Aceh kini dalam bingkai pasca 13 tahun tsunami

BANDA ACEH, Indonesia — Sore hampir berakhir saat Mahzar memasuki gedung Museum Tsunami Aceh, Kota Banda Aceh, pada Jumat, 22 Desember. Dari kejauhan, matanya sudah tertuju ke sejumlah foto berukuran besar yang terletak di lantai dasar museum. Langkahnya dipercepat saat hampir mendekati susunan bingkai foto yang dipajang.

"Indah sekali," kata Mahzar saat melihat sebuah foto pemandangan wisata di Aceh. 

Pandangannya tak berhenti di sana. Sejumlah foto lain ia nikmati tanpa kedipan. "Seperti bukan di Aceh," katanya seolah tak menyangka.

Sore itu, bukan hanya Mahzar, beberapa pengunjung lain juga terkesima dengan puluhan foto yang ditampilkan. Maulinda, misalnya. Perempuan asal Kabupaten Bireuen ini tengah menikmati liburan bersama keluarga di Kota Banda Aceh. Museum Tsunami ialah salah satu destinasi yang dia kunjungi.

"Ada beberapa tempat di foto ini yang bahkan saya belum pernah mendengar apalagi melihatnya," ujar Maulinda sambil memegang sebuah smartphone di tangan kiri untuknya berswafoto. Keluarganya sedang keliling melihat foto di sudut lain.

Pameran sejumlah foto yang memperlihatkan kondisi Aceh masa kini ini sekaligus memperingati 13 tahun gempa dan tsunami Aceh. Pameran digelar sekelompok pemuda dari lintas komunitas dan profesi berlangsung pada 20 hingga 26 Desember 2017.

Sebanyak 200 frame foto tentang alam, manusia, budaya, serta potensi pariwisata Aceh ditampilkan dalam pameran bertema “Aceh Today”. Foto-foto yang dipamerkan tersebut merupakan kiriman dari fotografer yang diabadikan sepanjang 2017 di sejumlah wilayah di Aceh.

Panitia menghadirkan enam orang kurator yang menyeleksi foto di setiap masing-masing kategori. Antara lain, Arbain Rambey (fotografer senior Kompas), Marisa Tanjung Sari (Citilink Magazine), Hotli Simanjuntak (Fotografer EPA), Zulfan Monika (Nature Fotografer), Juliansyah Adji, dan Davi Abdullah (Pilot Drone & filmmaker).

Hasbi Azhar, koordinator pameran, mengatakan sengaja mengusung tema “Aceh Today” dengan harapan foto-foto yang ditampilkan mampu memberi gambaran Aceh hari ini sebagai bahan intropeksi untuk membangun Aceh di masa yang akan datang.

Foto-foto tersebut, kata Hasbi, merupakan hasil karya fotografer atau pencinta foto di Aceh yang telah mengirimkan hasil karyanya kepada panitia.

"Pameran foto Aceh Today kita tampilkan sebagai cermin yang akan memantulkan kembali secuil perjalanan Aceh dari masa lalu ke masa kini,” tutur Hasbi.

Rappler menyusuri setiap sudut foto yang dipamerkan. Dari sejumlah foto memperlihatkan pemandangan wisata pantai yang indah, seakan mengatakan kalau Aceh tidak pernah disapu tsunami. Bahkan, semuanya tampak seperti belum pernah tersentuh tangan manusia.

Di antara ratusan foto dipamerkan, sebuah frame foto esai tampak lebih besar dibanding yang lainnya. Foto itu menggambarkan keseharian warga Aceh dalam melaksanakan ibadah dengan nyaman di masjid.

Di bagian bawahnya memperlihatkan foto tiga turis asing sedang menikmati matahari tenggelam di pantai Aceh. Satu di antaranya ialah turis perempuan. Ia tampak bebas tanpa harus menutup kepalanya dengan hijab.

Foto di sudut paling kanan frame, menggambarkan seorang pelanggar hukum syariah sedang dicambuk. Usai tsunami dan damai, Aceh memiliki keistimewaan menerapkan hukum Islam yang diatur dalam Qanun Jinayat.

Tidak jauh dari frame tersebut, Rappler berjumpa dengan Fahreza Ahmad. Pria berusia 36 tahun itu mengamati setiap pengunjung yang melihat pameran. Foto dalam frame tadi merupakan hasil bidikan dari fotografer berbadan tambun ini.

"Pameran ini untuk menyosialisasikan bagaimana kondisi Aceh saat ini. Mungkin sudah tidak lagi terpuruk dan memberikan gambaran bahwa Aceh sudah benar-benar bangkit," kata Fahreza.

Menurutnya, dengan jumlah dana bantuan sangat besar dari berbagai negara yang masuk ke Aceh pasca-tsunami saat itu, Aceh mungkin bisa lebih maju dari sekarang. "Apalagi ada dana otsus [otonomi khusus],” ujarnya.

Namun, Fahreza memastikan bahwa masyarakat Aceh memang sudah bangkit dari bencana tsunami 2004 ataupun konflik bersenjata. "Meskipun masih ada kekurangan di sana sini," tutur dia.

Saat gempa dan tsunami melanda Aceh pada Minggu, 26 Desember 2004, Fahreza mengaku sedang tertidur di lantai dua rumahnya di kawasan Seutui, Banda Aceh. "Saat gempa terjadi, saya langsung turun ke bawah dan keluar ke halaman depan," kisahnya.

Beruntung, rumahnya yang jauh dari garis pantai tidak terkena amukan air laut. Keluarganya semuanya selamat. Kata "tsunami" pun dia dengar tiga pekan setelah musibah yang menewaskan ratusan ribu jiwa tersebut.

"Saya saat itu masih kuliah. Selama tiga pekan, saya terasa sedih sekaligus bingung melihat mayat tergeletak di mana-mana. Setelah NGO asing masuk ke Aceh, baru dari merekalah saya tau apa itu tsunami," kata Fahreza.

Sejak 2008, ia mulai menggeluti dunia fotografi. Hingga kini, Fahreza mengabadikan setiap momen yang terjadi di Aceh. Terakhir, foto paus yang terdampar di pantai Aceh tayang di sebuah media online di Jakarta.

Malam menjelang. Adzan Maghrib berkumandang dari arah selatan museum. Pengunjung pulang meninggalkan foto Aceh masa kini. Sebuah harap muncul, bahwa Aceh harus terus bangkit. Gempa dan  tsunami telah membersihkan cucuran darah konflik yang mengotori tanah Serambi Mekkah. —Rappler.com