Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *

Please provide your email address

welcome to Rappler

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Annual Subscription

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

welcome to Rappler+

Jelang Idul Adha, MUI ingatkan fatwa tentang sampah

JAKARTA, Indonesia – Ada dua hal yang membuat saya menulis ini, jelang Idul Adha 1438 H yang jatuh pada 1 September 2017.  Pertama, soal tambahan produksi sampah. Kedua, soal makanan sisa.

Sebuah diskusi mingguan yang digelar oleh kelompok “Pojok Iklim” pada Rabu, 23 Agustus 2017 lalu, menjadi pengingat.  Menyentakkan saya, dan kelihatannya yang hadir juga.  Diskusi menghadirkan pembicara Nana Firman, direktur Green Faith, yang berpusat di AS.  

Green Faith adalah sebuah koalisi lintas agama untuk lingkungan hidup. Nana juga seorang pemimpin perubahan iklim dan ikut mendirikan Jaringan Perubahan Iklim Muslim Global (Global Muslim Climate Network).

Nana menceritakan bagaimana dirinya sebagai wakil dari penggiat lingkungan hidup beragama Islam, mencoba menyuarakan peran ajaran agama dalam membangun kesadaran terhadap lingkungan hidup.  “Sebagai anggota Green Mosque Committee di AS, saya terlibat ikut membuat Green Masjid Guidelines dan kampanye Green Ramadan setiap tahun,” tutur Nana.  

Tahun 2016, Rappler menjadikan Green Ramadan sebagai tema editorial kami selama bulan suci Ramadan, terinspirasi apa yang dilakukan Nana Firman.  Di dalamnya termasuk bagaimana kita kurangi konsumsi berlebihan dan makanan sisa, kurangi sampah, serta hemat air dan energi.

Nana menggunakan ayat-ayat di kitab suci Al Qur’an untuk mengajak kepedulian muslim menjaga planet bumi. Misalnya, Surah Al Baqarah ayat 172 yang bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”  

“Makanan tidak sekedar halal saja, tetapi tayyib, diproses sebagai baik, dan berkelanjutan,” kata Nana.

Makanan sisa menjadi problem dunia, karena terlanjur sudah menghasilkan emisi karbon dalam proses dari pertanian sampai ke piring makan. Data tahun 2011 saja,  dunia memproduksi sekitar 1,3 miliar ton makanan sisa per tahun, atau sepertiga dari jumlah produksi makanan global. Betapa mubazirnya.  

Data terbaru menunjukkan Indonesia adalah produsen makanan sisa kedua paling banyak di dunia sesudah Arab Saudi. Setiap orang di Indonesia menghasilkan sampah makanan seberat 300 kilogram per tahunnya!

Indonesia juga ada di posisi 24 di daftar 25 negara yang upayanya paling minim untuk mengurangi sampah makanan. “Kalau pergi ke kondangan, biasanya orang menumpuk makanan di piring, lantas tak habis dimakan. Dibuang.  Mubazir. Sudah menambah emisi karbon,” kata Nana.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hayu S. Prabowo yang hadir dalam diskusi itu berkomentar, “Perilaku boros termasuk meninggalkan sisa makanan menjadi sampah, yang mubazir, adalah temannya setan.”  Itu disebut pula dalam Al Qur’an.

MUI terbitkan fatwa sampah

Hayu Prabowo lantas mengingatkan bahwa MUI telah menerbitkan fatwa tentang sampah, tanggal 7 November 2014. Fatwa ini diminta oleh kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  

“Sayangnya, banyak yang belum tahu fatwa ini, padahal dimuat secara lengkap di situs MUI,” kata Hayu. Fatwa MUI Nomor 47 Tahun 2014 itu tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.

Dalam bagian menimbang, fatwa MUI mengingatkan antara lain bahwa, “Manusia diciptakan Allah SWT sebagai Khalifah di bumi untuk mengemban amanah dan bertanggung jawab memakmurkan bumi.” 

MUI juga meninbang, “Telah terjadi peningkatan  pencemaran lingkungan hidup yang memprihatinkan karena rendahnya kesadaran masyarakat dan kalangan industri dalam pengelolaan sampah.”

Kemudian, MUI mengingatkan, bahwa, “Firman Allah SWT yang menugaskan manusia sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi dan dan melestarikan lingkungan.”

Antara lain adalah, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata; ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Al Baqarah, ayat 30.

Tentang pentingnya menjaga kebersihan, MUI mengutip,  firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”  Al Baqarah ayat  222.

Tentang pesan agar kaum Muslim menjaga planet bumi, MUI mengutip Firman Allah, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya.”  Al A’raf , ayat 56. 

MUI juga menyampaikan dalam fatwa tersebut, pengingat bagi kaum Muslim akan akibat pengrusakan lingkungan hidup, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ar Rum ayat 41.

Dikutipkan pula hadist At Tirmidzi, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan.  Oleh sebab itu bersihkanlah lingkunganmu.”

Atas dasar pertimbangan dan pengingat dalam Al Qur’an, juga merujuk kepada Undang-undang yang ada, MUI memutuskan fatwa tentang pengelolaan sampah dengan ketentuan hukum sebagai berikut: 

Momentum Idul Adha

Hayu mengajak umat Muslim untuk memanfaatkan momentum Idul Adha 2017 untuk menjalankan fatwa MUI tentang sampah.  “Mari meraih berkah Idul Adha dengan lingkungan yang bersih dan sehat,” adalah tema yang diusung MUI.

Di dalamnya ada pengingat, agar tidak meninggalkan sampah koran bekas sebagaimana yang selama ini terjadi usai Salat Id.  “Panitia diharapkan terus-menerus mengingatkan. Tapi, kita sebagai Muslim bisa memulai dari diri sendiri dan mengingatkan sekitar kita,” ujar Hayu.

Menggunakan alas salat yang bisa dibawa pulang dan digunakan kembali, menghindari sikap mubazir. Memberikan rezeki koran bekas kepada pemulung bisa dilakukan dengan melipat rapi koran dan ditumpuk secara berkelompok, dan bukannya ditinggalkan, diinjak-injak dalam keadaan robek dan kotor sehingga mubazir.

Soal kantong pembungkus daging kurban, MUI mengingatkan agar jangan menggunakan kantong plastik kresek hitam.  “Gunakan kantong plastik ramah lingkungan, atau daun, atau kantong kertas, atau kardus,” kata Hayu.

Menyangkut penyembelihan hewan qurban, MUI mengingatkan agar limbah kotoran hewan kurban dibuang ke septic tank. “Baik juga ditampung, dipendam lalu dijadikan pupuk. Jangan dibuang sembarangan,” ujar Hayu. 

Dia mengingatkan, jika limbah kurban dibuang ke sungai seperti kebiasaan selama ini, akan menimbukan bakteri E-coli, yang sangat berbahaya bagi manusia.

Mengikuti diskusi Pojok Iklim ini menjadi pengingat bahwa lebih dari cukup alasan untuk memulai hidup sadar lingkungan. Saya yakin, ajaran semua agama tentang pentingnya menjaga kelangsungan planet bumi, senada seirama. Jadi, mengapa kita tidak mencoba memulainya? Selamat Idul Adha.

Berikut fatwa MUI tentang sampah:

 

– Rappler.com