Di depan para bankir, Jokowi mengaku pontang-panting

JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengakui dirinya belakangan sempat pontang-panting gara-gara menghangatnya situasi politik dalam tiga pekan terakhir.  

“Akhir-akhir ini stuasi politik sedikit memanas. Sedikit. Ini biasa sebetulnya dalam pilkada, tensinya tambah anget sedikit. Biasa, sangat biasa.  Tetapi, karena banyak sekali faktor -faktor yang lain, yang sebetulnya pilkada ini tidak hanya di DKI Jakarta saja.  Ada 101 pemilihan bupati, walikota dan gubernur di seluruh Indonesia, tetapi sekali lagi tetapi, memang di Jakarta ini istimewa, sehingga kejadian yang kemarin itu yang kita lihat. Anget sedikit lah. Meskipun saya cukup pontang-panting ke sana ke sini.  Tapi sekali lagi, itu hal biasa dalam sebuah pilkada.  Saya ingat pilgub 2012 juga mirip-mirip, karena saya merasakan sendiri di lapangan,” demikian cerita Jokowi dalam acara Banker’s Dinner yang diselenggarakan Bank Indonesia, Selasa malam, 22 November. 

Dalam acara tahunan yang kali ini mengusung tema, “Mengoptimalkan Potensi, Memperkuat Resiliensi” itu, Jokowi menyampaikan sambutannya setelah sambutan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.

Sambil tersenyum, Jokowi mengatakan, “Karena pontang-panting itu, saya yang biasanya enggak pernah naik kuda, harus naik kuda.  Sekali lagi hanya anget.  Jadi yang di sini para ekonom-ekonom jangan ikut memanas-manasi. Anget. Biasa.”

Sentil pertanyaan jurnalis

“Justru orang-orang kita ini kadang-kadang lucu.  Misalnya, saya bertemu dengan Pak Prabowo.  Mestinya yang ditanyakan yang  substansial,  yang paling penting, misalnya masalah politik kebangsaan atau ketatanegaraan kita. Tetapi ndak, yang ditanyakan media, Pak, tadi makannya lauknya apa?  Saya sudah hafal pertanyaan itu, ya saya jawab  ikan bakar. Ketemu tokoh yang lain, kemarin makan ikan bakar, tadi makan apa, Pak?  Saya jawab makan bakmi godog.”

Di depan ratusan hadirin, mayoritas para bankir dan pengusaha, Jokowi mengatakan dirinya membahas hal-hal yang substansial saat bertemu dengan Megawati Sukarnoputri, Prabowo Subianto, Surya Paloh, Romahurmuzy dan Setya Novanto(BACA: Jokowi makan siang dengan Megawati di Istana).

Menurut Jokowi, pertemuan dengan tokoh-tokoh ketua partai politik sering dia lakukan.  Kebanyakan tertutup. 

“Tapi karena ini perlu, agar masyarakat tahu kita sudah bicara dengan ketua partai, mengunjungi markas TNI dan Polri,  agar memberikan ketenangan,  agar kita bisa mengejar ketertinggalan pembangunan kita dengan negara lain. Jangan kita disibukkan oleh tensi politik yang sedikit anget pada satu dua tiga minggu ini, sehingga urusan politik kita tinggalkan dulu, kita masuk dalam ekonomi pembangunan.”

Bahas hasil Pilpres AS dan terpilihnya Trump

PERTEMUAN TAHUNAN. Presiden RI Joko Widodo berpidato saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, di Jakarta, Selasa, 22 November. Slide tersebut ditampilkan ketika dunia terkejut saat mengetahui Donald J.Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Foto oleh Reno Esnir/ANTARA

PERTEMUAN TAHUNAN. Presiden RI Joko Widodo berpidato saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, di Jakarta, Selasa, 22 November. Slide tersebut ditampilkan ketika dunia terkejut saat mengetahui Donald J.Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Foto oleh Reno Esnir/ANTARA

“Kita lihat saat pemilihan presidan di AS, presiden terpilih Trump dipastikan menang.  Semua orang kaget. Kalau saya, ya biasa saja. Kekagetan itu kata orang, menyebabkan ketidakpastian. Kalau saya tidak. Banyak orang bilang kebijakan ekonomi Trump akan proteksionis, bunga bank Fed akan melonjak sangat tinggi.  Saya kira presiden terpilih Trump bukan seperti yang kita bayangkan. Saya kira dia mempunyai penciuman bisnis, penciuman ekonomi yang sangat tajam. Saya masih meyakini bahwa yang akan dilakukan adalah hal-hal yang baik untuk AS maupn untuk dunia. Tidak mungkinlah dia, misalnya melakukan sesuatu yang merugikan semua negara, enggak mungkin,” kata Jokowi.

Jokowi mengajak dunia usaha jangan mudah ditakut-takuti oleh isu-isu yang sebetulnya belum terjadi.

“Tetapi, faktanya betul, seperti disampaikan Gubernur BI, pertumbuhan ekonomi dunia masih belum baik, volume perdagangan turun, lebih rendah, ini fakta. Harga komoditas sedikit sudah naik, tetapi juga masih pada posisi yang belum normal,” ujar mantan Walikota Solo itu.

Jokowi menjelaskan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada triwulan 1  tahun ini sebesar 4,94 persen, triwulan 2 5,18 persen, dan triwulan 3 sebesar  5, 02 persen. 

“Saya kira kalau kita bandingkan dengan negara lain kita masih dalam posisi yang sangat baik. Kenapa kita begitu pesimis, mengapa kita tidak optimis menuju ke depan. Enggak ada hal yang menyebabkan kita pesimis, kenapa? Inflasi tahun lalu  3,3 persen, tahun ini juga 3,3 persen, sangat terjaga sekali. Defisit transaksi berjalan juga masih pada posisi yang bisa dikendalikan dengan baik. Jadi kalau ada isu-isu, memang kita ini senangnya ngegosip sama isu. Ada isu-isu yang tidak baik, sebenarnya kecil, digedein. Ini yang menyebabkan kita enggak punya optimis yang tinggi. Padahal dalam survei, Indonesia ada di peringkat ke-2 negara yang paling optimistis, setelah China. Tapi dalam faktanya, kadang-kadang kok kelihatan kita ini pesimistis. Dalam survei ternyata tidak.”

Tiga prioritas 

Tahun lalu posisi Indonesia dalam kemudahan berusaha ada di peringkat 106 dunia.  Saat ini naik meloncat ke posisi 91.

“Tetapi memang problem  kita di daya saing dan kemudahan berusaha ada di tiga hal penting, yaitu korupsi dan pungli, inefisiensi birokrasi dan keharusan mengejar ketertinggalan dalam pembangunan infrastruktur,” kata dia.  

Jokowi mengatakan ingin fokus menangani tiga hal tersebut, termasuk dengan meluncurkan paket deregulasi ekonomi. Dia yakin jika tiga hal itu diselesaikan, Indonesia akan memiliki fondasi yang baik untuk tinggal landas menuju level yang lebih baik.

Selain soal daya saing dan kemudahan menjalankan bisnis, Jokowi menyinggung hal kedua yang masih menjadi kendala, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas.

“Penting sekali. Karena di sisi inilah kita sangat kurang.  Apa yang harus kita lakukan di sini, saya kira banyak sekali. Harus mengubah hal-hal yang dulu konsumtif, masuk ke hal-hal yang produktif. Sebulan setelah dilantik sudah saya lakukan memotong subisidi BBM. Pada tahun 2014, mencapai hampir Rp 300 triliun.  Sebuah angka yang besar, kita alihkan ke hal-hal produktif, membangun irigasi, pendidikan, perbaikan pelayanan kesehatan, dan kita harapkan dengan produktivitas itu, kita nantinya berkompetisi dan bersaing dengan negara lain,” ujar Jokowi yang menyampaikan pidatonya dilengkapi dengan presentasi grafis dan gambar di layar lebar digital.  

“Saat ini, kita membangun infrastruktur naik hampir 76 persen, itu kelihatan sekali di lapangan. Yang kita bangun misalnya jalan tol, pelabuhan-pelabuhan besar, bandara-bandara, baik terminal maupun runway-nya. Dengan demikian kita harapkan biaya transportasi, biaya logistik, jatuh lebih murah, harga barang jatuh lebih murah. Jalur kereta api, kita harus kejar. Dan saya ingin fokus ke sini,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu. 

Menurut Jokowi, prioritas pembangunan infrastruktur akan diberikan kepada swasta. Jika swasta tidak bersedia, karena Internal Rate of Return yang kurang, maka akan ditawarkan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jika BUMN tidak bisa, baru disediakan dana Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam 5 tahun ini dibutuhkan dana kurang lebih Rp 4.900 triliun, khusus untuk  membangun infrastruktur. Menurut Jokowi, negara hanya bisa menyediakan kira-kira  Rp 1.500 triliun. Sisanya? Investasi swasta.  

“Kalau tidak kita harus menunggu 15-20 tahun untuk membangun yang kita butuhkan,” kata dia.

Pentingnya mendukung industri e-commerce

“Mengenai pentingnya e-commerce saya setuju pasar kita adalah sebuah pasar yang besar. Di Tiongkok, kita lihat lebih spesifik lagi ke Alibaba. Mereka betul-betul menyiapkan itu dengan sangat terencana.  Bagaimana logistic platform disiapkan baik, retail platform baik, betul-betul memberikan manfaat bagi rakyat terutama usaha kecil dan usaha mikro, sehingga mereka memiliki market place untuk jual produk-produknya secara online.  Saya kira negara kita memerlukan platform seperti itu baik logistik maupun ritel.  Karena apa pun kita harus sadar dengan 17 ribu pulau yang tidak mungkin kita jangkau dengan infrastruktur jalan darat maupun kereta api, akan lebih cepat dengan infrastruktur IT.  Logistic dan retail platform  kita siapkan  dengan baik agar bisa menjangkau seluruh pelosok negara.”

Sumber Daya Manusia harus dibangun

“Sekolah vokasi, sekolah menengah kejuruan, dalam praktiknya setelah kita lihat detil ke lapangan, apa yang keliru dari SMK kita?  70-80 persen guru-gurunya adalah guru normatif.  Padahal ini  SMK, sekolah vokasional, yang harusnya guru-gurunya adalah  pelatih.  Bisa melatih buat jendela, bangunan, merakit mesin.  Lah ini kok gurunya yang ada guru fisika, guru kimia, guru PMP, matematika. Ini kita balikkan. Kita bekerjasama dengan industri, dengan Kadin, HIPMI, karena kita ingin banyak orang-orang teknik yang ada di pabrik, tahu permesinan, bisa kita pinjam untuk memberi pelatihan di sekolah-sekolah kejuruan kita. Dari vocational training, keluarannya setiap tahun hanya 300-400 orang. Kita butuhkan yang jutaan anak-anak dengan  skill yang tinggi,” kata Jokowi.

Pada bagian akhir dari pidatonya Jokowi kembali menekankan optimis akan ekonomi Indonesia.

“Saya sangat optimistis, tentu saja dengan dukungan masyarakat dan dunia usaha, optimis bahwa ekonomi kita akan lebih baik di 2017,  meskipun kalau bertemu dengan semua kepala negara, semuanya mengeluh dan kelihatan pesimis.  Saya ndak.  Sesulit apapun kondisi ekonomi dunia, kita harus mengambil kesempatan, sekecil apapun kesempatan itu,” ujar dia. – Rappler.com