Aspirasi anak muda Jakarta kepada calon pemimpin mereka

 

JAKARTA, Indonesia — Bagaimana peran anak muda dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia? Tentunya, sebagai warga negara, mereka memiliki peran, hak, dan kewajiban yang sama dengan orang dewasa sekalipun.

Namun dalam Pilkada DKI Jakarta tahun ini, para pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur (cagub-cawagub) tampak kurang memberi perhatian yang cukup kepada anak-anak muda di ibu kota. Padahal menurut Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta, jumlah pemilih muda dengan rentang usia 17-30 tahun ada lebih dari 1,9 juta jiwa atau 27,3 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Tentu, bukan jumlah yang patut dipandang sebelah mata, bukan?

“Konten soal anak muda menurun [dalam Pilkada kali ini] jika dibandingkan dengan Pilpres [Pemilihan Umim Presiden] beberapa tahun lalu. Kami sangat concern soal ini, dan itu sebabnya kami mengadakan kegiatan ini,” kata Iman Sjafei, kata satu dari 2 orang YouTuber yang tergabung dalam Asumsi, yang kerap mengadakan web show tentang isu perpolitikan nasional dari sudut pandang anak muda. 

Bersama Yayasan Sinergi Muda, Asumsi mengadakan acara bertajuk “Dengerin, Dong! Anak Muda Bicara Pilkada DKI” pada Rabu, 8 Februari, di restoran Es Teler 77, Jakarta Selatan, pada 8 Februari. Acara ini bertujuan untuk melihat rencana setiap pasangan calon dalam mengakomodir kebutuhan dan hak anak muda di Jakarta ketika sudah terpilih kelak. 

Kegiatan diskusi ini mempertemukan panelis-panelis muda dari berbagai latar belakang dan profesi dengan perwakilan dari setiap pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta. 

Acara dibagi dalam 3 segmen, yaitu:

Perwakilan tim sukses cagub-cawagub DKI Jakarta dalam acara u0022Dengerin, Dong!u0022 pada 8 Februari 2017 (kiri ke kanan): Anggawira (Anies-Sandi), Michael Sianipar (Ahok-Djarot), Rizki Aljupri (Agus-Sylvi). Foto dari Twitter/@PangeranSiahaan

Perwakilan tim sukses cagub-cawagub DKI Jakarta dalam acara u0022Dengerin, Dong!u0022 pada 8 Februari 2017 (kiri ke kanan): Anggawira (Anies-Sandi), Michael Sianipar (Ahok-Djarot), Rizki Aljupri (Agus-Sylvi).

Foto dari Twitter/@PangeranSiahaan

Adapun perwakilan tim sukses masing-masing calon yang hadir pada kegiatan ini adalah Rizki Aljupri (Agus-Sylvi), Michael Sianipar (Ahok-Djarot), dan Anggawira (Anies-Sandi).

Pertanyaan dan gagasan panelis dalam diskusi ini sangatlah luas dan segar untuk didengar. Sebagai contoh, Rozinul Aqli, panelis mahasiswa pasca sarjana dari The American University di Kairo, mengomentari kemacetan di Jakarta dari perspektif yang berbeda dari umumnya. 

“Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan pengembangan transportasi massal mampu mengurangi kemacetan. Menurut saya, ini [macet] terjadi karena kebanyakan pekerja merupakan commuter dari wilayah pinggiran Jakarta. Kalau mau mengurangi macet, dekatkan pekerja dengan tempat kerjanya [pusat kota],” kata Rozinul. 

Panelis lain yang juga mengutarakan pendapat adalah Anisa Rahmania, ketua Young Voice Indonesia, sebuah organisasi masyarakat yang beranggotakan orang-orang dengan disabilitas. 

Annisa memberi contoh dirinya yang tuli dan mendapati hanya sedikit halte yang menggunakan teks penanda untuk orang tuli. 

“Teman-teman tuli masih butuh teks. Tapi masih banyak halte dan bis yang tidak ada teksnya. Masih banyak hambatan beraktivitas [bagi teman-teman tuli],” kata seorang penerjemah yang menuturkan pendapat Annisa. 

Tidak hanya soal transportasi ataupun fasilitas bagi kaum disabilitas. Diskusi juga membahas tentang masalah pendidikan, terutama soal pemuda yang enggan berprofesi menjadi guru. Ada pula tema reformasi agraria, co-working space, dan industri kreatif bagi anak-anak muda yang turut dibahas oleh para panelis. 

Menanggapi segala bentuk pendapat dan pertanyaan panelis, perwakilan dari setiap paslon memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ketika membahas macet, sebagai contoh, Anggawira menganggap kemacetan bisa terjadi karena etika pengemudi ataupun karena keterbatasan rute transportasi massal yang kurang efektif. 

Sementara itu, Rizki menganggap macet terjadi karena konektivitas antara satu angkutan ke angkutan lain tidak tertata dengan baik. Lain halnya, Michael berpendapat untuk mengatasi macet, permasalahan ekonomi harus lebih dulu diselesaikan. 

Pada sesi ketiga yang memungkinkan peserta diskusi bertanya, muncul berbagai tema yang luput dibahas pada awal diskusi, seperti tentang Abang-None Jakarta.

“Seharusnya yang menjadi Abang-None bukan hanya dijadikan maskot, tetapi juga digunakan brain-nya untuk turut serta membangun Jakarta,” tutur salah seorang peserta diskusi. 

Ada juga yang mengomentari masalah administrasi di DKI Jakarta yang kurang maksimal. 

“Kalau saya kerja, perusahaan jelek ngurusnya saya bisa pindah [kerja]. Tapi kalau soal KK [Kartu Keluarga], pejabatnya [ngurusny]  jelek, saya kan enggak bisa pindah kelurahan,” sahut salah satu peserta lain.

Acara diskusi ini kemudian ditutup dengan penandatanganan “Wall of Inspiration” yang berisi harapan seluruh peserta diskusi oleh setiap perwakilan pasangan calon. Ini merupakan simbolisasi dari janji mereka untuk merealisasikan hak-hak anak muda ketika sudah menjabat nanti. —Rappler.com