Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Use password?

Login with email

Reset password?

Please use the email you used to register and we will send you a link to reset your password

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue resetting your password. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

Join Move

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

welcome to Move

welcome to Move & Rappler+

Benarkah Istana arahkan mahasiswa untuk berdemo di depan rumah SBY?

JAKARTA, Indonesia - Kediaman mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan tiba-tiba digeruduk oleh sekitar 500 mahasiswa pada Senin sore pukul 14:30 WIB. Mereka diduga merupakan peserta silaturahmi Mahasiswa Indonesia di Bumi Perkemahan Cibubur yang berlangsung pada 4-6 Februari. (BACA: Rumahnya digeruduk massa, SBY curhat di Twitter)

Acara tersebut turut dihadiri oleh oleh Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki dan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar. 

“Kami mengecam siapa pun aktor politik yang menipu dan memanipulasi para mahasiswa demi kepentingan dan tujuan politik jangka pendek. Adalah fakta bahwa sebagian besar mahasiswa yang diajak berdemo tadi tidak mengetahui jika rumah yang mereka datangi adalah kediaman Presiden ke-6 RI,” ujar juru bicara Partai Demokrat, Rachland Nashidik dalam keterangan tertulis pada Senin sore, 6 Februari.

Partai Demokrat juga menyesalkan adanya aksi unjuk rasa di depan kediaman rumah SBY yang dilindungi oleh Undang-Undang. Apabila mahasiswa ingin melakukan protes, kata Rachland, bisa dilakukan di kantor DPP Partai Demokrat.

“Kami terbuka pada dialog dan mengakui unjuk rasa damai adalah hak konstitusional kita semua,” kata dia.

Partai Demokrat juga mengaku heran dengan lambatnya personil kepolisian untuk melakukan tindak pencegahan. Padahal, informasi soal ajakan berdemo di depan kediaman SBY sudah beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

“Apakah polisi unable atau unwilling menjalankan tugasnya melindungi Presiden RI keenam? Kapolri perlu memberi penjelasan,” tutur Rachland.

Diprovokasi ke kediaman SBY

Sementara, koordinator mahasiswa Jambore dan Silaturahmi dari wilayah Jakarta, Mufti Arif, membenarkan jika ada arahan dari acara di Bumi Perkemahan Cibubur untuk menggeruduk ke kediaman SBY. Padahal, acara itu semula digelar untuk membangkitkan rasa kebhinnekaan.

“Tetapi, kemudian malah berubah menjadi aksi (geruduk rumah) SBY. Ada yang memprovokasi untuk menggeruduk ke kediaman SBY,” kata Arif ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Senin sore, 6 Februari.

Alhasil, karena konsep acara berubah menjadi tidak jelas, ada sebagian mahasiswa yang kemudian menarik diri dari acara di Cibubur. Menurut Arif ada mahasiswa lebih dari 10 provinsi yang memutuskan kembali lebih cepat pada Minggu, 5 Februari.

“Mahasiswa yang menarik diri antara lain berasal dari Jakarta, Aceh, Jambi, Cirebon dan Pulau Sulawesi. Kalau jumlah angka pasti (yang menarik diri) saya belum tahu,” kata dia.

Bantah arahkan massa

Sementara, dikonfirmasi di Istana Negara, Teten Masduki membantah ada instruksi dari pemerintah untuk mengarahkan mahasiswa yang tengah menggelar acara jambore dan silaturahmi di Cibubur untuk menggeruduk ke kediaman SBY.

Enggak ada (arahan). Itu saya juga hadir di acara itu pagi dan diminta untuk menyampaikan beberapa kemajuan dalam dua tahun pemerintahan. Ya, biasa yang dipermasalahkan oleh mahasiswa ketika berdialog itu lebih banyak mengenai dana desa, pemberantasan korupsi, HAM, agraria dan isu lain,” kata Teten kepada media pada Senin, 6 Februari.

Mantan aktivis anti korupsi itu membantah ada provokasi. Sebab, menyebarkan provokasi di hadapan ribuan mahasiswa masuk ke dalam tindak pidana.

“Tidak ada provokasi-provokasi. Itu kan pertemuan terbuka yang dihadiri oleh seribu lebih mahasiswa. Siapa yang berani memprovokasi di depan umum sebesar itu?” katanya.

Teten juga memastikan tidak perlu ada kekhawatiran terhadap standar pengamanan mantan Presiden. Sebab, sudah menjadi kewajiban negara untuk melindungi.

“Sampai sekarang juga mantan-mantan Presiden memperoleh pengamanan dari pemerintah. Mereka masih memiliki pengawal dan ajudan,” tutur dia. - dengan laporan Santi Dewi/Rappler.com