Ketika Al Gore tertarik kepada pendekatan agama untuk climate change

Nana Firman (kanan) menjadi salah satu pembciara dalam forum Climate Reality Project.

DENVER, Amerika Serikat – Al Gore, pemenang hadiah Nobel Perdamaian karena aktivitasnya sebagai penggiat lingkungan dan perubahan iklim, mengundang Nana Firman untuk menceritakan pengalamannya sebagai pemimpin perubahan iklim (climate leader). Al Gore yang juga mantan wakil presiden AS di era Presiden Bill Clinton itu memimpin diskusi panel para pemimpin perubahan iklim dalam acara berjudul The ClimateReality Leadership CorpsTraining yang diselenggarakan awal bulan ini, pada awal Maret 2017 di Denver, Colorado, Amerika Serikat.  “Hal yang menarik adalah bagaimana (mereka) memulai aktivitasnya sebagai penggiat perubahan iklim,” kata Al Gore.

Nana Firman yang menjadi salah satu dari empat pembicara di acara itu memulai dengan menceritakan betapa sulitnya dia menyakinkan masyarakat di Aceh untuk membangun kembali Aceh sesudah bencana gempa dan tsunami Desember 2004, dengan pendekatan yang berkelanjutan (sustainable).  Saat itu Nana bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat asing, World Wildlife Fund (WWF).  “Saya kemudian sadar bahwa masyarakat di Aceh sangat relijius.  Saya kemudian mendekati dengan menggunakan bahasa dan pendekatan yang ada dalam ajaran agama, termasuk menunjukkan ayat-ayat kitab suci yang sesuai.  Ternyata cara ini bisa diterima,” kata Nana.  

Nana Firman, pemimpin perubahan iklim, berbicara dalam The Climate Reality Leadership Corps Training:

Al Gore memuji pendekatan yang dilakukan Nana Firman yang belakangan tinggal di California, AS.  Hadirin bertepuk tangan ketika Al Gore juga menyampaikan informasi bahwa Nana adalah salah satu penandatangan Deklarasi Islam Global  Untuk Perubahan Iklim. Aktivitas Nana sebagai penggiat jaringan masjid hijau ramah lingkungan dan jaringan pemimpin agama untuk perubahan iklim juga membuat Presiden Barack Obama memberikan anugerah sebagai pemimpin untuk perubahan.

“Sekarang adalah saat yang tepat untuk semua pihak untuk melaksanakan aksi perubahan iklim di tingkat lokal, nasional, dan global, dan berbuat baik bagi rumah kita satu-satunya, yaitu Bumi ini,” ujar Nana Firman.

The Climate Reality Project, yang didirikan oleh Al Gore adalah sebuah jaringan global dengan 12.000 relawan climate leaders di 135 negara. Climate leaders adalah sebutan bagi mereka  yang telah memperoleh pelatihan dari Al Gore dan para pakar dalam ilmu dan pengetahuan terkait perubahan iklim, komunikasi, dan cara berorganisasi dalam menghadapi krisis iklim global.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Rappler, Kamis 16 Maret 2017,  Amanda Katili Niode, manajer Climate Reality Project di Indonesia mengatakan kegiatan di Denver bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan akan sains terkini perubahan iklim, solusi masalah perubahan iklim dan komunikasi perubahan iklim yang efektif, di samping juga untuk meningkatkan jejaring di tingkat global.  “Hal lain yang dibahas di Denver adalah pelestarian lahan, energi terbarukan, kerentanan iklim, dan kepemimpinan daerah,” kata Amanda.

Peserta yang hadir di Denver berjumlah 1.000 orang dari 32 negara, mewakili pemangku kepentingan baik dari pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, industri, akademia dan masyarakat.  

Delegasi dari Indonesia berjumlah 10 orang, termasuk Dr. Nurmala Kartini Sjahrir, Penasihat Senior Menteri Koordinator Kemaritiman untuk Perubahan Iklim.  Dalam pertemuan di Denver. Dr. Kartini Sjahrir bertemu dan berdiskusi secara khusus dengan Al Gore sebanyak dua kali. “Saya menyampaikan usaha pemerintah Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim dan usaha konsisten The Climate Reality Project Indonesia dalam peningkatan kepedulian masyarakat. Juga menjajaki peluang untuk mengundang Al Gore ke Indonesia,” demikian Dr. Kartini Sjahrir.

The Climate Reality Project Indonesia sebagai bagian dari The Climate Reality Project didirikan pada 2009 dan kini terdiri dari 300 relawan climate leaders yang telah dilatih Al Gore, diantaranya merupakan pejabat di beberapa Kementerian/Lembaga, DPR, KPK, tokoh agama, pengusaha, rektor dan sivitas akademika, wartawan, profesional di berbagai bidang, maupun aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat. –Rappler.com