Menpar: Indonesia kehilangan devisa Rp 250 miliar per hari akibat erupsi Gunung Agung

BALI, Indonesia - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan jika Indonesia kehilangan pemasukan devisa sebesar Rp 250 milar per hari akibat peristiwa erupsi Gunung Agung jilid dua. Angka itu diperoleh dari jumlah 15 ribu wistawan mancanegara dikalikan jumlah uang yang mereka belanjakan rata-rata mencapai orang US$ 1.200 (atau setara Rp 15 jutaan) selama empat hari tinggal di Bali.

“Kerugian per hari berapa? Rp 250 miliar. Cara menghitungnya bagaimana? Wisman 15 ribu orang dikalikan US$ 1.200 per orang dikalikan kurs Rp 13 ribu per dolar AS. Sementara, kalau 36 hari efektif terganggu, maka nominalnya mencapai sekitar Rp 9 triliun,” ujar Arief yang ditemui di Istana Kepresidenan pada Rabu, 29 November.

Angka itu belum termasuk potensi kerugian dari turis domestik. Menurut data dari Kemenpar, per harinya ada 15 ribu turis domestik yang berkunjung. Itu belum ditambah turis nusantara yang menyeberang melalui jalur darat dan mencapai 10 ribu orang.

Selain itu, target kementeriannya untuk menggaet 15 juta wisatawan mancanegara pada tahun ini akan meleset. Pada tahun ini, Kemenpar diprediksi hanya dapat mencapai 14 juta atau 93-95 persen dari target awal. Padahal, ia justru berharap di liburan akhir tahun, mereka bisa meraih keuntungan.

“Pulau Bali itu sehari bisa mendatangkan 15 ribu wisatawan. Tapi, pada Agustus lalu wisatawan yang berkunjung mencapai 20 ribu orang per hari atau 600 ribu per bulannya. Justru pas panen (wisatawan ke Indonesia), malah tidak ada,” katanya lagi.

Malah, jika situasi bencana itu terus berlarut-larut terancam memindahkan tempat penyelenggaraan beberapa acara internasional, dua di antaranya adalah pertemuan tahunan World Bank 2018 dan Bali Democracy Forum 2017.

“Kalau soal itu (penyelenggaraan acara) saya belum dapat memprediksi karena tidak ada teknologi yang menyatakan kapan ini berakhir. Ya, kita lihat nanti, semoga cepat lah,” katanya.

Namun, jika pada akhirnya penyelenggaraan acara tetap digeser, maka kemungkinan besar Jakarta yang dipilih menjadi tempat alternatif.

“Selain Bali, hanya Jakarta yang bisa untuk acara-acara internasional. Kita di Jakarta punya JCC,” tutur dia.

Empat langkah penanganan

ANTRE. Turis asal Australia mengantre meja help desk maskapai Qantas dan Jet Star untuk memperoleh informasi dan kembali ke negara asal usai bandara I Gusti Ngurah Rai dibuka. Foto oleh Santi Dewi/Rappler

ANTRE. Turis asal Australia mengantre meja help desk maskapai Qantas dan Jet Star untuk memperoleh informasi dan kembali ke negara asal usai bandara I Gusti Ngurah Rai dibuka.

Foto oleh Santi Dewi/Rappler

Dalam menghadapi bencana alam Gunung Api berbagai pemangku kepentingan sudah berkoordinasi dan mengambil kebijakan untuk memudahkan turis yang masih tertahan di Pulau Dewata. Ada empat kebijakan yang diambil oleh pemerintah, pertama wisatawan yang tertahan pada tanggal 26 November tidak dikenakan biaya jika memperpanjang waktu menginapnya di hotel. Namun, hal tersebut hanya berlaku selama satu hari.

“Sisanya diberikan diskon 50 persen dari tarif menginapnya,” kata Arief.

Kebijakan kedua, bagi wisatawan mancanegara yang izin masuk ke Pulau Balinya abis, maka diberi cap exit pass selama 1 minggu. Jika membutuhkan waktu yang lebih dari itu, maka mereka bisa mengunjungi kantor imigrasi. Dari data imigrasi, sudah ada 215 exit pass yang dikeluarkan.

Ketiga, Kementerian Perhubungan akan merevisi peraturan mengenai biaya pembatalan.

“Kalau orang tidak bisa terbang dari Denpasar ke Jakarta lalu kena biaya pembatalan karena satu musibah, itu kan bukan kesalahan dia, tapi karena airlinenya tidak bisa membawa. Sudah kena musibah, lalu dia dihukum dengan kena penalti 10-20 persen dari biaya tiket. Nah, akhirnya disepakati aturan itu diubah,” ujarnya memaparkan.

Cara itu, kata Arief, tidak melanggar aturan, namun secara etika tidak pas.

Keempat, Kementerian Perhubungan telah menyiagakan puluhan bus bagi wisatawan yang ingin menggunakan jalur darat dengan menyeberang ke Banyuwangi atau Lombok. Dari sana, mereka bisa memesan tiket penerbangan ke kota atau kembali ke negaranya.

Akibat penutupan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sekitar 100 ribu turis sempat tertahan di Pulau Bali. Namun, pada Rabu sore, 29 November bandara mulai kembali beroperasi dan dapat mengangkut berbagai penumpang ke berbagai tujuan. 

Walaupun begitu, situasi buka dan tutup bandara masih dinamis karena mengikuti kondisi Gunung Agung. - Rappler.com