Jakmania rusuh di Solo, Persija kembali diganjar hukuman

SOLO, Indonesia – Belum lepas dari sanksi sejak kerusuhan pada laga Persija-Sriwijaya FC di Gelora Bung Karno 24 Juni lalu, manajemen Persija dan suporternya akan kembali dijatuhi hukuman setelah Jakmania membuat kerusuhan di Stadion Manahan Solo pada pertandingan Persija menjamu Persib, Sabtu, 5 November malam.

Direktur Kompetisi PT Gelora Trisula Semesta sebagai penyelenggara liga, Ratu Tisha Destria, usai pertandingan menyebut bahwa Jakmania melakukan banyak pelanggaran dan menyulut kerusuhan. 

Jakmania masih dalam masa hukuman dilarang memakai dan membawa atribut Persija sampai musim Indonesan Soccer Championship (ISC) berakhir, tetapi kenyataannya mereka tetap melanggarnya.

Kerusuhan antar pendukung Persija pecah di tribun selatan, timur, barat, dan VIP sejak sebelum kick-off yang berakibat belasan orang diamankan polisi akibat perkelahian dan penyeroyokan. Selain berkelahi, sejumlah suporter Persija di tribun selatan juga membuat rusuh dengan melempari polisi dari atas dengan botol minuman.

Jakmania menyulut kembang api, petasan, flare, dan menyorotkan sinar laser ke pemain Persib – benda-benda terlarang dalam stadion yang bisa berbuntut denda bagi tim kesebelasan – yang menyebabkan pertandingan sempat dihentikan sekitar lima menit. Namun, satuan brimob dan tentara berhasil mengendalikan keadaan sehingga pertandingan bisa dilanjutkan hingga 90 menit dengan hasil imbang 0-0.

Segera setelah peluit panjang berbunyi, aparat keamanan langsung menggiring tim Persib dan official untuk meninggalkan stadion dengan menumpang barracuda, sebelum penonton turun ke lapangan.

“Sudah pasti kena hukuman, silakan hitung sendiri saja pelanggarannya. Kami akan bicarakan sanksinya, dan paling lama dua pekan sudah ada putusan,” kata Tisha kepada Rappler.

Polisi menahan seorang penonton yang diduga biang rusuh pada pertandingan Persija-Persib di Manahan Solo, pada 5 November 2016. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Polisi menahan seorang penonton yang diduga biang rusuh pada pertandingan Persija-Persib di Manahan Solo, pada 5 November 2016.

Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Kemungkinan terburuknya, Persija dijatuhi denda dan pertandingan usiran, misalnya hanya boleh bermain di luar Jawa. Sedangkan sanksi paling ringan adalah tim Macan Kemayoran terpaksa menghabiskan sisa laga mereka tanpa penonton (suporter) dan membayar denda.

Menanggapi soal sanksi, Ketua Panpel Persija Bobby Kusumahadi akan meminta keringanan hukuman, mengingat Persija hanya menyisakan tiga pertandingan kandang lagi. Kemungkinan besar Persija akan membayar denda, seperti sebelumnya manajemen pernah dikenai denda Rp 150 juta karena ulah suporter.

Menurut Bobby, salah satu kerusuhan juga disebabkan adanya bobotoh yang nekat menyaksikan pertandingan. Ia menyayangkan ada suporter Persib yang nekat masuk stadion, padahal panitia penyelenggara sudah melarang mereka.

“Ada sembilan orang bobotoh diamankan di dalam stadion,” kata Bobby.

Namun, pihak kepolisian tidak menemukan bobotoh maupun viking di dalam stadion yang terlibat perkelahian. Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ahmad Lutfi, mengatakan kerusuhan terjadi antarsuporter Persija sendiri yang berkelahi.

“Gesekan itu sesama Jakmania sendiri, mereka yang kita amankan itu suporter Persija semua,” kata Luthfi.

Akibat kerusuhan, sebanyak 7 orang luka-luka dan sempat dilarikan ke rumah sakit, sedangkan 60 suporter Persija diamankan polisi karena kedapatan mabuk dan membawa minuman keras saat polisi menyisir area stadion sebelum pertandingan dimulai.

Sementara itu, informasi dari kepolisian menyebutkan Polda Jawa Tengah sejak sehari sebelumnya berhasil mencegat 13 bus berisi rombongan bobotoh yang akan melintasi perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat, yaitu di Cilacap dan Brebes. Mereka meminta bobotoh untuk kembali. —Rappler.com