Bincang Mantan: Mempersiapkan diri kembali ke rutinitas setelah libur Lebaran

Alex Evangelista
Bincang Mantan: Mempersiapkan diri kembali ke rutinitas setelah libur Lebaran
Kembali ke realitas adalah sesuatu yang sangat menyebalkan

JAKARTA, Indonesia — Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius 

Bisma: (Akhir) libur Lebaran adalah waktu paling tepat untuk gaspol

“Setelah berpuasa satu bulan lamanya

Berzakat fitrah menurut perintah agama

Kini kita ber Idulfitri berbahagia

Mari kita ber-Lebaran bersuka gembira”

Lagu bernada mayor dengan vibe bahagia kayak lagu di atas memang sangat pas untuk menggambarkan apa yang kita semua rasain di hari kemenangan. Senang, syahdu, pokoknya pas banget jadi OST waktu kita kembali fitri deh. Tapi udah, lagu ini bernada bahagia cuma sampai Lebaran season aja.

Because no feast lasts forever.

Habis Lebaran, mulai deh kita yang udah biasa bangun siang dan nikmatin kosongnya jalanan ibu kota, harus kembali ke realita yang lebih kejam dari ibu tirinya bawang putih.

Lagu yang cocok untuk jadi OST momen setelah Lebaran mungkin Akhir Cerita Cinta Glenn fredly kali ya.

“Inikah akhir cerita kita

Yang selalu aku banggakan di depan mereka”

Ngaku deh, selama Lebaran pada banggain di socmed kan betapa nikmatnya liburan dan lancarnya jalanan Jakarta? Sayangnya inilah akhir cerita kalian.

Sedih memang, tapi kita harus segera move on dan kerja keras. Qerja lembur bagai quda kalau perlu. Kenapa?

Dengan kita segera all out di sekolah, kampus, atau kantor kita akan one step ahead dari teman-teman (baca: saingan) yang masih dalam mood Lebaran. Jadi kalau memang kamu adalah tipe orang yang selalu pengin jadi yang terbaik, ibaratnya di balapan F1 saingan kita masih di pit stop. Pilihannya ada dua. Antara kamu bisa langsung cuus  ngebut meninggalkan mereka di belakang, atau ya ikutan masuk pit stop yang sebetulnya enggak kamu perluin.

Kalau saya, biasanya momen Lebaran saya manfaatin untuk sedikit “nyombongin” pencapaian dan prestasi yang saya dapat dalam satu tahun, dan buat saya tatapan penuh kebanggaan dan kekaguman dari seluruh keluarga dan kerabat itu tidak bisa dinilai dengan apapun juga. Makanya mumpung tatapan penuh kebanggaan itu masih fresh ada di ingatan, saya pasti akan jadikan itu motivasi dan moral boost untuk kembali coba lakuin hal-hal yang membanggakan.

Kembali ke analogi balapan, booster ini bikin kita punya extra power waktu curi start. Makin jauh ketinggalan lah itu semua saingan kita. Sedangkan kalau kita lanjut malas-malasan dulu, kita pasti udah lupa tuh feel nya dibanggain sama banyak orang. Lewat deh momentumnya. Sayang banget!!

Intinya kalau kamu bisa langsung gaspol setelah liburan, kamu akan punya kesempatan lebih untuk jadi yang terbaik dan bisa dadah dadah sama orang-orang mediocre di sekitar kamu!! Biar gimanapun waktu start terbaik adalah ketika orang lain belum mulai lakuin apa yang akan kamu lakuin, dan kapan lagi orang-orang itu malas-malasan massal selain waktu libur panjang Lebaran? Iya kan?

Nah tapi kalau kalian enggak tertarik jadi the best dan memang puas jadi manusia rata-rata, agak susah juga tuh analogi diatas buat kalian. Palingan pertanyaan saya ganti nih.

Pertama, kalian yakin mau lanjut malas-malasan dan biarin opor, ketupat, rendang, nastar, cake, dan semua makanan yang kalian makan selama weekend Lebaran kemarin mengendap jadi lipatan-lipatan di perut? Kalian boleh deh enggak mau jadi the best tapi kalian pasti mau cakep kan? Kerja keras lah segera!! Ingat, malas-malasan itu adalah katalis dari reaksi perubahan opor menjadi lemak lho!!

Kedua, kalian yakin enggak mau update soal betapa kerennya kalian kerja keras di socmed disaat orang lain masih liburan? Akan dapat banyak likes tuh!! Kesannya workaholic banget, pasti camer bangga. Setau saya camer manapun gak ada yang suka calon mantunya malas-malasan. Menantu material banget enggak sih?

Ketiga? Ah, sepertinya enggak perlu alasan lain. Orang-orang zaman sekarang mah asal cakep terus bisa update pencitraan di socmed apa juga dikerjain, kalau sekadar kerja cincay laaah.

Adelia: Semua ini hanya siklus, nanti juga kamu terbiasa kerja lagi!

Sebagai pekerja, saya paham sekali kalau kembali ke realitas adalah sesuatu yang sangat menyebalkan, termasuk harus kembali ke rutinitas pasca-Lebaran di hari Senin besok — bagi yang liburannya sudah selesai sejak beberapa hari kemarin, sini kukirimkan peluk virtual buatmu! *hugs*

Tapi bagaimana lagi, kan? Semua ini harus dijalani karena satu, jatah cuti sudah menipis (bahkan sudah habis), dua, urusan pekerjaan sudah mulai mengganggu, dan tiga, tagihan kartu kredit sudah minta dibayar.

Bagaimana mengatasi Monday Blues yang pasti akan datang? Kalau saya sih dengan mengumpulkan motivasi dari sekarang. Motivasi untuk apa? Well, untuk mendapatkan dan membiayai liburan selanjutnya. Anggap saja masuk kerja lagi adalah perjuangan untuk menghimpun pundi yang bisa kamu habiskan di liburan panjang selanjutnya, misal: libur akhir tahun, atau, kalau kamu enggak sabaran, untuk libur-libur pendek yang akan segera datang. (Tidak ada salahnya kok, ‘working for the weekends’ – manusiawi kalau kita lebih suka bersenang-senang daripada kerja keras bagai quda, kan?)

Sebagai pemicu, ini saya kasih daftar liburan selanjutnya yang bisa kamu persiapkan dari sekarang: 17 Agustus jatuh di hari Jumat, sehingga ada long weekend; 22 Agustus sudah Idul Adha di hari Rabu; 11 September ada Tahun Baru Islam di hari Selasa; 20 November ada Maulid Nabi Muhammad SAW di hari Selasa; setelah itu ada libur Natal dan Tahun Baru. Beruntung sekali kita tinggal di Indonesia yang punya banyak tanggal merah!

Nah, kalau mau liburan harus ada modalnya, kan? Jadikan ini kesempatan untuk kamu mengumpulkan niat, atau kalau bisa malah untuk mencari penghasilan sampingan – siapa tahu liburan selanjutnya, kamu bisa naik kelas bisnis atau pergi ke Eropa, bukannya cuma ke kota sebelah!

Lagipula, percayalah, sesenang-senangnya kamu liburan, kalau liburannya kelamaan juga bosan. It’s sweet because it’s short. Memangnya otakmu belum merasa bersalah melihat email menumpuk dan pekerjaan yang harus kamu kerjakan Senin besok? Atau memangnya kamu belum bosan seharian hanya memikirkan mau makan apa? Memangnya belum kangen dengan obrolan dengan teman kantor? Yang paling penting, memangnya uangmu belum habis dipakai di liburan ini? (Tenang, bagi penganut mahzab tanggal 25 dan 28, minggu depan kita gajian!)

Seperti kata Mas di atas, kembali ke rutinitas setelah libur lama bisa jadi pemicu kamu untuk lebih maju di bagian kedua tahun 2018 ini.

Mumpung masih ada dua hari di weekend ini, coba deh merenung apa yang sudah kamu lakukan di bulan Januari hingga Juni, dan apa yang belum. Tengah tahun adalah saat yang tepat untuk memikirkan kembali resolusi 2018-mu (yang entah masih kamu ingat atau sudah buang daftarnya).

Selain target, kamu juga bisa merefleksikan kebahagiaan kamu setengah tahun belakangan ini: apakah kamu punya cukup waktu bersama teman dan keluarga, apakah kamu bahagia di kantormu dan dengan kolegamu, apakah sudah waktunya kamu mengejar mimpimu yang lain, apakah komplain ingin resign-mu malah semakin membuncah setelah menikmati libur tanpa tekanan menyebalkan dari bosmu?

Pesan saya, enjoy the peace while it lasts. Jangan terlalu lelah di akhir liburan ini dan kalau bisa istirahat saja lah beberapa hari ini – tapi kalau definisi ‘istirahat’mu adalah party ‘pembukaan’ pasca-Lebaran, ya monggo. Bernapas dengan tenanglah selagi kamu belum dikejar-kejar deadline dan Whatsapp-mu belum diteror bos. Tenang saja, Senin akan datang dengan sendirinya, dan kekagokanmu untuk mulai bekerja lagi juga lama-lama hilang, tergantikan dengan siklus stres deadline, kesenangan saat hari gajian datang, keseruan menyusun liburan selanjutnya, dan keabsurdan dunia kerja yang sebenarnya menyenangkan.

Take a nap, sip some coffee, and prepare for Monday! You’ll be fine!

—Rappler.com

Adelia adalah mantan reporter Rappler yang kini berprofesi sebagai konsultan public relations, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.