Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Janji Bripda Taufan Tsunami bawakan durian untuk sang Ibu yang tak terpenuhi

JAKARTA, Indonesia - Tiga orang personel Polri diketahui tewas dalam ledakan bom panci di Terminal Kampung Melayu pada Rabu malam, 24 Mei. Satu di antaranya adalah BripdaTaufan Tsunami yang ikut mengamankan kegiatan pawai obor dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

Rupanya posisi Taufan dengan salah satu pelaku bom bunuh diri cukup dekat. Sehingga, dia terkena materi paku dan gotri yang terdapat di dalam bom panci tersebut.

Ibu Taufan, Khatijah, mengaku sempat tidak percaya bahwa anak laki-laki satu-satunya itu akan pergi untuk selama-lamanya. Sebab, sekitar pukul 19:00 WIB, dia masih mendengar suara putera kesayangannya itu.

“Umi sedang ngapain?,” ujar Khatijah menirukan suara puteranya di telepon pada Kamis, 25 Mei di depan media.

Perempuan 54 tahun itu pun menjawab tidak melakukan kesibukan yang berarti. Dia justru bertanya mengapa situasi di telepon berisik sekali.

“Iya, saya sedang melakukan pengamanan di jalan raya, Umi,” kata Khatijah sambil berurai air mata.

Sebelum telepon ditutup, Taufan sempat bertanya jika ada makanan tertentu yang ingin dibawa pulang ke rumah.

“Dia meminta saya untuk menunggu dia pulang jam 01:00 dini hari. Taufan janji akan membawakan buah durian yang besar dan enak,” kata Khatijah di depan makam puteranya.

Ini pesan terakhir Ibunda Taufan saat di telepon: "Nanti jam 01:00 dini hari saya akan bawakan duren yang enak." https://t.co/moAG7MgHTy pic.twitter.com/XZPsRClJwi — Rappler Indonesia (@RapplerID) May 25, 2017

Namun, Taufan justru tidak menampakan batang hidungnya. Khatijah justru mendengar kabar mengenai peristiwa ledakan bom di Terminal Kampung Melayu. Di televisi, Khatijah sempat melihat nama salah satu korban tewas bernama Taufan Anton. Khatijah sempat merasa lega karena itu bukan nama anaknya.

Tetapi, tangisnya pecah ketika melihat foto putera kesayangannya masuk televisi walau ditulis dengan nama “Taufan Anton”. Janji Taufan untuk membawakan buah durian pun kandas dan hanya bisa jadi sekedar kenangan.

Khatijah dan sang suami tidak berhenti menangis saat jasad putera kebanggaan mereka tiba di rumah di area Jatisampurna, Bekasi Barat pada Rabu malam. Ekspresi serupa juga masih nampak ketika jasad Taufan dimasukan ke liang lahat di Taman Pemakaman Umum Pondok Rangon pada Kamis siang, 25 Mei. Tatapan mata mereka datar, seolah tak percaya putera mereka sudah tiada.

Khatijah mengatakan sejak awal tidak pernah mendikte puteranya itu untuk masuk Akademi Kepolisian.

“Itu kemauannya sendiri untuk menjadi seorang polisi. Dia bilang ada tes terbesar yang sedang dibuka di kepolisian, barang kali bisa masuk,” kata Khatijah.

Sosok panutan

LEDAKAN BOM. Situasi di Terminal Kampung Melayu pasca dua ledakan bom pada Rabu malam, 24 Mei. Foto oleh Diego Batara/Rappler

LEDAKAN BOM. Situasi di Terminal Kampung Melayu pasca dua ledakan bom pada Rabu malam, 24 Mei.

Foto oleh Diego Batara/Rappler

Sementara, upacara pemakaman Taufan dilakukan secara kemiliteran polisi. Kapolres Bekasi Kota, Hero Henrianto Bachtiar bertindak sebagai inspektur upacara yang memimpin upacara pemakaman di Pondok Rangon.

“Kita semua merasa kehilangan atas kepergian almarhum Taufan. Dia seorang rekan yang selalu memegang teguh prinsip dan loyalitas saat tengah berjuang. Dia rajin dan tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya,” ujar Hero yang ikut meneteskan air mata mengetahui salah satu anak buahnya gugur.

Saking rajinnya, kata Hero, Taufan tetap masuk bertugas pada tanggal 24-25 Mei, kendati hari ini tergolong libur. Tetapi, dia tidak membantah perintah atasannya untuk menjaga pawai masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

“Dia menjadi contoh bagi kita semua, di mana seorang petempur yang mengorbankan semua, termasuk dirinya. Ini patut menjadi teladan bagi kita semua,” kata dia.

Hero kemudian memerintahkan satu kompi personel kepolisian untuk ikut hadir jika keluarga menggelar acara doa di rumahnya.

Sementara, pihak kepolisian memberikan kenaikan pangkat bagi Taufan dan dua rekan lainnya yang gugur dalam ledakan bom Kampung Melayu. Direktur Sabhara Polda Metro Jaya Kombes Slamet Hadi menaikan pangkat Taufan dari Bripda menjadi Briptu Anumerta.

“Pangkat dinaikan seperti anggota lain (yang gugur), jadi Briptu Anumerta,” kata Slamet.

Batal menikah

Sementara, bibi Taufan, Ibu Nur mengatakan keponakannya itu baru sekitar empat tahun bertugas di kepolisian. Namun, dia memiliki mimpi segera melepas masa lajang dan menikahi sang kekasih.

“Pacarnya itu baru saja lulus sekolah tinggi ilmu kebidanan. Mereka kenal karena sama-sama teman waktu SMA dulu,” ujar Nur yang ditemui usai jenazah Taufan dibawa ke TPU Pondok Rangon pada Kamis, 25 Mei.

Kini rencana pernikahan pun tinggal mimpi. Sama seperti janji Taufan untuk membawakan sang ibu buah durian. Selamat jalan Briptu Taufan. - Rappler.com