Menikmati kopi di Serambi Mekkah

BANDA ACEH, Indonesia — Waktu menunjukkan pukul 21:30 WIB ketika Fadhil meninggalkan masjid, Selasa malam, 30 Mei 2017. “Saya mengambil tarawih delapan (rakaat) saja,” kata warga Ulee Kareng Banda Aceh ini.

Namun, alih-alih langsung pulang, Fadhil justru melipir ke warung kopi. Saat itu pelayan warung baru saja membuka pintu untuk menjamu pelanggan. “Kopi selalu nikmat di malam Ramadan,” kata Fadhil sembari duduk.

Seperti warga Aceh lainnya, Fadhil pun tak pernah menyeduh kopi sendiri di rumah. Ia selalu menikmati kopi di warung sambil berkumpul bersama rekannya. 

Itu sebabnya warung-warung kopi yang bertebaran di sudut kota selalu dipenuhi pengunjung setelah salat tarawih. Sebab, mereka tak bisa ngopi sepanjang siang lantaran puasa.

Sementara ngopi saat sahur, menurut Fadhil, tak baik untuk kesehatan. Sehingga peluang mereka menikmati kopi di bulan Ramadan ini praktis hanya sekali sehari, yakni setelah salat tarawih. 

Di Warung Kopi Solong Premium di kawasan Beurawe, misalnya, sebagian pengunjung besar pengunjung adalah jamaah yang baru saja selesai tarawih. Mereka masih mengenakan peci dan kain sarung.   

Banyak warga Banda Aceh melipir ke warung kopi setelah salat tarawih. Foto oleh Adi Warsidi/Rappler

Banyak warga Banda Aceh melipir ke warung kopi setelah salat tarawih.

Foto oleh Adi Warsidi/Rappler

Robusta atau arabika?

“Kopi satu, encer saja,” kata Fadhil memesan. Di bagian dapur, pelayan warung bernama Edo mengangkat tinggi-tinggi saringan kopi, menebarkan aroma robusta yang khas. “Ini teknik penyajian kopi Aceh,” kata Edo.

Warungnya menyediakan dua jenis kopi, yakni robusta dan arabika. Bila robusta diracik secara tradisional, maka arabika dengan bantuan mesin kopi. Selain kopi, juga ada makanan seperti Mie Aceh dan martabak telor dan aneka kue khas Aceh.

Seorang pengunjung bernama Agam memilih kopi jenis sanger arabika. Sanger adalah minuman favorit di Aceh. Diracik dari kopi hitam dengan sedikit susu. Namun rasanya masih dominan kopi, sangat berbeda dengan kopi susu biasa.

Di warung, bersama hangat kopi, para pengunjung membicarakan beragam topi, mulai dari isu kekinian tentang Rizieq Shihab hingga ajakan memancing saat subuh nanti. 

Bukan penghasil kopi

Provinsi Aceh memang dikenal sebagai negeri seribu warung kopi. Lewati saja jalan-jalan protokol, seperti Jalan P Nyak Makam, Simpang Surabaya, Keutapang, Jeulingke, Batoh, Darusssalam dan juga Ulee Kareng, warung-warung kopi berderet di sepanjang jalan. 

Namun selama Ramadan, warung-warung tersebut hanya ‘hidup’ saat malam hingga menjelang sahur. Setelah sahur sampai menjelang berbuka, warung-warung tersebut sepi, bahkan tutup. 

Uniknya, meskipun Banda Aceh disesaki warung kopi, namun kota itu bukanlah penghasil kopi. Mereka bahkan tidak memiliki perkebunan kopi. 

"Tetapi daerah ini mempunyai warga penikmat kopi terbesar di Aceh. Hal inilah yang kemudian membuat banyaknya lahir warung kopi,” kata Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal beberapa waktu lalu.

Bahkan sebagian warung kopi di Banda Aceh telah bertransformasi menjadi lebih modern dengan menyediakan akses wifi internet bagi pengunjungnya. Rata-rata mahasiswa akan senang duduk di warung yang menyediakan fasilitas itu.

Menurut Illiza, hubungan Banda Aceh dengan daerah penghasil kopi seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah terus terjaga dengan baik. “Kopi telah menyumbang ekonomi bagi Banda Aceh karena warung-warung berkembang dengan baik di sini,” ujarnya.

Kopi Aceh jenis arabika berasal dari dataran tinggi Gayo yang meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Sementara jenis Robusta berasal dari wilayah Aceh Jaya, Pidie dan Aceh Utara dan wilayah lain di dataran rendah.

Aroma kopi, obrolan para pengujung di warung, serta lantunan ayat-ayat suci dari masjid menjadi daya tarik tersendiri selama Ramadan di Banda Aceh. Mau coba? Silakan rasakan nuansa Ramadan di Negeri Serambi Mekkah. —Rappler.com