Latte Factor: Mencermati kebiasaan kecil yang justru menjadi pengeluaran terbesar

JAKARTA, Indonesia - Belakangan ini istilah terkait urusan keuangan, latte factor, mulai sering terdengar. Pencetusnya adalah David Bach, seorang motivator, publik figur sekaligus pengusaha yang sukses dengan bukunya yang bertajuk Finish Rich.

Bach menyebut bahwa latte factor merujuk pada kebiasaan orang-orang menghabiskan penghasilan mereka justru dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. istilah latte dipilih karena merujuk pada hobi banyak orang mengonsumsi kopi setiap hari, apalagi di kota besar.

Tapi sebenarnya bukan cuma soal latte saja. Pengeluaran rutin yang dilakukan setiap hari, meski nilainya kecil, jika dikalkulasikan dalam periode seminggu, sebulan bahkan setahun, ternyata nilainya lumayan! Bayangkan jika nominal itu bisa ditabung dan dinvestasikan.

Sialnya lagi, kadang banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa pengeluaran-pengeluaran kecil tadi sebenarnya tidak memberikan banyak manfaat besar dalam kehidupan kita.

Tapi tentu saja, pengeluaran yang besar juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Pengeluaran untuk hal besar juga turut andil untuk menguras tabungan dan penghasilan. Tapi setidaknya, jika dimulai dari hal-hal yang kecil, kebiasaan menabung akan menjadi lebih baik. Kondisi keuangan pun bisa lebih stabil.

Lantas, bagaimana mencermati fenomena latte factor ini? Berikut beberapa penjelasan dan trik untuk bisa mengatur keuangan dengan lebih baik lagi.

Hitungan matematika sederhana

Saya tidak pernah menganggap diri saya ahli berhitung dan matematika. Tapi ketika mendalami soal latte factor ini, bahkan saya yang bermusuhan dengan matematika sejak kecil pun tahu, ini semua soal perhitungan dasar dan sederhana.

Bayangkan jika kamu setiap hari membeli kopi dengan ukuran terkecil. Satu gelasnya seharga Rp 50 ribu. Dalam seminggu, berarti dana yang harus dikeluarkan adalah Rp 350 ribu. Satu bulan? Rp 1,4 juta. Satu tahun? Rp 16,8 juta! Lumayan, kan?

Bukan cuma kopi. Misalnya urusan makan di luar. Saat ini, di Jakarta, untuk menikmati satu porsi makanan dan minuman di sebuah restoran menengah, kira-kira seseorang harus merogoh kocek senilai Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Coba kita ambil nilai tengahnya, Rp 125 ribu.

Satu minggu, biasanya saya dua kali makan di restoran. Berarti totalnya Rp 250 ribu. Sebulan Rp 1 juta dan setahun Rp 12 juta! Itu baru satu tahun dan satu jenis pengeluaran. Dalam 5-10 tahun, ditambah nilai inflasi, jika dana itu ditabung, pasti nilai investasinya akan sangat besar.

Nah, latte factor ini mengajarkan kita tentang bahaya pengeluaran kecil, yang sering kita sebut hal printilan, yang secara tidak sengaja dan tidak sadar kita lakukan setiap hari.

Mungkin saat mengeluarkan uang, Rp 50 ribu tidak terasa besar. Tapi jika melihatnya dengan sudut pandang yang lebih luas, kebiasaan itu bisa menggambarkan dengan jelas seperti apa kondisi keuangan seseorang di masa depan.

David Bach juga memiliki kalkulator khusus yang bisa menghitung pengeluaran harian kamu jika ditabung dengan tambahan bunga dalam periode waktu yang berbeda. Lihat di sini untuk membandingkan.

Apa latte factor-mu dan bagaimana cara mengubah kebiasaan?

Yang pertama harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi apa saja pengeluaran rutin yang nilainya tak seberapa, tapi jika dilihat per bulan atu per tahun, nilainya ternyata fantastis.

Cobalah mengubah kebiasaan itu. Butuh waktu, tapi jika tekun dilakukan, kita bisa melihat seluruh pengeluaran dan kondisi keuangan kita dengan "kacamata" yang berbeda.

Mungkin menghemat hal-hal kecil seperti kopi, jajan di luar, makan di restoran, belanja online, paket pulsa, biaya ATM tidak akan serta-merta membuat seseorang jadi kaya mendadak. Tapi semua soal disiplin dan kebebasan finansial di masa depan.

Misalnya, mulai mengurangi kebiasaan ngopi di kafe. Kalaupun masih harus minum kopi, mungkin meracik kopi sendiri di rumah bisa jadi pilihan. Minuman-minuman cepat saji lainnya pun sebenarnya bisa dibuat sendiri di rumah dengan bahan-bahan sederhana dan pastinya lebih murah.

Mulai biasakan memasak makanan sendiri. Selain lebih sehat, biaya yang dikeluarkan juga pasti tidak sebesar makan di luar. Lagipula, makan di rumah bisa memberi lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, kan?

Satu lagi yang terlihat remeh tapi paling banyak menyedot dana adalah biaya transaksi keuangan, baik lewat ATM, mobile atau internet banking. Semua pasti dikenakan biaya. Transfer antar rekening, pembelian pulsa, pembayaran tagihan. Mungkin terkesan sepele, tapi secara tidak sadar, semakin banyak transaksi yang kita lakukan, maka semakin banyak pula dana yang diambil dari rekening kita.

Mengendalikan, bukan menghentikan

Seperti yang dijelaskan di poin kedua, bukan berarti kamu harus langsung mengubah kebiasaan rutin. Intinya adalah soal mengendalikan, bukan langsung menghentikan.

Ngopi atau makan di luar sesekali tentu tidak jadi masalah. Bagaimanapun juga, keseimbangan hidup perlu diperhatikan. Apalah gunanya kita giat bekerja jika kita tidak bisa menikmati penghasilan kita, kan?

Tujuan utama latte factor adalah untuk memperhatikan pengeluaran harian dan berusaha "sadar" setiap kali mengeluarkan biaya untuk hal-hal mana yang kita rasa penting. Cermati, apakah benar benda, makanan atau minuman yang akan kita beli itu bermanfaat untuk diri kita?

Kalau tidak pernah punya waktu menonton televisi, kenapa harus membayar biaya bulanan full channel? Kalau, toh, tidak pernah sempat ke gym, kenapa harus membayar biaya bulanan?

Nah, poin penting dari latte factor bukan untuk membuatmu kaya, tapi memberi ide supaya seseorang lebih sadar sebelum membuat keputusan, apa yang harus dibeli, apa yang tidak.

Tujuan menabung

Yang ini mungkin tidak ada hubungannya dengan latte factor. Tapi menurut saya, dengan adanya tujuan atau mimpi yang jelas, mungkin bisa membantu seseorang fokus pada tujuannya.

Misalnya kamu bermimpi memiliki mobil baru tahun depan, maka mengurangi pengeluaran kecil setiap hari akan membuatmu semakin fokus. Artinya, ada hal di depan yang memang membuat semua penghematan ini berarti dan layak untuk dijalani.

-Rappler.com