Kata kritikus film tentang ‘Wonder Woman’

JAKARTA, Indonesia — Salah satu film paling ditunggu-tunggu tahun ini, Wonder Woman, akhirnya rilis di bioskop mulai Rabu, 31 Mei lalu.

Film ini bercerita tentang seorang pilot militer Amerika Serikat Steve Trevor (Chris Pine) yang terdampar di Themyscira, sebuah pulau surga di mana para petarung wanita seperti Diana (Gal Gadot) tinggal. Diana kemudian memutuskan untuk pergi dari rumah dan menghentikan Perang Dunia I dengan menjadi Wonder Woman.

Di samping alur ceritanya, Wonder Woman juga menjadi film yang paling diantisipasi karena beberapa hal. Sang sutradara Patty Jenkins merupakan perempuan pertama yang menyutradarai film live-action dengan dana 100 juta dolar. Selain itu, ini adalah film pertama baik bagi Studi Marvel dan DC dengan perempuan sebagai karakter utamanya.

Wonder Woman merupakan film keempat dari rangkaian film DC Extended Universe, setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Suicide Squad (2016). Ketiga film tersebut tidak mendapatkan review yang baik dari para kritikus saat dirilis.

Apakah Wonder Woman akan menjadi film superhero perempuan yang sukses atau mengecewakan? Berikut komentar beberapa kritikus film.

Steve Rose, The Guardian 

Steve Rose tidak terlalu senang dengan yang ditampilkan DC dalam film ini dan hanya memberikan dua dari lima bintang. Menurut Rose, atap kaca yang berusaha DC hancurkan masih kokoh, dan menyebut Diana yang diperankan Gal Gadot sebagai “Smurfette bersenjata”.

Awal film dirasa cukup baik, tetap keseluruhan film tidak menunjukan dominasi Diana di dunia patriakis.

“Dalam level film sampah dengan dana besar, Wonder Woman cukup menyenangkan. Tetapi banyak harapan untuk mendapatkan lebih dari itu,” katanya. Rose juga menyampaikan bahwa penulisan ulang skenario, pergantian karakter, atau menemukan sudut pandang baru bisa jadi alasan mengapa film ini mengecewakan.

Perang Dunia I dipilih sebagai latar dalam film 'Wonder Woman'. Foto dari Warner Bros Pictures

Perang Dunia I dipilih sebagai latar dalam film 'Wonder Woman'.

Foto dari Warner Bros Pictures

Alonso Duralde, The Wrap 

Alonso Duralde memiliki pandangan berbeda dari Steve Rose. Kritikus ini memberikan apresiasi tertinggi terhadap Wonder Woman. Cerita yang diberikan mungkin memang familiar, tetapi kualitas sesungguhnya ada pada detail film — leluconnya, romansanya, dan maknanya.

Duralde memuji cara Jenkins menggambarkan perang serta adegan action yang ditampilkan. Selain itu, yang juga dipuji adalah bagaimana penulis skenario Allan Heinberg berhasil bermain dengan karakter petarung wanita yang ada.

Satu-satunya komplain yang ia miliki adalah aksen Amazon — yang menurutnya dilakukan untuk mengontekstualisasikan Gal Gadot. Akan tetapi komplain ini tidak mengurangi kenikmatan menonton Wonder Woman. “Film musim panas yang meninggikan standar film lainnya bulan ini, dan tahun-tahun mendatang,” katanya.

Chris Nashawaty, Entertainment Weekly 

Chris Nashawaty memberikan nilai A- untuk Wonder Woman karena menurutnya “Wonder Woman adalah film yang cerdas, bersinar, dan memuaskan dibanding film superhero lainnya.”

Ia memuji penampilan Gal Gadot sebagai Diana yang lucu sekaligus garang, serta memuji chemistry antara Gal Gadot dan Chris Pine.

Nashawaty juga mengungkapkan pujian atas cerita yang dibangun pada Perang Dunia I (Wonder Woman dibuat saat masa Perang Dunia II). Menurutnya, cerita ini mendukung tema feminis yang diusung dalam film.

Namun, menurut Nashawaty, 30 menit terakhir dalam film sebenarnya tidak terlalu penting. “Tetapi sulit untuk mengingat hal buruk dalam film yang memberikan lebih banyak hal baik, terutama dalam karakter Wonder Woman yang ditampilkan dengan sangat baik oleh Gal Gadot,” katanya.

Penampilan Gal Gadot sebagai Diana dan Wonder Woman banyak menuai pujian. Foto dari Warner Bros Pictures

Penampilan Gal Gadot sebagai Diana dan Wonder Woman banyak menuai pujian.

Foto dari Warner Bros Pictures

Andrew Barker, Variety 

Andrew Barker setuju dengan Nashawaty. Ia merasa tampilan akhir film kurang memuaskan dengan pertempuran yang tidak realistis dan mengatakannya sebagai “CGI yang membunuh.”

Namun, sama seperti Nashawaty, ia memuji seluruh bagian film lainnya, dan menggambarkannya sebagai film yang “ramai, sungguh-sungguh, terkadang ceroboh, tetapi terus menghibur,” dan tak lupa memuji Jenkins dan Gadot.

Ia juga menuliskan bahwa, tidak seperti film DC sebelumnya, Wonder Woman berhasil menyeimbangkan antara humor dengan kegelapan yang terjadi di Perang Dunia I.

Menurut Sheri Linden, Wonder Woman adalah film yang bagus meskipun memiliki kekurangan: “Seharusnya bisa lebih garang, tetapi tujuan dari film ini sudah tepat.”

Wonder Woman, menurutnya, “melegakan” — film superhero yang lebih ringan dibandingkan dengan pendahulunya. Linden mengagumi sisi humor, chemistry dua pemeran utama, serta desain dan kostum.

Seperti beberapa kritikus lainnya, Linden juga mengkritisi bagian akhir film, tetapi tetap tidak mempengaruhi nilai terhadap film secara keseluruhan.

Apakah kamu sudah menonton Wonder Woman? Bagaimana menurutmu? Silahkan tuliskan pendapatmu di kolom komentar! —Rappler.com