5 alasan Djanur memilih mundur dari klub Persib Bandung

BANDUNG, Indonesia - Djajang “Djanur” Nurjaman akhirnya hengkang dari kursi pelatih kepala Persib Bandung. Keputusan itu diambil usai tim besutannya mengalami kekalahan 1-2 saat bertandang ke markas Mitra Kukar di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu, 15 Juli.

Manajemen Persib Bandung pun akhirnya menyetujui keputusan tersebut. Ini bukan kali pertama Djanur mengajukan pengunduran diri. Dia sudah pernah mengajukan pengunduran diri, tetapi ditolak oleh manajemen.

Berikut lima alasan Djanur akhirnya memilih mundur dari tim yang diasuhnya sejak lima tahun ke belakang:

1. Desakan keluarga

Keluarga menjadi alasan Djanur saat menyatakan mundur untuk pertama kalinya. Banyak hujatan dari Bobotoh terhadap dirinya karena belum bisa membawa Persib Bandung sesuai harapan, membuat anak-anaknya sakit hati. Kedua putrinya itu lalu meminta sang ayah mundur sebagai pelatih tim Maung Bandung.

“Yang pasti, awalnya desakan keluarga. Anak-anak saya tiap hari merasa sakit hati dengan hujatan terhadap saya di media sosial,” kata Djanur saat dihubungi Rappler pada awal Juni lalu.

2. Tak bisa dongkrak performa tim

Persib Bandung sempat menduduki puncak klasemen di awal musim Liga 1 Gojek Traveloka 2017 bergulir. Namun kini, posisinya melorot hingga ke posisi 12.

Dari 15 kali bermain, tim Pangeran Biru hanya mampu memenangkan 5 kali pertandingan, sisanya 5 kali draw, dan 5 kali kalah.

Performa tim yang terus menerus mengecewakan, membuat pelatih berusia 52 tahun itu menyerah. Djanur kemudian dengan bulat menyatakan mundur.

“Kali ini saya betul-betul tidak bisa mengangkat performa tim,” ujar Djanur yang sempat menjadi pelatih magang U-19 di Inter Milan ini.

3. Bentuk tanggung jawab

Saat menyatakan mundur untuk kedua kalinya di Tenggarong Kutai Kartanegara, Djanur menyatakan, ada kemungkinan salah perencanaan dari awal, terkait kondisi Persib saat ini. Ia merasa menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal itu.

Djanur juga mengaku bertanggung jawab atas kesalahan memilih striker. Seperti diketahui, Carlton Cole yang dibeli Persib Bandung, sejauh ini belum memberikan kontribusi positif bagi tim.

“Faktor yang mencolok dari kesalahan yang saya buat, saya tidak bisa menghadirkan sosok striker yang dibutuhkan tim. Dua striker yang ada, semuanya tidak bisa dimainkan. Yang satu cedera (Sergio van Dijk), yang satu di luar ekspektasi (Carlton Cole),” ungkap Djanur.

“Semua itu bukanlah tanggung jawab siapa-siapa, tapi tanggung jawab saya sebagai pelatih. Dalam rekrutmen, itu semua tanggung jawab pelatih,” ujarnya.

4. Ingin beristirahat

Sebenarnya, saat Djanur menyatakan mundur untuk kali pertama, ia sudah mengatakan ingin beristirahat sejenak dari kariernya sebagai pelatih. Namun, bukan berarti ia akan menghilang sepenuhnya dari dunia sepak bola. Ia mengaku masih tetap ingin menggeluti dunia si kulit bundar itu.

“Ingin istirahat sejenak, menenangkan diri dulu. Tapi tetap akan berkontribusi untuk sepak bola. Mungkin saja (jadi pelatih klub lain),” katanya.

5. Demi menyelamatkan Persib

Namun di atas itu semua, pengunduran diri Djanur semata-mata “demi menyelamatkan Persib”. Alasan itu pula yang menyebabkan manajemen tidak bisa lagi menolak keinginan pelatih yang juga mantan pemain Persib Bandung itu.

“Sebenarnya Pak Djajang juga mengatakan sama-sama untuk menyelamatkan Persib,” kata Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar pada Minggu, 16 Juli.

Dia mengatakan manajemen sudah tidak lagi memiliki pilihan lain, sebab hati Djanur pun terlihat jelas sudah tak lagi berlabuh di Persib.

“Saya juga mengerti perasaan Pak Djajang dalam situasi seperti ini,” kata dia. - Rappler.com