Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Bintang-bintang dunia dalam sepak bola Indonesia

JAKARTA, Indonesia — Keberhasilan Persib Bandung memboyong mantan gelandang Chelsea, Michael Essien, membuat publik sepak bola dunia terkejut. Pasalnya, Essien masih berpeluang melanjutkan karir di Eropa setelah mendapatkan tawaran dari klub Turki. Namun pemain berusia 34 tahun itu memilih Persib.

Essien mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi katalisator atau pintu masuk bagi pemain-pemain berkelas dunia untuk menjajal basahnya rumput Indonesia. Yang pasti, kehadiran Essien tak hanya akan mendongkrak popularitas Persib tapi juga sepak bola Indonesia.

Namun Essien bukan pemain top pertama yang merumput di tanah air. Kami menelusuri jejak pemain-pemain dunia yang pernah menjejakkan kaki di sini dan menemukan setidaknya ada 13 pemain. Berikut nama-nama pemain tersebut:

Fernando Gaston Soler (Penyerang, Argentina)

Fernando Gaston Soler. Foto diambil dari wikipedia

Fernando Gaston Soler.

Foto diambil dari wikipedia

Fernando Soler pertama datang ke Indonesia untuk memperkuat Persipura Jayapura pada 2004 setelah merasakan atmosfer sepak bola Korea Selatan bersama Jeju United. Sebelum bertualang ke Asia, Soler pernah membela beberapa klub terkenal di Argentina, seperti CA Lanus, dan Arsenal de Sarandi. Bukan hanya itu, bersama Lanus, Soler berhasil menempati peringkat dua liga, dan masuk final Copa CONMEBOL -kompetisi antar klub Amerika Selatan yang kini dikenal sebagai SudAmericana-.

Richard Knooper (Gelandang, Belanda)

 Foto: wikipedia

Belajar sepak bola di Feyenoord dan Ajax Amsterdam, Knooper merasakan masa-masa terbaiknya di Belanda. Ia merasakan gelar juara Eredivisie bersama Ajax pada 1997/98, bermain di kompetisi sekelas Intertoto, UEFA Cup, dan Champions League, dan setelah membantu ADO Den Haag kembali ke Eredivisie, Knooper berlabuh di Makassar untuk membela PSM.

Pascal Heiji (Gelandang, Belanda)

Sama seperti Knooper, Heiji datang ke Indonesia di masa-masa dualisme liga, pemain kelahiran Amsterdam ini dikontrak oleh klub asal Pulau Dewata, Persires Bali Devata. Karir Heiji semasa di tanah kelahirannya tidak semengkilap Knooper, tapi Ia tetap saja termasuk salah satu pemain bersejarah di NEC Nijmegen, karena dirinya masuk dalam skuad yang membawa NEC masuk UEFA Cup untuk pertama kalinya pada 2003/04.

Ahn Hyo-Yeon (Penyerang, Korea Selatan)

Foto: Sportalkorea

Ahn Hyo-Yeon merupakan langganan tim nasional Korea Selatan mulai dari kelompok umur di bawah 20 tahun (U-20) hingga senior. Pada 2010, Ahn hijrah ke Indonesia mengenakan seragam Persela Lamongan. Statusnya saat itu adalah mantan pemain tim nasional senior Korea Selatan, yang tampil dalam ajang Piala Konfederasi 2001, dan CONCACAF Gold Cup 2002, bersama Si Tiga Paru-Paru, Park Ji-Sung. Semusim di Persela, Ahn kemudian bertahan di Indonesia hingga 2014, membela Bintang Medan, PSMS, dan Lampung FC dalam perjalanannya.

Emile Mbamba (Penyerang, Kamerun)

Foto: Goal

Emile Mbamba pernah membela salah satu kuda hitam Belanda, Vitesse, sebelum klub tersebut berhubungan dengan Chelsea seperti saat ini. Main di Arnhem, Mbamba merasakan berbagai pencapaian, mulai dari kompetisi antar klub Eropa, hingga tekanan degradasi. Hengkang dari Vitesse, Mbamba kemudian hengkang ke raksasa Israel, Maccabi Tel-Aviv, dan tiga tahun kemudian, Ia berseragam Arema Malang. Mbamba bak jatuh cinta kepada Indonesia, selain Malang, dirinya juga pernah menetap di Bontang, Surabaya, Sleman, Bantul, hingga Palangkaraya.

Sam Ayorinde (Penyerang, Nigeria)

Ayorinde merupakan seorang petualang, Ia menjalani karirnya dari Nigeria, ke Tunisia, Austria, Inggris, Swedia, hingga Israel. Tak heran jika pada akhirnya mantan pemain tim nasional Nigeria ini terdampar di Indonesia. Ia tiba di tanah air setelah didatangkan Persija Jakarta pada 2006, meski hanya semusim bersama tim ibu kota, perlu diingat bahwa tiga tahun sebelum ke Indonesia, Ayorinde tergabung di salah satu klub terbesar Swedia, AIK, yang merupakan langganan UEFA Cup.

Leontin Chitescu (Gelandang, Romania)

Chitescu datang ke Indonesia setelah dirinya terlempar dari CFR Cluj, kalian mungkin pernah mendengar klub ini sebagai salah satu kejutan Eropa yang mengalahkan klub sekelas Manchester United. Akan tetapi, sebelum CFR Cluj jadi langganan kompetisi Eropa, mereka hanyalah tim papan tengah di Romania. Cluj bangkit pada 2005, musim pertama Chitescu bersama mereka, saat itu klub ini berhasil menempati posisi lima klasemen akhir Liga Romania.  

Sayangnya, meski berhasil mencetak tujuh gol, Chitescu diasingkan ke Unirea di musim berikutnya. Inilah yang membuat Chitescu akhirnya meninggalkan Cluj, dan bergabung dengan PSM Makassar. PSM menjadi klub pertama Chitescu di Indonesia sebelum Persib Bandung dan Arema Malang. Ia kemudian hengkang ke luar negeri pada 2009.

Keith Kayamba Gumbs (Penyerang, Saints Kitts & Nevis)

Foto: Goal

Keith Kayamba mungkin jadi nama paling familiar sejauh ini. Karirnya di Indonesia memanglah cemerlang, mulai dari gelar juara Copa Indonesia, Liga Super, hingga Inter Island Cup, semua pernah Ia raih. Namun sebelum datang ke Indonesia, Keith Kayamba pernah merasakan atmosfer liga-liga terbaik dunia bersama FC Twente, Hull City, dan Palmeiras. Raihannya di sana tidaklah buruk, Kayamba tetap tajam, tapi pada akhirnya Ia memilih untuk berkarir di Asia, membela klub Malaysia, Hong Kong serta Indonesia.

Alexandre da Silva Mariano / Amaral (Gelandang, Brazil)

Musim ini Persib sempat memberikan tes masuk kepada mantan pemain Parma, David Lofquist, dan setelah masa percobaan, pelatih Djajang Nurdjaman, akhirnya mencoret namanya. Namun, sebelum David, sudah ada mantan pemain Parma yang merumput di Indonesia, dia adalah Alex Mariano atau Amaral.

Amaral jarang bermain di Parma, karena saat itu klub berjuluk I Gialloblu itu sedang berada di masa-masa terbaik mereka, tapi setidaknya Ia pernah mengenakan seragam kuning-biru, saat tim ini mencatatkan pencapaian tertinggi mereka, berada di posisi dua Serie-A (1996/97). Parma meminjamkan Amaral ke Benfica, yang kemudian memberi kontrak permanen utuknya. Setelah itu Ia kembali ke Italia membela Fiorentina sebelum kembali bertualang dengan membela Besiktas pada 2002.

Delapan tahun kemudian, setelah malang melintang bermain sepak bola, Amaral berhasil didatangkan Manado United, dan juga membela Persebaya setahun kemudian. Selain pernah berkarir dengan klub-klub top Eropa, Amaral juga mendapatkan medali perunggu bersama Dida, Rivaldo, Ronaldo, Roberto Carlos, Bebeto, Juninho, dan lain-lain di Olimpiade musim panas 1996.

Marcus Bent (Penyerang, Inggris)

Satu lagi pesepakbola petualang yang pernah menginjakan kakinya di Indonesia, Marcus Bent. Kakak dari Darren Bent ini mungkin tidak setenar adiknya, akan tetapi Ia pernah mengecap kesuksesan di liga Inggris, yang katanya terbaik dunia.

Bersama Ipswich Town, Marcus Bent pernah dinobatkan pemain terbaik Liga Primer pada Januari 2002, selain itu Ia juga berhasil mengantarkan dua klub berbeda promosi ke divisi tertinggi Inggris, Blackburn Rovers (2000/01), Birmingham City (2008/09).

Kedatangan Bent ke Indonesia dengan bergabung Mitra Kukar mengejutkan publik, meski beberapa ada yang memaklumi melihat kebiasaanya yang selalu berpindah klub. Sayangnya, Marcus Bent kembali menunjukkan bahwa Ia bukanlah adiknya, di Mitra Kukar dirinya hanya menjadi pelapis dan mencetak empat gol.

Eric Djemba-Djemba (Gelandang, Kamerun)

Nama tenar terakhir yang didatangkan ke Indonesia sebelum Michael Essien adalah mantan gelandang Manchester United, Eric Djemba-Djemba. Selama bermain dengan Si Setan Merah, Djemba-Djemba memang bukanlah pemain yang menonjol, namun fakta bahwa dirinya pernah diasuh Sir Alex Ferguson membuat namanya tetap menjadi daya tarik.

 Eric Djemba-Djemba yang merupakan langganan tim nasional Kamerun dikontrak Persebaya Surabaya pada 2015, saat usianya sudah memasuki kepala tiga, dan sama seperti Marcus Bent, kehadirannya di sepak bola Indonesia pada akhirnya hanyalah sebuah pemanis belaka.

Roger Milla (Penyerang, Kamerun)

Pemain asal Kamerun ketiga dalam daftar ini adalah legenda sepak bola dunia, Roger Milla. Pada 1994, Pelita Jaya berhasil mendatangkan mantan pemain Saint-Etienne dan mengunci jasanya selama semusim.

Kapabilitas Milla sudah tidak perlu diragukan lagi kala itu, dirinya datang ke Indonesia dengan status dua kali pemain terbaik Afrika (1976 & 1990), serta peraih sepatu perunggu di Piala Dunia 1990 setelah mencetak empat gol di Italia. Raihan tersebut sama dengan jumlah gol Gary Lineker, dan Lothar Matthaeus.

Kehadiran pemain Kamerun di Indonesia bukanlah sesuatu yang aneh hingga saat ini jika mengingat salah satu legenda sepak bola mereka pernah bermain di tanah air. Beberapa di antara mereka bahkan mendapat surat rekomendasi untuk merumput di Indonesia.

Mario Kempes (Penyerang, Argentina)

Sebelum Milla datang, Pelita Jaya juga mempunyai nama besar dalam diri seorang Mario Kempes. Ia mungkin tiba di Indonesia jauh setelah masa-masa terbaiknya berakhir, akan tetapi pemenang Piala Dunia 1978 ini akan selalu ingat akan Pelita Jaya, klub pertama yang Ia latih dalam karirnya.

Ya, Kempes datang semusim sebelum Milla, pergi saat penyerang Kamerun itu membela Pelita Jaya, dan kembali saat dia pergi. Kempes kembali ke Pelita Jaya sebagai pelatih, sebelum pergi ke Albania pada 1996.

Karir kepelatihannya tidaklah mengilap, tapi saat Ia pertama datang ke Indonesia, dirinya dikenal sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di Liga Spanyol, dan juga tandem dari Diego Armando Maradona.

Kedatangan Essien ke Persib mungkin mengejutkan banyak pihak, tapi pada dasarnya, ini bukanlah pertama kali Indonesia menjadi destinasi para bintang.

—Rappler