‘Banda The Dark Forgotten Trail’: Belajar sejarah lewat dokumenter

JAKARTA, Indonesia — Jalur rempah belakangan ini memang jarang diucapkan dan terdengar, tapi film dokumenter 

Banda The Dark Forgotten Trail Film, yang mengambil tema jalur rempah, seperti membuka mata kita pada sejarah tentang masa kejayaan Indonesia di Kepulauan Banda. 

Tidak hanya kekayaan Indonesia yang menghasilkan rempah-rempah seperti cengkih dan pala yang dibahas dalam film Banda, tapi juga masa-masa kelam di bawah penjajahan VOC ratusan tahun silam.

Rappler berkesempatan menyaksikan film Banda saat digelar press screening di XXI Plaza Indonesia, pada Rabu, 26 Juli. Selama film ini berlangsung, mata penonton akan dimanjakan dengan kualitas gambar yang luar biasa. Jangan bayangkan film dokumenter dengan gambar seadanya dan teknik sinematografi yang gitu-gitu saja. Film besutan sutradara Jay Subyakto ini berbeda.

Meskipun disajikan dalam dokumenter, tim produksi menginginkan mata penonton bisa nyaman ketika menikmati film ini. “Total [memori] gambar sampai 16 tera,” kata Jay, yang sebelumnya dikenal dengan membuat video klip musik. Film Banda ini adalah film dokumenter pertamanya. 

Dari segi konten, terlihat Sheila Timothy sebagai produser memang mencetuskan ide yang sangat berbeda tetapi dibutuhkan. Banyak sejarah penting dari Kepulauan Banda yang seharusnya kembali digaungkan. Seperti pentingnya pala saat itu yang bisa membuat semua orang di dunia menghampiri Pulau Banda. 

Zaman dahulu, harga pala sempat lebih mahal daripada emas karena dibutuhkan oleh negara-negara Eropa, terutama ketika wabah pest merebak di Inggris. Puncaknya, sengketa antara Inggris dan Belanda yang berebut Pulau Banda, sebagai penghasil pala, diminati Inggris untuk menyembuhkan warganya. Sementara Belanda menganggap Pulau Banda sebagai aset yang berharga.

Maka ditandatanganilah Perjanjian Breda pada 31 Juli 1667 yang menyatakan bahwa Belanda dapat tetap memiliki Pulau Banda, sementara Inggris mendapat Nieuw Amsterdam, yang sekarang bernama Manhattan, New York. Pada 31 Juli 2017 mendatang, tepat 350 tahun setelah Perjanjian Breda disepakati, film Banda juga akan menggelar gala premier-nya.

Selain mengenai rempah, film Banda juga mengupas masa-masa kelam yang juga terjadi di pulau tersebut, yang bisa dijadikan pelajaran untuk masa kini. Kelimpahan sumber daya alam nyatanya bisa merusak bahkan menghilangkan banyak jiwa. Terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan penjajah terhadap penduduk asli Pulau Banda demi mendapatkan pala. 

Selain rempah dan masyarakatnya, film Banda juga membahas mengenai orang-orang yang pernah bermukim di sana. Salah satunya adalah Mohammad Hatta, yang belakangan menjadi Wakil Presiden RI pertama. Ia diasingkan bersama tiga orang founding fathers lain ke Banda. 

Ada banyak sekali pengetahuan penting yang disajikan dalam waktu 94 menit. Lengkapnya, kamu bisa saksikan film Banda The Dark Forgotten Trail di bioskop nasional mulai Kamis, 3 Agustus 2017.

Selain mengagumi gambar dan isi film, efek suara dan musik dari film ini juga tidak kalah. Berkat Indra Perkasa selaku music composer, penonton bisa merasakan pengalaman suara yang rasanya cukup tegang, mencekam, sekaligus terhanyut. Terlebih dengan narasi yang dibacakan oleh aktor papan atas, Reza Rahadian. 

Keterlibaran Reza dalam film dokumenter ini tak lepas dari andil Jay. Reza sempat memaksa padanya agar dia bisa memiliki peran dalam film dokumenter pertama Jay ini.

Respon Jay kala itu, “Mau ngapain? Mau jadi pohon?” yang disambut gelak tawa oleh Reza. Ternyata Reza belum mengetahui bahwa proyek film dari Jay merupakan film dokumenter. 

Dalam film ini, Reza akhirnya dipercaya untuk menjadi narator Bahasa Indonesia. Pengalaman pertamanya sebagai narator ini juga dirasa sangat berharga baginya.

“Sebagai pengalaman yang baru dan ternyata sangat seru bisa menjiwai gambar,” ujar Reza.

Jika dalam film fiksi Reza biasanya harus mendalami karakter tokoh yang ia perani, maka hal tersebut tidak berlaku dalam film dokumenter. Reza mengaku menjadi narator film dokumenter membuatnya lebih fokus untuk menjiwai gambar.

“Saya berusaha melihat gambarnya, kemudian merasakan, dan membuat bagaimana caranya dari awal sampai habis enggak terasa membosankan,” ujar Reza. —Rappler.com