Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

Tahun-tahun gelap sekitar G30S di mata Anak Kolong

JAKARTA, Indonesia – “Tulisan yang menggetarkan hati, itu adalah sastra,” ujar Ahmad Tohari. Penulis, sastrawan yang kita kenal terutama lewat karyanya ‘Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu’ secara khusus datang dari Banyumas untuk membahas Buku “Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet”, karya Rusdian (Yan) Lubis.

“Sudah lama kita menunggu buku dengan genre sastra realisme seperti ini,” ujar Ahmad Tohari dalam peluncuran buku yang berlangsung Minggu, 15 Oktober 2017.  Selain Tohari, ekonom HS. Dillon ikut membedah buku ini.

Menurut Tohari, yang karyanya diterjemahkan ke beberapa bahasa asing, sudut pandang yang dipilih oleh Rusdian Lubis menarik. Buku Anak Kolong menyajikan pengalaman pribadi, ditambah referensi pengetahuan sejarah, dan tulisan yang humoris, membuat buku ini layak dinikmati.  

“Sebuah buku yang menggetarkan hati pembacanya, adalah sebuah karya sastra,” ujar Tohari, mengapresiasi buku perdana Rusdian Lubis ini.

Tepat waktu

Saya merampungkan membaca buku ini ketika media sosial tengah bergunjing tentang video yang menunjukkan baku-hantam antara seorang yang kemudian dikenal sebagai Bimantoro, dengan Lettu Satrio. 

Dari video nampak  Si Bimantoro ini percaya diri memukul sang prajurit TNI.  Tak ayal, mereka sempat bertukar bogem mentah.  Ketika ketahuan bahwa Bimantoro adalah keluarga TNI juga, sejumlah komentar di media sosial kira-kira bunyinya: “Pantesan berani. Keluarga TNI juga.”

Rasa percaya diri yang ditunjukkan Bimantoro (meskipun tindakannya salah), mengingatkan akan stigma yang dilekatkan ke anak kolong. Sebenarnya kepada keluarga ABRI saat itu. Siapa anak kolong?  Dalam pengantar buku, penulis memberikan semacam definisi: Mereka adalah anak-anak tentara yang lahir atau tumbuh kembang di asrama, barak atau garnisun tentara.

Apakah benar anak-anak kolong nakal? Menurut penulis buku, “stigma negatif ini sulit dihilangkan. Mungkin benar, karena watak mereka sering kali terbentuk oleh kondisi sosial ekonomi yang pas-pasan, ketiadaan ayah (karena sering tugas operasi), ditambah lagi karena beban ‘stres” yang dialami ketika ayah mereka bertugas di medan perang.

Dan masih panjang lagi, sengaja saya berhenti di sini supaya pembaca tertarik untuk membaca langsung di bukunya, untuk memahami pengalaman hidup seorang anak kolong.

Rusdian Lubis, penulis buku ini menyebut dirinya seorang profesional bidang pengelolaan sumberdaya alam lingkungan hidup, lulusan Institut Pertanian Bogor, mendapatkan gelar Phd di Oregon State University, AS, post doctoral studies di Sidney University Australia, dan pernah menimba ilmu di Kennedy School of Government di Harvard University, juga di AS. 

Karir profesional penulis buku ini cukup lengkap. Dari dosen, Bank Dunia, eksekutif puncak di PT Freeport Indonesia dan Bank Pembangunan Asia. Rusdian Lubis adalah anak kolong. Pangkat terakhir ayahnya, Marah Rusli Lubis, adalah Letnan Kolonel.  Ibunya, Raden Ajeng Hermani Sudiah, adalah seorang guru SMO Muhamadiyah di Solo. Rusdian memiliki minat besar dalam menulis. Dia menulis untuk hampir semua media terkemuka di tanah air.

Hari-hari ketika Rusdian Lubis, seorang praktisi lingkungan hidup merampungkan percetakan buku yang ditulis selama hampir tiga tahun ini, adalah hari-hari di mana suasana sedang dikembalikan ke masa 52 tahun lalu, tepatnya di bulan September 1965.  Belakangan jagat berita dan percakapan di media sosial dipenuhi debat antara yang percaya paham komunisme dan PKI masih menjadi ancaman, dan yang tidak percaya.

Tak kurang dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginisiasi nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI.  Sesuatu yang sudah kita tinggalkan 19 tahun lamanya, sejak kekuasaan Presiden Soeharto berakhir.  Secara resmi.

Buat saya, buku ini hadir di saat tepat. Timely.

Jadi, ketika membaca buku ini, perhatian saya segera tercekat ke halaman-halaman yang menceritakan bagaimana seorang “Aku”, yang notabene sang penulis, melihat peristiwa yang menjadi saat gelap dalam perjalanan bangsa ini. Menariknya, penulis melihat dari kacamata seorang anak kolong, usia 12 tahun, yang tinggal di tangsi militer di Wonopringgo, sebuah desa di selatan Pekalongan, Jawa Tengah.

Tengoklah nukilan dalam buku ini:

Operasi penumpasan G30S/PKI di tubuh Angkatan Bersenjata dilakukan dengan cepat, dingin dan sistematis.  Yonif 407 Wonopringgo tak terkecuali.  Kami mendengar berita bahwa Kopral X, Sersan Y, bahkan Letnan Z terlibat dan kemudian “diciduk” dan “diamankan”.  Serma P ayah dari M dan N temanku mengaji di surau dinyatakan terlibat atau ada “indikasi” G30S/PKI.  Tanpa diberi kesempatan pulang ke asrama, setelah bertugas di Pulau Sumatera dalam Operasi Dwikora, Serma P diciduk dan dibuang ke Pulau Buru.  

Akibatnya memilukan.  Hanya seminggu setelah ayah mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI, M dan N menolak berbicara denganku dan anak-anak kolong lainnya. M dan N yang selalu salat magrib dan isya berjamaah bersama kami, sejak saat itu berhenti salat.

Keluarga Serma P tak lama kemudian meninggalkan perumahan dinas tentara.  Beberapa waktu kemudian, aku dengar kabar dari Ibu-ibu asrama bahwa Bu P menjadi seorang wanita panggilan di Solo.

Di asrama, kejadian semacam ini banyak kami dengar dan amat membingungkan bagi anak-anak kolong yang baru berumur belasan tahun. Seperti Bu P, nasib anak perempuan dan istri mereka yang “berindikasi PKI” juga menyedihkan.  

Sersan Parjo yang berkumis melintang seperti setang sepeda bilang bahwa setelah “diciduk”, mereka dijadikan permainan oleh para penangkapnya.  Sebagian lagi, karena kepalang basah, mereka menjadi wanita panggilan.  Sersan Parjo ikut membantai dan melatih organisasi paramiliter yang kemudian membunuhi anggota PKI atau yang dianggap PKI di daerah operasi.

Tak lama kemudian setelah sempat gila, Sersan Parjo menembak kepalanya sendiri.  Tragis.  Aku ingat, Ibu pernah memarahinya ketika menenggelamkan dua ekor anak anjing betina di sungai.

Operasi penumpasan G30S/PKI lebih menimbulkan kekacauan dalam masyarakat sipil.  Mereka tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan.  Saling mencurigai dan saling tuduh amat mudah terjadi.  Jika menjelang G30S/PKI anggota yang berafiliasi pada PKI seperti OPR, Gerwani dan CGMI dengan ganas membantai kalangan nasionalis dan agama, selama tahun-tahun yang gelap itu mereka menjadi bulan-bulanan organisasi lawan (Kokam, Banser, Banra dan lain-lain).  Saat itu terjadi histeria dan paranoia massa.

Sebuah kebetulan lain yang membuat buku ini menjadi kian penting dibaca dan menjadi referensi adalah, ketika Dokumen Rahasia AS tentang ‘pembantaian’ pasca G30S pada tahun 1965, dibuka untuk publik, 17 Oktober 2017. Pas benar.

HS Dillon yang mengenal Rusdian Lubis saat di kampus dan kegiatan terkait Bank Dunia dan ADB memuji sudut pandang yang diambil Rusdian Lubis. Bisa dibilang belum ada penulis dengan latar belakang seperti Rusdian yang memilih setting tahun-tahun sekitar peristiwa 1960- 1965 sebagai latar-belakang bukunya. “Saya ingin ada yang menulis dari sudut pandang petani.  Bagaimana mereka pada tahun-tahun itu,” ujar Dilllon.

Sebuah tribute

Rusdian merasa kaget dengan komentar yang muncul, baik dari Tohari, Dillon maupun sejumlah sosok lain. Sastrawan Eka Budianta yang juga aktif di Badan Pelestari Pusaka Indonesia, berkomentar, “Penulis berhasil menggabungkan intelektualitas modern dan perasaan lembut yang klasik.”  

Sementara Nina Akbar Tanjung berkomentar, “Membaca buku ini seperti membaca Solo jadul, lengkap dengan foto lama.”  Aristides Katoppo, wartawan senior, menyarankan buku ini wajib dibaca oleh generasi millennial yang nyaris lupa sejarah.”

Soal pemahaman sejarah, Dillon menceritakan ketika mengantar penulis yang menjadi direktur di PT Freeport Indonesia, bertemu Sri Sultan Hamengkubuwono X.  Percakapan tentang pusaka Kraton kemudian sampai ke nama sebuah pusaka.  “Sultan lupa nama pusaka itu.  Hebatnya, Rusdian ingat.  Padahal dia marga Lubis,” ujar Dillon.

Ninok Leksono, Rektor Universitas Multimedia Nusantara, wartawan senior dan juga alumni Eisenhower Fellowship mengatakan buku ini memang terasa makin relevan.  Bagaimana anak kolong melihat peristiwa 1965 yang belakangan muncul dalam bentuk fobia PKI yang kembali digaungkan.  Rusdian adalah alumni Eisenhower Fellowship juga.  

“Kita ingat apa yang dikatakan Presiden Dwight Ike Eisenhower tentang military industrial complex.  Ucapan tahun 1961 tahun itu masih relevan,” kata Ninok.

Sekedar catatan, Jenderal Eisenhower yang memimpin tentara sekutu saat D-Day,  mengingatkan hal itu dalam pidato perpisahannya saat meninggalkan Gedung Putih setelah menjabat Presiden AS.  Menurutnya,  military industrial complex adalah ancaman terhadap demokrasi, yang dilakukan koalisi tentara dengan kontraktor senjata.

Jadi,  buku Anak Kolong ini  ternyata membuka banyak pintu renungan dan menggedor kesadaran pembaca tentang apa yang tengah terjadi di sekitar kita.   Persis seperti yang disampaikan oleh Tohari, sang Maestro.

Mengapa Rusdian Lubis menulis buku ini?  “Buku ini adalah tribute, atau penghargaan untuk tiga orang yang penting dalam hidup saya, yaitu eyang, ibu dan ayah,” kata dia.  Rusdian mengenang eyangnya, sebagai sosok eksentrik, humoris, tidak sekolah tapi fasih bahasa Sansekerta dan bahkan pernah menerjemahkan  kitab Bharatayudha dari bahasa Jawa kuno ke bahasa Jawa 

Dari Ibunya, seorang perempuan yang menurut Rusdian fisiknya lemah namun berhati baja, boleh jadi Rusdian mewarisi kemampuan mengolah kata-kata.  Sang ibu suka menulis puisi.  Kenangan dalam buku ini seolah menjadi obat penyesalan karena penulis tengah berada di negeri orang bertugas di ADB, di Manila, saat sang ibu berpulang.

Buku ini juga dipersembahkan kepada sang ayah, almarhum.  Seorang tentara yang menurut penulis memegang semboyan Jenderal Besar Mac Arthur: Duty,Honor, Country (Tugas, Kehormatan, Negara).  Sosok tentara yang hampir selalu jauh dari keluarga karena penugasan yang panjang dan lengkap, 35 tahun.  

Sebuah tribute, ditulis oleh orang dengan pengalaman yang kaya dan banyak membaca.segar karena dibumbui kisah kegagalan cinta yang meski pahit, disajikan dengan jenaka.  Kenakalan masa remaja yang bikin terbahak, kocak.  Kenangan kepada orang-orang tercinta yang disajikan dalam untaian kalimat yang mengayun indah.  

Pembaca akan terpikat sejak halaman pertama sampai ujungnya. – Rappler.com