Presiden Mesir berlakukan situasi darurat usai diguncang dua ledakan bom

JAKARTA, Indonesia — Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi mengumumkan keadaan darurat selama tiga bulan usai terjadi dua ledakan di gereja di Kota Tanta pada Minggu, 9 April. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan akibat ledakan pertama di Gereja Koptik Mar Girgis sebanyak 27 orang tewas.

Sementara, dalam ledakan kedua yang terjadi di Gereja St Mark di kota Alexandria, mengakibatkan sebanyak 17 orang meregang nyawa. Empat orang di antaranya merupakan petugas polisi. Menteri Dalam Negeri Mesir menyebut aksi tersebut dilakukan oleh pembom bunuh diri.

Korban tewas bisa saja lebih banyak seandainya dia tidak dicegah oleh otoritas berwenang masuk ke dalam gereja. Sementara, Paus Koptik Tawadros II yang memimpin misa saat Minggu Palma tidak terluka sedikit pun. Pejabat berwenang gereja mengatakan dia telah meninggalkan area tersebut sebelum terjadi ledakan.

Stasiun televisi swasta CBC Extra menyiarkan detik-detik sebelum pelaku bom bunuh diri beraksi di gereja di Alexandria. Dalam rekaman CCTV terlihat sebagian bangunan gereja hancur usai seorang pria dilarang masuk oleh petugas keamanan.

Kementerian Kesehatan menyebut ada sekitar 78 orang yang terluka di Tanta dan 40 orang di Alexandria. Pejabat berwenang di Mesir menyatakan aksi tersebut hanya upaya untuk memecah belah warga Mesir.

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim dua pelaku bom bunuh diri merupakan pasukan mereka. Bahkan, kelompok tersebut mengeluarkan ancaman di media sosial akan melakukan aksi lainnya.

Indonesia mengecam

Pemerintah Indonesia mengecam aksi teror yang terjadi di Mesir pada Minggu kemarin. Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah menyampaikan rasa simpati dan duka kepada korban serta keluarga yang terkena dampak bom tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima KBRI, tidak ada WNI yang ikut menjadi korban dalam dua ledakan bom itu.

Pemerintah mengimbau kepada semua WNI yang saat ini tengah berada di Mesir untuk berhati-hati dan menjauhi kawasan yang rawan terhadap aksi teror. KBRI juga menyiapkan nomor kontak hotline jika ada keluarga di Tanah Air yang merasa khawatir dengan keberadaan keluarganya di Mesir. Mereka bisa menghubungi (+20) 102 222 9989. - dengan laporan AFP/Rappler.com