Peran nyata generasi muda membangun bangsa melalui AFS Bina Antarbudaya

JAKARTA, Indonesia - AFS Bina Antarbudaya untuk pertama kalinya mengadakan Youth Summit, Jumat dan Sabtu, 18-19 November di Universitas Trilogi yang merupakan rangkaian acara peringatan 60 tahun AFS di Indonesia dan 31 tahun Yayasan Bina Antarbudaya.

“Tahun 2016 ini adalah 60 tahun program AFS di Indonesia dan 31 tahun Bina Antarbudaya nya. Jadi dalam rangka itu kami mengadakan beberapa kegiatan, salah satunya Youth Summit. Kami akan melihat kalau memang baik, respon nya bagus, kami akan lakukan lagi,” kata Nina Nasution, Executive Director AFS Bina Antarbudaya di Universitas Trilogi, Jumat, 18 November. 

Sebagai sebuah organisasi non-profit, AFS Bina Antarbudaya berkomitmen untuk memfasilitasi program pertukaran pelajar yang dipersiapkan untuk anak-anak SMA. 

Salah satu tujuannya adalah untuk mengenalkan budaya Indonesia di luar negeri dan juga menyiapkan pemuda-pemuda Indonesia untuk dapat memiliki wawasan global dan mampu bersaing di dunia internasional.

“Pemuda tidak lagi dilihat sebagai ‘masa depan’, namun sebagai agen perubahan masa kini yang terlibat aktif dalam pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu, peningkatan mutu dan kualitas pemuda Indonesia tidak dapat ditunda lagi.

Yayasan Bina Antarbudaya melalui program AFS Intercultural Programs di Indonesia berkomitmen untuk membangun pemuda Indonesia untuk mewujudkan generasi yang cerdas budaya,” kata Asmir Agoes, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Antarbudaya.

Para peserta pertukaran pelajar yang terpilih pun juga dibekali dengan budaya-budaya Indonesia agar dapat memperkenalkan di mancanegara.

“Tapi kemudian di dalam orientasi itu juga ada pembekalan, apa yang sebaiknya mereka katakan mengenai Indonesia. Kalo memang perlu kami sudah siapkan presentasi-presentasi yang bisa mereka copy nanti.”

“Kemudian walaupun sedikit,  kami juga memberi pembekalan untuk mereka performance adat Indonesia,” kata Nina.

Tema yang diangkat pada Youth Summit ini seputar isu sains, teknologi, perdamaian hingga ekonomi, seperti “Masa Depan Kepemimpian Generasi Muda Indonesia”, “Dari Tobasa Terbang ke Luar Angkasa” hingga “Anak Muda dan Geliat Ekonomi Kreatif di Indonesia” dengan pembicara-pembicara yang sebagian besar adalah returni yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar AFS ini.

Salah satu returni yang saat ini terbilang sukses dengan karirnya adalah Najwa Shihab, pemandu acara Mata Najwa; Anies Baswedan; calon Gubernur DKI Jakarta; Dayu Dara Permata, Co-founder PT GOJEK Indonesia; Andries Sibarani, Vice Director Center of Excellence Tanri Abeng University hingga Nina Nasution, Executive Director AFS Bina Antarbudaya.

Bagi Andries, mengikuti program pertukaran pelajar AFS membuat dia menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan memiliki pengaruh yang besar untuk kariernya. Saat ini, Andries mampu bersosialisasi dengan orang-orang dari negara yang berbeda-beda tanpa rasa canggung karena telah terbiasa sebelumnya.

“Karena ikut program itu, saya menjadi lebih confident ya. Dulu kalau saya lihat sebelum saya ikut program, saya introvert orangnya,” kata Andries.

Menurut Nina, ini saatnya generasi muda untuk mengembangkan wawasan hingga karakter mereka agar mengetahui dunia luar dan dapat bersaing sebagai global citizenship

“Tidak cukup kita hanya pintar di dalam saja, kita enggak mau jadi katak dalam tempurung. Kita harus tahu bagaimana dunia luar,” kata Nina.

Sehingga kesadaran anak muda untuk bisa berkontribusi untuk bangsa dan dunia ini dianggap penting. - Rappler.com