Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Kebakaran di Semeru diduga karena api unggun pendaki


MALANG, Jawa Timur – Sebagian Gunung Semeru masih membara setelah terbakar sejak empat hari lalu. “Api diduga berasal dari api unggun pendaki yang tidak padam sempurna,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari pada Rappler, Sabtu 24 Oktober 2015. . 

Dia menjelaskan, walaupun ada papan larangan menyalakan api unggun, namun banyak pendaki yang masih melanggar dan menyebabkan kebakaran, terutama di musim kemarau, Kebakaran terjadi di empat blok, yaitu blok 2,3, Watu Rejeng, dan Landengan Dowo, empat blok yang dekat dengan jalur pendakian ke Semeru. 

Sebanyak 52 petugas gabungan diterjunkan untuk memadamkan kebalakaran dengan metode tradisional. Mereka adalah petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, masyarakat setempat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Kepolisian setempat. 

Proses pemadaman masih dilakukan hingga saat ini. Petugas menggunakan metode pemadaman sederhana, seperti membuat sekat bakar atau memadamkan api dengan ijuk dan alang-alang yang ada di sekitar api. 

Adapun proses evakuasi pendaki telah tuntas dilakukan dan tidak ada lagi pendaki yang ada di Semeru. “Sekitar 30 pendaki telah tiba di Ranupani petang kemarin. Semuanya dalam kondisi sehat,” kata dia. Evakuasi tersebut menandai sterilnya Gunung Semeru dari pendaki. 

TNBTS telah menutup total Semeru sejak Kamis 22 Oktober 2015 hingga batas waktu yang tidak ditentukan. "Penutupan ini untuk menghindari musibah, belajar dari kasus kebakaran di Gunung Lawu,” kata Ayu Dewi.
TERBAKAR. Bukit yang sudah terbakar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: Rappler/Dyah Ayu Pitaloka

Bromo, Tengger Semeru Habitat Banyak Satwa Liar

Kebakaran di lereng Gunung Semeru dan kawasan TNBTS lain juga membuat lembaga konservasi satwa dan hutan khawatir. “Kebakaran akan berdampak pada kehidupan satwa. Semeru jadi habitat lutung jawa, macan, rusa dan merak,” kata Rosek Nursahid, Chairman lembaga konservasi satwa dan hutan, ProFauna.

Sebab, meskipun tak luas, Gunung Semeru banyak dihuni satwa langka dan endemik Jawa seperti lutung jawa, rusa, merak dan macan. Bahkan, harimau jawa yang disebut telah punah, dipercaya masih sering menampakkan diri di sekitar Semeru. Sejak tahun lalu TNBTS memasang beberapa kamera untuk menangkap penampakan harimau jawa meskipun belum menunjukkan hasil hingga saat ini. 

“Kebakaran akan berdampak pada kehidupan satwa, mulai dari pakan, jalur lintasan, dan interaksi spesies,” ujar dia. Padahal selama ini Semeru masuk kategori lingkungan hutan yang masih terjaga. Tahun 2007 silam ProFauna sempat memilih Semeru sebagai tempat melepasliarkan lutung, merak dan rusa. - Rappler.com

BACA JUGA: