Bank Dunia: Kebakaran hutan dan pengangguran hambat pertumbuhan ekonomi 2015

JAKARTA, Indonesia — Bank Dunia mengungkapkan bahwa terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta perlambatan dalam penciptaan lapangan kerja baru telah menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015. 

Kebakaran hutan dan lahan yang beberapa waktu lalu melanda sejumlah wilayah di Tanah Air telah menimbulkan kerugian sebesar Rp 221 triliun atau setara 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Kebakaran hutan & asap tahun ini bawa kerugian 1,9% PDB ~Ndiame Diop, Ekonom Kepala Bank Dunia di Indonesia #EkonRI pic.twitter.com/US7doK9iZj — World Bank Indonesia (@BankDunia) December 15, 2015

Sementara itu jumlah pengangguran terbuka tumbuh 0,3 persen dari dari 5,9 persen pada 2014 menjadi 6,2 persen pada 2015.

Melambatnya pertumbuhan Indonesia akibatkan naiknya angka pengangguran ~Ndiame Diop #EkonRI pic.twitter.com/m1GqxrGFCS — World Bank Indonesia (@BankDunia) December 15, 2015

Data-data ini terungkap dalam peluncuran laporan kinerja perekonomian Indonesia "Indonesia Economic Quarterly" Bank Dunia edisi Desember di Jakarta pada Selasa, 15 Desember.

Mempertimbangkan situasi ini, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi oleh Bank Dunia akan berada pada 4,7 persen untuk 2015. Sedangkan proyeksi untuk tahun depan lebih positif, yaitu 5,3 persen.

Salah satu faktor pendorong yang berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 lebih baik adalah dampak dari tujuh paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan sejauh ini.

"Momentum reformasi telah memicu tujuh paket kebijakan ekonomi. Bila diimplementasikan secara efektif, paket kebijakan dapat mendorong investasi swasta," kata ekonom utama Bank Dunia di Indonesia, Ndiame Diop, Selasa. 

Pertumbuhan investasi akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. 

Selain itu, perubahan dalam struktur Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) yang ditandai dengan naiknya nilai belanja pemerintah dan turunnya nilai subsidi juga dinilai dapat memberikan positif bagi perekonomian Indonesia. 

Belanja publik yg lebih tinggi mendukung pertumbuhan kuartal ke-3 2015 ~Ndiame Diop #EkonRI pic.twitter.com/C0Db68ZfVI — World Bank Indonesia (@BankDunia) December 15, 2015

Sudah ada perbaikan komposisi belanja pada Anggaran 2016. Tapi semua tergantung implementasi ~Ndiame Diop #EkonRI pic.twitter.com/RbZTZfXiIq — World Bank Indonesia (@BankDunia) December 15, 2015

Ekonom: Pemerintah harus jadikan kejadian pada 2015 pelajaran

Dalam menghadapi 2016 yang sudah di depan mata, pemerintah harus belajar dari apa yang terjadi dengan perekonomian Indonesia pada 2015. 

"Seperti kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan akhirnya menimbulkan dampak ekonomi yang negatif, itu kan bukannya tidak diprediksi. BMKG sudah memprediksi sejak 2014," kata ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal kepada Rappler, Selasa. 

Terkait jumlah pengangguran yang meningkat, Fithra menyarankan agar pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur sebagai solusi. 

"Soal pengangguran ini kombinasi dari faktor eksternal dan internal. Internal misalnya terkait biaya produksi perusahaan seperti biaya energi dan biaya impor.

Ke depan pemerintah harus mendorong pembangunan infrastruktur untuk membuat struktur biaya produksi pelaku usaha menjadi semakin efisien," ujarnya.

Rappler.com

 BACA JUGA: