Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Use password?

Login with email

Reset password?

Please use the email you used to register and we will send you a link to reset your password

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue resetting your password. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

Join Move

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

welcome to Move

welcome to Move & Rappler+

Mengapa saya tidak se-Cina yang orang pikirkan

 

Jawaban saya, “Orangtua dan atas-atasnya ortunya, sih, Cina. Si Daddy udah keturunan keenam, sementara Mami keturunan ketiga”.

Banyak orangtua dari teman-teman saya yang masih Cina keturunan ketiga atau keempat. Mereka kebanyakan masih cukup tradisional dalam beberapa aspek kehidupan, sementara saya yang sudah jadi keturunan ketujuh dari pihak Daddy, Cinanya sudah tinggal fisik saja.

Oh ya, sebelum bercerita lebih panjang lagi, saya tidak akan memakai kata Tiongkok, Tionghoa, ataupun China untuk menggantikan kata Cina baik dalam tulisan ini.

Oke, balik lagi. Entah kenapa Daddy (sementara Mami lebih pasrah atau, tepatnya, cuek) hampir enggak pernah mempraktekkan tradisi Cina (keturunan) di Indonesia. 

Contoh yang paling sederhana adalah tentang panggilan. Sejak kecil, dua adik saya tidak pernah dibiasakan memanggil saya “Cece”, dan saya juga tidak dibiasakan memanggil mereka dengan sebutan “Titi dan Meme”.

Selain itu, Daddy juga enggak suka dipanggil “Suk atau Suksuk” yang artinya “Om” dalam bahasa Cina, entah dari daerah mana. Dia lebih gemar dipanggil “Om”, padahal mukanya agak-agak mirip Jackie Chan.

Itu dulu, ketika saya masih kecil. Tapi stereotip Cina tetap melekat pada diri saya — hingga kini. Untuk usia saya sekarang, pertanyaan yang paling sering saya dapat adalah, “Kenapa enggak kerja di kantor orangtua aja?” 

Ternyata, pertanyaan superit itu juga sering didapat oleh Daddy karena banyak yang heran kenapa saya sebagai anak tertua tidak diberi posisi di kantornya. Mungkin karena saya dan Daddy ini bisa menyetir Jaeger bareng alias drift compatible, kita berdua kompak menjawab, “Kenapa kalian pikirannya Cina sekali, sih?” kepada orang-orang yang kepo itu.

Tidak merayakan Imlek

Sebagai orang Cina, kebanyakan pasti merayakan Imlek tiap tahunnya, tapi tidak dengan keluarga kami. Keluarga kecil ya, bukan keluarga besar.

Waktu zaman Orde Baru masih berkuasa, Hari Raya Imlek enggak ada di kalender. Karena Imlek saat itu bukan hari libur nasional, maka banyak teman-teman sekelas saya di sekolah dulu yang tidak masuk. Keesokannya, banyak yang langsung penasaran terhadap berapa angpau yang mereka peroleh dari sanak keluarga pas Imlek. Dan … saya ndomblong aja, karena enggak mengerti apa yang mereka bahas.

Sejak kecil, saya tidak pernah didoktrin bahwa saya adalah keturunan Cina hingga kelas 2 SD. Ada beberapa teman sekelas yang bilang, “Kalau kita itu Cina, Si A itu orang Jawa.” Begitu kata seorang teman, merujuk kepada teman lain.

Saya, yang masih duduk di bangku kelas 2 SD di Surabaya itu, pun mendatangi Mami dan bertanya, “Mam, kita itu Cina atau Jawa?” Mami terlihat agak shocked mendengar pertanyaan saya itu. Memangnya tidak boleh, ya, menjadi Cina dan Jawa sekaligus?

Nah, saya sendiri tidak mengenal Imlek hingga dua tahun kemudian, karena kami sekeluarga memang tidak pernah merayakan Imlek.

Tidak kenal angpau

Pertama kali saya menerima amplop kecil merah itu saat duduk di kelas 4 SD. Saya masih ingat reaksi waktu itu; bingung kenapa ada uang di dalamnya. Yang memberi saya angpau saat itu hanya Emak (maminya Mami) dan Om (adik Mami yang paling kecil).

Melihat ada dua lembar uang Rp50 ribu adalah sebuah pemandangan yang indah karena saya bisa bermain di Timezone sampai puas. Tapi, ketika saya “pamer” ke Daddy, dia cuma bilang, “Balikinlah ke Emak”. Something is really wrong with this Chinese guy!

Menginjak kelas 2 SMP, nominal angpau yang saya terima, anehnya, tidak pernah naik dengan signifikan. Malah bisa dibilang nilainya turun meski nominalnya tetap. Ya, namanya juga ada inflasi. Tapi anak SMP mana yang bisa berpikir seperti itu?

Sehari setelah Imlek pada 2002 lalu, teman-teman seangkatan saya membahas peroleh “mengemis” mereka seperti biasa. Saya sih PD aja menjawab, “Tahun ini dapat lumayan, Rp150 ribu”.

Mereka pun langsung memberikan tatapan iba ke arah saya. Karena yang saya dengar, ada anak yang mendapat Rp5 hingga Rp7 juta! Mungkin kamu tidak percaya dan berpikir, “Ah dia menang undian, kali?” Tidak, itu nyata.

Tidak bisa bahasa Mandarin

Meski keturunan Tionghoa, orang tua Amanda Athenia sudah tidak pernah mempraktekkan tradisi Cina di Indonesia.

Foto oleh Diego Batara/Rappler

Sewaktu kelas 1 atau 2 SMA, saya dan dua orang teman, ingin mengambil ekstrakurikuler bola voli. Tapi kami tak diizinkan karena kuota muridnya sudah penuh.

Alhasil, hanya ada 3 kegiatan ekstrakurikuler yang tersisa: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), komputer, dan bahasa Mandarin.

Ya Tuhan, cobaan apa ini? Nilai MIPA saya merah semua di rapor. Ngapain ikut ekskul komputer? Kan sudah ada pelajaran komputer.

Pilihan terakhir adalah kelas bahasa Mandarin. Kami pun menghadiri pada hari pertama dan langsung dibuat bingung, “Kok murid-murid di kelas ini sudah pada lancar berbicara bahasa Mandarin?”

“Kok gurunya asyik aja lancar ngobrol sama murid dengan bahasa Mandarin? Kok, enggak ada bahasa Indonesianya di kelas ini?”

Saya pun pasrah harus mengikuti kelas itu setahun. Lalu ada yang bertanya, “Bukannya kamu keturunan Cina?”

Saya jawab, “Enggak ngaruh. Casing-nya aja sipit dan putih, jeroannya ya kayak gini, deh”.

Akhirnya, ketika pembagian rapor, saya pun harus puas dengan nilai C. Mami pun bertanya melihat hasil itu, “Kok ini bisa dapat C?”

“Ya, menurut Mami aja???”

Imlek jadi hari libur

Hingga akhirnya, perayaan Imlek disetujui oleh Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid dan diresmikan oleh presiden berikutnya, Megawati Soekarnoputri sebagai hari libur nasional. 

Adik-adik saya pun tidak pelru bingung seperti saya dulu, kenapa teman-teman mereka tidak masuk sekolah, padahal mereka harus masuk dan dipulangkan lebih awal. Toh, percuma juga mau belajar apa di sekolah kalau muridnya yang hadir cuma 10 dari 40an?

Jadi, ketika hari Imlek tiba, saya dan kedua adik saya ini tidak pernah mendapat angpau yang banyak, karena Opa dan Oma dari pihak Daddy tidak merayakan. Kami cuma bisa “mengemis” dari keluarga pihak Mami. Akhirnya, sepupu-sepupu kami pun mendapat lebih banyak.

Kini saya tinggal di Jakarta, orangtua di Surabaya. Setiap menjelang Imlek, Mami sering bertanya, “Imlek pulang, kan?”

“Enggak tahu, lihat sek,” kata saya.

“Lah, ya pulango,” ujar Mami.

Saya cuma bisa jawab, “Tiket pulang-pergi sama angpau enggak balik modal”. —Rappler.com

Amanda Athenia adalah seorang social media specialist di sebuah digital agency di Jakarta. Ia dapat disapa di Twitter @athenia89