Gajah liar mengobrak-abrik sawah di Pidie

Kawanan gajah liar mengobrak-abrik sawah milik warga Pidie, Aceh, Jumat (17/3). Foto oleh Habil Razali/Rappler

Kawanan gajah liar mengobrak-abrik sawah milik warga Pidie, Aceh, Jumat (17/3).

Foto oleh Habil Razali/Rappler

KEUMALA, Indonesia - Puluhan hektar sawah milik warga di kawasan Blang Lhok, Desa Jijiem Kecamatan Keumala, Pidie, Aceh, sejak dua hari terakhir diobrak-abrik kawanan gajah liar.

Kawanan gajah tersebut pertama sekali turun ke areal sawah pada Rabu malam, 15 Maret. Akibatnya padi yang akan memasuki masa panen dua minggu lagi tersebut rusak terinjak-injak.

Seorang pemilik sawah, Idris Abdullah (60) kepada Rappler, mengatakan sawah miliknya telah porak-poranda diinjak gajah liar pada Kamis malam kemarin.

"Padi saya sebenarnya dua minggu lagi sudah bisa panen, namun hari ini semuanya telah rata dengan tanah setelah diinjak gajah liar," ujar Idris pada Jumat, 17 Maret 2017.

Meski begitu Idris mengaku tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi permasalahan gajah liar. Selama ini, ia bahkan terpaksa menginap di sawah agar gajah tidak memasuki areal persawahan. Ia berharap pemerintah mengambil langkah konkret agar petani tidak selalu dirugikan.

Petani lainnya, Abdurrahman, mengungkapkan bahwa gajah liar bahkan telah memasuki areal persawahan kawasan Blang Maleh tadi malam. Sawah tersebut hanya berjarak ratusan meter dari perkampungan.

Bulir padi milik Abdurrahman sudah penuh, bahkan di sebagian petak sawah telah menguning. Keberadaan gajah mengancam panen padinya. "Gajah bukan lagi di kebun tapi sudah turun ke sawah," ujar Abdurrahman. 

Sawah milik warga Pidie yang diinjak-injak kawanan gajah liar, Jumat (17/3). Foto oleh Habil Razali/Rappler

Sawah milik warga Pidie yang diinjak-injak kawanan gajah liar, Jumat (17/3).

Foto oleh Habil Razali/Rappler

Jumlah gajah liar yang mengobrak-abrik areal persawahan di kawasan Blang Lhok Desa Jijiem, Kecamatan Keumala, Pidie sejak dua hari terakhir diperkirakan mencapai 25 ekor.

Pantauan Rappler pada Jumat siang, kawanan gajah liar itu turun lagi ke persawahan warga dan memakan padi yang beberapa hari lagi memasuki masa panen. 

Relawan Ranger Keumala, Kausar kepada Rappler mengatakan jumlah gajah yang memakan padi itu sebanyak 17 ekor. Beberapa ekor anak gajah yang masih kecil tampak dalam kawanan tersebut.

"Ini tentu belum turun semuanya, seperti gajah yang telah dipasang GPS Collar tidak terlihat tadi dalam kawanan itu," ujar Kausar.

Seekor gajah liar memang telah dipasang GPS Collar di bagian lehernya ketika digiring di Desa Lala, Pidie, dua bulan lalu. "Jadi dengan alat itu kita dapat memantau pergerakan gajah liar tersebut kemana," kata Kausar.⁠⁠⁠⁠

Aparat berpangku tangan

Camat Keumala, Basri Yusuf, mengatakan pihaknya telah melaporkan kawanan gajah liar yang merusak sawah warga kepada dinas terkait, namun hingga kini belum ada tindak lanjut sama sekali.

"Masyarakat Keumala sudah sangat kecewa dengan persoalan gajah liar, karena tidak ada tindak lanjut dari dinas terkait dari provinsi atau yang berwenang untuk itu," ujar Basri.

Warga, Basri melanjutkan, sudah melakukan upaya penghalauan dengan membakar petasan. Tetapi, binatang bertubuh besar itu sepertinya sudah kebal dengan suara petasan.

"Kami sudah melakukan upaya pengusiran secara tradisional bersama masyarakat. Tapi gagal dan gagal lagi. Kawanan gajah liar malah semakin brutal dan tetap merusak tanaman warga," lanjut Basri.

Konflik gajah liar dengan warga tak hanya terjadi dengan warga di Keumala, tapi juga dengan warga di tiga kemacatan lainnya, seperti di Kecamatan Sakti, Mila dan Padang Tiji. Konflik satwa ini telah terjadi sejak Desember 2015.⁠⁠⁠⁠

BKSDA beberkan penyebab gajah liar merusak persawahan

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, mengaku kesulitan mengusir gajah liar yang merusak persawahan di Keumala, Pidie. Hal itu karena habitat gajah di hutan telah terganggu.

"Jadi mereka susah digiring kembali ke kawasan hutan sebagai habitatnya. Makanya penyelesaian permanen harus komprehensif, yakni habitatnya jangan diganggu," kata Sapto kepada Rappler Jumat malam 17 Maret 2017.

Dari temuan tim BKSDA Februari lalu, jelas Sapto, penyebab gajah liar ini masih turun ke areal kebun dan sawah karena ada gangguan di habitatnya di hutan berupa penebangan liar. Akibatnya, setiap kali dihalau ke hutan, mereka akan kembali ke persawahan warga.

Pihak BKSDA, Sapto melanjutkan, pernah mengusir gajah liar menggunakan gajah jinak. Namun gajah-gajah tersebut hanya mau digiring hingga ke atas bukit yang berbatasan dengan Aceh Besar. "Itu berdasarkan data GPS Collar yang telah kita pasang di kelompok gajah tersebut," lanjut Sapto.

"Karena kita masih melihat perkembangan lebih lanjut apakah bisa dihalau secara manual harus pakai gajah, karena pakai gajah 'kan butuh biaya besar," jelas Sapto.

Sebelumnya, pihak BKSDA Aceh telah dua kali menurunkan gajah jinak untuk mengusir gajah liar yang turun ke arela kebun dan sawah warga di Pidie. 

Sementara, untuk langkah jangka panjang, pihak BKSDA rencananya akan memindahkan Conservation Respons Unit ( CRU) Mane ke Kecamatan Mila, Pidie. 

"Kita akan relokasi dari Kecamatan Mane ke tempat yang lebih layak dan strategis ke semua wilayah, yaitu di Mila" ujar Sapto.

Kecamatan Mila dipilih karena berada di wilayah strategis mewakili empat kecamatan yang selama ini sering terjadi konflik gajah liar. Di antaranya, Kecamatan Mila, Keumala, Sakti dan Padang Tiji.

"Tim akan mengecek kelayakan lokasi CRU di Kecamatan Mila, Selasa depan," kata Sapto.

Sapto mengaku hanya memindahkan CRU dari Mane ke Mila dan tidak membuat CRU baru karena pihaknya keterbatasan gajah terlatih yang cukup umur dan juga keterbatasan mahout gajah. —Rappler.com