Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Bank Indonesia: Tidak ada gambar palu arit pada pecahan Rp100.000

JAKARTA, Indonesia — Bank Indonesia (BI) mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada lambang palu arit pada uang kertas pecahan Rp100.000 yang baru.

Melalui pernyataannya di Jakarta, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Arbonas Hutabarat menegaskan bahwa yang dikira masyarakat merupakan tanda palu arit, ternyata adalah logo BI yang dikemas dalam teknik rectoverso —suatu teknik pengamanan yang telah digunakan bank sentral itu sejak 1995.

"Rectoverso tidak dirancang untuk membentuk atau dimaknai sebagai gambar atau simbol lain, selain lambang Bank Indonesia," kata Arbonas pada Minggu, 13 November.

Sebelumnya, beredar penafsiran di beberapa kalangan masyarakat di media sosial mengenai rectoverso atau gambar dengan teknik saling isi pada uang kertas Rp100.000 sejak Jumat, 11 November, pekan lalu. Di media sosial, terutama Facebook, gambar itu ditafsirkan sebagai gambar palu dan arit, yang dikenal sebagai simbol komunisme. 

"Informasi atau penafsiran itu tidak benar," kata Arbonas.

Ia menjelaskan rectoverso merupakan unsur pengaman dalam fisik uang agar mudah dikenali keasliannya dan tidak bisa dipalsukan.

Untuk melihat gambar utuh dalam rectoverso, uang harus diterawang. Jika diterawang, gambar rectoverso dalam uang Rp100.000 tersebut akan menampilkan logo Bank Indonesia.

Namun, jika dilihat tanpa diterawang gambar akan terlihat seperti ornamen yang tidak beraturan.

Selain pada pada uang kertas rupiah, unsur pengaman rectoverso juga digunakan negara-negara lain seperti pada uang kertas ringgit Malaysia yang membentuk ornamen bunga, dan uang kertas euro yang membentuk ornamen nilai nominal.

"Dengan memahami unsur-unsur keamanan dalam uang, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengenali keaslian rupiah dan tidak mudah terprovokasi informasi yang belum jelas sumber beritanya," katanya. —Antara/Rappler.com