Keluarga mengaku lega Handika tak terbukti bergabung kelompok Fethullah Gülen

SEMARANG, Indonesia - Keluarga Handika Lintang Saputra mengaku lega begitu mengetahui putra kesayangan mereka dinyatakan tidak terlibat kelompok Fethullah Gülen. Kelompok tersebut diklaim oleh pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai dalang kudeta pada bulan Juli lalu.

Ibu Handika, Supartiningsih mengaku sudah mengetahui jika putranya dibebaskan sejak Rabu malam, 23 November. Kabar itu disampaikan langsung oleh pejabat di KBRI Ankara.

“Saya sangat lega dan senang karena pada akhirnya dia tidak terbukti bersalah. Dan saya bahagia sekali mendengar kalau dia dibebaskan dari tuduhan kudeta oleh Pemerintah Turki,” ujar warga Dukuh Plintaran Desa Tlogo, Sukoharjo, Wonosobo itu kepada Rappler pada Kamis, 24 November.

Supartiningsih sejak awal sudah yakin jika Handika sama sekali tidak terlibat kudeta yang diduga dilancarkan oleh kelompok Fethullah Güllen. Sebab, dia mengaku sangat kenal sosok putranya yang tekun belajar dan tidak memiliki kepribadian radikal.

Oleh sebab itu, mustahil jika Handika terlibat dalam kelompok Güllen yang ingin merongrong pemerintahan Erdogan.

“Sejak sekolah di SMA Semesta Semarang, dia anak yang cerdas dan penurut. Memang enggak mungkin terlibat hal-hal seperti itu,” kata dia.

Sementara, untuk proses pemulangan putranya, Supartiningsih masih menunggu kabar selanjutnya dari Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Turki di Jakarta. Dia optimistis Pemerintah Indonesia mampu membantu penyelesaian kasus yang kini masih menjerat anaknya.

Di sisi lain, Handika sudah menghubungi keluarga pada Rabu malam. Dia meminta kepada keluarga untuk tidak cemas karena saat ini berada dalam keadaan sehat.

“Handika minta keluarga yang ada di Wonosobo untuk tetap tenang dan tak cemas,” kata perempuan berusia 46 tahun itu menirukan ucapan Handika.

Berdasarkan pembicaraan keduanya, Handika mengatakan sementara waktu telah diizinkan kembali ke Ankara. Mahasiswa semester VII itu kini bermukim di Wisma Negara yang berada di dalam kompleks gedung KBRI. Dia rela harus bolak-balik Ankara-Gaziantep, tempat tinggalnya selama di Turki.

Ingin lanjut kuliah

Usai dinyatakan bebas dari penjara, Handika ingin melanjutkan studinya yang sempat terbengkalai di jurusan matematika Universitas Gaziantep.

“Apalagi, dia sudah tiga tahun (kuliah) di sana. Makanya, dia ingin meneruskan kuliah sampai rampung. Harapan kami, dia lekas mendapat (nilai) yang terbaik,” ujar Supartiningsih.

Perasaan lega fuga dirasakan petinggi SMA Semesta Asrama Bilingual, tempat di mana Handika pernah menimba ilmu. Kepala SMA Semesta Asrama Bilingual, Imam Husnan Nugroho sangat bersyukur seorang alumninya terbebas dari tuduhan ikut serta melakukan kudeta. Dia mengaku siap menyambut kepulangan Handika jika studinya sudah selesai.

“Insya Allah kalau sudah pulang kami akan ikut jemput ke bandara atau berkunjung ke rumah orang tuanya,” kata Husnan.

Namun, Husnan menyarankan agar Handika kembali dulu ke Tanah Air untuk sementara waktu, sambil menunggu situasi di Turki kondusif.

Sejauh ini, masih ada lebih dari 50 teman seangkatan Handika yang masih tinggal di negeri berlambang bulan sabit itu. Semuanya masih melanjutkan kuliah dengan menggunakan biaya pribadi pasca Yayasan Pasiad memutuskan dana beasiswa mereka.

“Mereka pasti pilih kuliah sampai lulus di sana. Apalagi jenjang pendidikannya hampir selesai semua,” tutur dia.

Handika menjadi satu-satunya pelajar Indonesia yang ditahan paling lama oleh otoritas berwenang Turki. Dia ditahan sejak bulan Juni lalu di apartemen tempatnya bermukim karena diduga menjadi bagian dari kelompok Gülen.

 

Namun, dalam Pengadilan Turki pada Selasa, 22 November membebaskan Handika dari tuduhan ikut makar dengan kelompok tersebut. - Rappler.com