Provide your email for confirmation

Tell us a bit about yourself

country *
province *

why we ask about location

Please provide your email address

Login

To share your thoughts

Don't have an account?

Login with email

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue signing in. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Sign up

Ready to get started

Already have an account?

Sign up with email

By signing up you agree to Rappler’s Terms and Conditions and Privacy

Check your inbox

We just sent a link to your inbox. Click the link to continue registering. Can’t find it? Check your spam & junk mail.

Didn't get a link?

Join Rappler+

How often would you like to pay?

Monthly Subscription

Your payment was interrupted

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Your payment didn’t go through

Exiting the registration flow at this point will mean you will loose your progress

Owi/Butet kembali persembahkan gelar juara dunia untuk Indonesia

JAKARTA, Indonesia - Tidak sia-sia harapan tinggi digantungkan terhadap ganda campuran Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad di Kejuaraan Dunia 2017 yang digelar pada Minggu, 27 Agustus di Glasgow, Inggris. Sebab, ganda campuran yang akrab disapa Owi/Butet itu sukses kembali mempersembahkan gelar juara dunia bagi Indonesia.

Owi/Butet berhasil mengalahkan ganda campuran Tiongkok Zhen Siwei/Chen Qingchen dengan rubber set 15-21, 21-16 dan 21-15. Ini menjadi gelar juara dunia kedua yang diraih Owi/Butet. Sebelumnya, mereka juga menjadi juara dunia di tahun 2013 lalu.

Sementara, bagi Butet ini menjadi titel juara ke-4. Dua kejuaraan dunia lainnya ia taklukan ketika masih dipasangkan bersama Nova Widianto.

Pada babak pertama, Owi/Butet terlihat berhasil dikendalikan oleh ganda campuran asal Tiongkok. Chen terlihat begitu menggebu-gebu mengembalikan setiap shuttle cock yang diarahkan ke bidang permainannya.

Hal itu tak mengherankan karena usia yang masih 20 tahun dan ia sangat berambisi untuk dapat meraih gelar juara dunia pertamanya. Maka, Chen dan Zhen mengatur strategi untuk membuat Butet berlari mengejar bola. Sementara, ketika Butet tengah lengah, Chen mengarahkan bola menyamping ke arah depan net.

Strategi itu sukses mengalahkan Owi/Butet. Babak pertama ditutup dengan kemenangan ganda Tiongkok 15-21.

Di babak kedua, Owi/Butet mengikuti instruksi sang pelatih. Maka mereka mengubah pola permainan dengan bermain lebih agresif dan menekan Tiongkok.

Perubahan strategi berhasil dan Indonesia berhasil unggul. Bahkan, ketika terjadi interval di babak kedua, Indonesia unggul dengan skor 11-8. Kemudian, Owi/Butet terus menambah angka hingga 13-10.

Walaupun Chen/Zhen bisa terus meraih poin, tetapi itu tidak berhasil. Owi/Butet berhasil memaksa terjadinya rubber set dengan skor di babak kedua 21-16.

Memasuki babak penentuan, Owi/Butet tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sejak awal, ganda campuran yang kini berada di posisi 8 dunia itu sudah menekan pasangan Tiongkok.

Indonesia sempat unggul dengan skor 2-0. Belakangan, Owi/Butet tidak lagi terbendung dan terus meninggalkan Chen/Zhen. Bahkan, selisih skor sempat mencapai 10-1.

Tiongkok mencoba untuk memperkecil ketertinggalan mereka, namun upaya itu gagal. Owi/Butet berhasil meraih kemenangan di babak ketiga dengan skor 21-15.

Ini sudah ketiga kali ganda campuran Owi/Butet menjadi penyelamat bagi Indonesia. Sebelumnya, dalam babak final BCA Indonesia Open, mereka juga berhasil mempersembahkan gelar juara. Sedangkan, pada tahun 2016, mereka berhasil menjawab harapan Indonesia dengan meraih satu-satunya emas di Olimpiade Rio, Brasil.

Kemenangan Owi/Butet ini sekaligus menjadi pelipur lara atas kekalahan yang dialami ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro. Mereka takluk di tangan ganda putra Tiongkok dengan dua set langsung 10-21 dan 17-21.

 

Selamat untuk Owi/Butet! - Rappler.com