Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Mengulurkan tangan untuk pengungsi Gunung Agung

 

JAKARTA, Indonesia — Kabut tebal masih menyelimuti wajah Gunung Agung di Bali yang kini berstatus Awas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat adanya peningkatan aktivitas Gunung Agung yang signifikan. 

Sejak Minggu, 24 September, telah terjadi ratusan kali gempa vulkanik. Getaran dirasakan warga di sejumlah wilayah pengungsian. Salah satunya adalah Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, yang terletak 12 km dari kawah Gunung Agung.

Menurut Koordinator Tim Disaster Emergency Relief Management Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kusmayadi, di lokasi pengungsian, guncangan gempa berskala kecil kerap terasa beberapa kali. Meskipun demikian, pengungsi diimbau agar tidak terlalu panik dengan getaran gempa yang ada.

Desa Menanga menjadi titik aman pertama yang berlokasi 3 km dari zona merah rawan bencana. Jumlah pengungsi di desa ini telah mencapai hampir 500 jiwa. 

“Kami juga telah mendistribusikan bantuan tanggap darurat seperti makanan siap saji, air mineral, dan susu kepada hampir 500 pengungsi di Desa Menanga. Kebutuhan pangan sangat mereka butuhkan saat ini,” kata Kusmayadi. 

Dapur umum amat dibutuhkan seiring dengan meningkatnya jumlah pengungsi per harinya. Dengan adanya dapur umum, akan lebih banyak pengungsi yang mendapatkan suplai makanan harian.

Kebutuhan utama mereka antara lain makanan siap saji, sembako, perlengkapan tidur, air mineral, pakaian, popok bayi, pembalut wanita, susu, perlengkapan sanitasi, dan obat-obatan.

Jika Anda ingin membantu para pengungsi, Anda bisa memberikan donasi melalui laman Kitabisa.com atau langsung menekan tombol “Donasi” di bawah ini.

—Rappler.com