Di hadapan mahasiswa Oxford, JK sempat singgung kasus hukum Ahok

JAKARTA, Indonesia - Wakil Presiden Jusuf “JK” Kalla menyampaikan pidato kuliah umum di Oxford Center for Islamic Studies, Inggris pada Kamis, 18 Mei sekitar pukul 17:00 waktu setempat. Kedatangan JK sempat menimbulkan protes lantaran dia dianggap bukan figur yang tepat untuk membawakan pidato dengan tema “Middle Path of Islam”.

Tema pidato itu pun mengalami perubahan, karena dalam tiket yang telah dipegang oleh mahasiswa, JK diinformasikan akan berbicara mengenai “Moderate of Islam”. Ketika tiba di depan gedung kampus, mantan Ketua Palang Merah Indonesia itu disambut oleh beberapa orang yang membawa poster berisi protes terhadap intervensinya dalam proses Pilkada DKI.

Kendati di bagian luar gedung sempat diprotes, namun mahasiswa tetap memadati ruang auditorium kampus. Dalam pidatonya, JK sempat menyinggung mengenai kasus hukum yang tengah dihadapi oleh gubernur non aktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Dia mengatakan proses hukum terhadap Ahok masih terus berlanjut ke tingkat Pengadilan Tinggi. Usai dinyatakan bersalah dan terbukti menodai agama Islam, Ahok langsung mengajukan gugatan banding.

“Di bawah hukum Indonesia, masih ada jenjang yang bisa dilalui hingga ke tahap Mahkamah Agung,” kata JK.

Dia menjelaskan bahwa Ahok dituduh telah melakukan penodaan agama dengan mengutip ayat Al-Quran saat tengah berkampanye. Hal itu bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Pak Purnama atau yang lebih populer disapa ‘Ahok’, yang saya kenal secara pribadi merupakan sosok gubernur yang berdedikasi tetapi impulsif dan emosional. Dia menyindir bahwa lawan politiknya telah menggunakan ayat Al-Quran supaya warga tidak memilihnya,” kata dia.

Hal itu menyebabkan beberapa kali aksi demonstrasi di ibukota Jakarta. JK menyebut aksi itu berjalan damai. Namun, pada kenyataannya aksi 4 November berakhir dengan ricuh.

Massa yang diklaim sebagai provokator membakar kendaraan milik polisi karena tidak diterima harus membubarkan diri. Polisi pun merespons aksi tersebut dengan menembakan gas air mata ke udara.

“Saya menyadari bahwa Inggris dan beberapa negara lain di Eropa memiliki sistem hukum yang berbeda menyikapi hal ini. Tetapi, sebagai bagian dari sistem demokrasi, kami harus menegakan hukum dan independensi pengadilan,” kata dia.

Hal lain yang disampaikan dan cukup menarik yaitu mengenai peranan yang dimainkan oleh masjid di Indonesia. Di saat Pilkada DKI, masjid banyak disoroti oleh publik karena kerap dimanfaatkan untuk kegiatan politik dan penyebaran ceramah yang dinilai dapat menganggu persatuan rakyat Indonesia.

Sementara, menurut JK, masjid diharapkan bisa memainkan peranan untuk memahami langkah Islam atau yang disebut Wasatiyah Islam dan toleransi di antara warga. JK berharap masjid juga dapat menjadi institusi yang mendukung program pemerintah dalam hal deradikalisasi dan melawan radikalisme, anti terhadap narkoba serta meningkatkan pendidikan terhadap keluarga.

“Oleh sebab itu, masjid juga berfungsi tidak hanya sebagai tempat untuk beribadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial, kebudayaan, aktivitas pendidikan, layanan kesehatan dan pusat ekonomi,” katanya.

Indonesia yang toleran

BERKELILING. Wakil Presiden Jusuf u0022JKu0022 Kalla diajak berkeliling melihat kampus Oxford Islamic Centre yang baru saja dibuka. Foto: istimewa

BERKELILING. Wakil Presiden Jusuf u0022JKu0022 Kalla diajak berkeliling melihat kampus Oxford Islamic Centre yang baru saja dibuka.

Foto: istimewa

Petinggi Partai Golkar itu juga menyebut bahwa Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi toleransi. Betapa tidak, kendati mayoritas penduduknya beragama Islam, namun pemerintah juga mengakui lima agama lainnya yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

“Indonesia juga dikenal akan keragamannya, baik itu etnis, budaya dan bahasa setempat. Namun, itu semua dirayakan di bawah semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari Bahasa Sansekerta yang identik dengan agama Hindu,” kata dia.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu, menurut JK justru membuat antar warga menjadi toleran dan bisa hidup berdampingan secara harmonis. Bahkan, terlepas dari kasus Ahok, banyak pejabat lain baik itu di tingkat Menteri atau Gubernur yang terpilih dari agama selain Islam.

“Bahkan, kami pernah memiliki Menteri dengan latar belakang Sikh. Saya yakin ini keunikan yang jarang ditemui di tempat lainnya di mana didominasi oleh satu agama tertentu,” tutur JK.

Walaupun JK mengakui tidak mudah untuk menjaga keragaman itu. Ada beberapa organisasi kecil yang diketahui terkait dengan gerakan radikal mencoba untuk memecah Indonesia. Pemikiran radikal mereka dibawa oleh para pejuang asing yang kembali dari peperangan di Afghanistan dan perekrutan organisasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak.

“Tetapi, apa pun ideologi dan ajaran yang coba mereka sebar luaskan di Indonesia tidak pernah sukses, karena adanya peranan penting yang dimainkan oleh dua organisasi besar Islam yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang memiliki anggota hingga 100 juta orang,” katanya.

Di bagian akhir, JK menceritakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan untuk membangun Universitas Islam Internasional Indonesia yang diharapkan menjadi pusat baru untuk pembelajaran mengenai agama Islam. Dia berharap antara kampus tersebut dengan Oxford bisa dijalin sebuah kerja sama. Dengan begitu pemikiran ekstrimis dan radikal bisa dicegah.

“Ini juga merupakan kontribusi Indonesia dalam pembangunan perdamaian di kawasan dan dunia,” kata dia.

Lalu, bagaimana pendapat mahasiswa Indonesia mengenai pidato JK? Sandoko Kosen mengatakan pidato JK cukup menarik, karena menjawab beberapa pertanyaan seperti kasus Ahok yang masih bergulir di pengadilan dan banyaknya pengajaran mengenai Islam yang keliru. 

"Walaupun dalam pandangan saya aksi protes di Jakarta tidak berjalan damai seperti harapan saya. Tetapi, saya mungkin saja bisa keliru menilai ini," kata Sandoko melalui pesan pendek. 

Dia juga menyebut konsep JK yang disebut "Middle Path of Islam" dinilai cukup menarik, karena hal tersebut belum pernah didengar sebelumnya. - Rappler.com