektare. Panjangnya sekitar 17 km dan lebar 3,219 km. Saya berkunjung ke sana pada Kamis, 11 Januari 2018. Suhu di sana mencapai 14 derajat celcius. Dinginnya membuat badan menggigil. Jaket tebal sangat diperlukan jika berkunjung ke sana.

Danau Lut Tawar menjadi tempat populasi ikan depik. Di bagian pinggir danau, banyak terdapat keramba milik warga setempat. Selain ikan depik, di sana juga dibudidayakan ikan mujair. Dalam bahasa Gayo, disebut ikan mujaher.

Rasanya cukup sehari menikmati pesona Danau Lut Tawar. Saya berkunjung ke sebuah kafe di pinggir danau. Tempat duduknya sedikit terapung di atas air. Di bawahnya keramba ikan meneduhkan pandangan. Air danau sangat tenang dan jernih.

Saya memesan kopi Gayo sambil melihat warga setempat memberikan umpan ikan di keramba. Di tengah danau, warga sedang mengayuh sampan. Sebelah barat danau, tampak Kota Takengon dengan bangunannya seperti tersusun.

Waktu yang paling tepat menikmati Lut Tawar ialah di pagi hari. Sebelum matahari terbit, air danau tampak seperti embun. Di atasnya kabut putih menggantung tidak terlalu tinggi. Pemandangan ini, bisa kita nikmati sekitar 30 menit. Sekira pukul 07:45 WIB, matahari sudah tampak di balik pengunungan yang melingkari danau.

Saat pagi, kita bisa melihat warga setempat yang mengayuh sampan. Mereka mengangkat jaring ikan yang telah dipasang saat malamnya. Ikan yang didapat, tentu depik dan mujair yang populasinya paling besar di sana.

Ketika cuaca sudah agak cerah. Kita bisa naik ke Bur Gayo. Sebuah gunung di tepi danau Lut Tawar. Jalur tempuh ke sana, bisa dilalui roda dua ataupun roda empat. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di sana.

BUR GAYO. Pemandangan kota Takengon dari Bur Gayo. Foto oleh Habil Razali/Rappler

Dari Bur Gayo, pandangan mata seakan tidak bisa berkedip. Danau Lut Tawar tampak sangat luas seperti air laut yang tertampung di antara gunung-gunung. Warna airnya kebiru-biruan. Mungkin inilah alasannya, kenapa danau ini disebut Lut (laut) berair tawar.

Masih di Bur Gayo, di sebelah barat kita bisa melihat kota Takengon. Keseluruhan kota bisa kita lihat dari sana. Di puncak Bur Gayo, terdapat tulisan besar Gayo Higland – Tanoh Gayo. Tulisan ini jika dilihat dari kota, tampak sangat kecil di puncak gunung.

Pantan Terong

Cara menikmati Lut Tawar paling diminati pengunjung jika ke sana adalah dari Pantan Terong. Tempat ini juga berada di atas ketinggian gunung. Berbeda dari Bur Gayo sebelumnya yang berada di selatan danau, Pantan Terong terdapat di sebelah barat danau dan Kota Takengon. Oleh karenanya, sebelum melihat danau, pengunjung lebih dulu memandang kota Takengon.

PANTAI TERONG. Pemandangan dari Pantai Terong. Foto oleh Habil Razali/Rappler

Di banding dengan tempat lain, Pantan Terong merupakan lokasi tertinggi untuk menikmati danau. Dari sana, kita bisa melihat danau secara memanjang. Tapi karena sering tertutup kabut, ujung danau tetap tidak tampak.

Berada di sana, kita seperti sedang di geladak kapal paling besar yang siap berlayar ke danau. “Kita seperti berada di kapal Nabi Nuh yang sangat besar,” kata Juanda, warga setempat yang menemani saya.

Pengunjung dapat menikmati secangkir kopi dari atas bukit ini. Sebab, sebuah kafe yang menawarkan kopi Gayo telah didirikan di sana. Dan suhunya sangat dingin. Selain pemandangan kota dan danau, pengunungan yang hijau dengan puncaknya ditutup kabut juga memanjakan mata.

Menikmati asam jeng

Seusai puas menikmati pesona danau dan kota Takengon dari atas gunung, saatnya menikmati makanan khas Gayo. Namanya, asam jeng. Olahan asam pedas dari ikan mujair ini biasa disajikan dengan nasi.

ASAM JENG. Masakan asam jeng diolah menggunakan tomat, cabai merah, kunyit, bawang putih, dan satu bawang merah. Foto oleh Habil Razali/Rappler

Untuk menikmati asam jeng, kita harus ke daerah One-one, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Di sana, selain asam jeng, juga terdapat ikan bakar khas Gayo.

Masakan asam jeng diolah menggunakan tomat, cabai merah, kunyit, bawang putih, dan satu bawang merah. Semua bumbu dihaluskan, kecuali tomat.

Sementara ikan mujair yang telah dibersihkan diberi air jeruk nipis dan garam untuk menghilangkan bau amis. Selanjutnya lumuri ikan dengan bumbu dan potongan tomat tadi. Terakhir diamkan agar bumbu meresap ke dalam ikan.

Setelahnya, panaskan air secukupnya. Setelah mendidih masukkan daun kemangi dan bumbu-bumbu lainnya. Saat proses dimasak, tidak boleh diaduk-aduk agar ikan tidak hancur. Setelah tercium aroma kemangi dan rempah, asam jeng siap disajikan.

Kota Takengon di malam hari

Malamnya, saya kembali ke Bur Gayo. Karena pesona kota Takengon di malam hari terlihat cantik. Kota Takengon memang tidak memiliki bangunan tinggi seperti di kota-kota besar. Cara menengok pemandangan lampu kota di malam hari ialah menaiki gunung.

Dari atas, lampu kota Takengon tampak indah. Jika beruntung, pengunjung dapat mendengar suara kumandang azan saling bersahutan di setiap masjid. 

—Rappler.com