Cerita Alanda Kariza di balik novel ‘Sophismata’

JAKARTA, Indonesia — Membuat sebuah novel yang mengambil tema politik dan cinta memang dirasa menantang oleh penulis Alanda Kariza. Meskipun sempat bingung memilih judul yang tepat untuk buku fiksinya yang satu ini, Alanda mengaku Sophismata dirasa yang paling cocok.

Alanda mengaku sempat memiliki 20 opsi judul, salah satunya adalah Cita dan Renjana. Judul tersebut seperti merepresentasikan mimpi dan passion. Namun, akhirnya judul ini tidak dipilih karena dirasa memiliki kesan berat bagi pembaca yang melihat judulnya.

Sedangkan Sophismata sendiri dipilih karena terdengar catchy dan memiliki arti ambiguitas. Arti tersebut rasanya cocok dengan isi dari novel yang bercerita tentang politik, karena jarang ada kepastian dalam dunia politik. 

Meski sejak muda ia terlibat aktif dalam gerakan kepemudaan di Indonesia, Alanda mengaku ia juga melakukan banyak riset ketika membuat novel ini. Dalam satu bulan, perempuan kelahiran 23 Februari 1991 ini bisa melakukan panggilan Skype sebanyak lima kali untuk referensi mengenai kehidupan seorang anggota DPR dan lanskap politik di Indonesia. 

“Sisanya riset sambil jalan. Kebetulan aku juga punya interest di bidang politik,” ujar Alanda saat diwawancara Rappler melalui Skype. Saat ini pendiri komunitas Sinergi Muda itu tengah mengambil gelar master di sebuah universitas di Inggris.

Persamaan karakter dengan perempuan Indonesia

Sophismata bercerita mengenai lika-liku seorang perempuan muda, Sigi, yang bekerja sebagai staf administrasi seorang anggota DPR RI. Sigi melihat dunia secara hitam-putih, begitupun dengan caranya ia melihat politik. Namun ternyata ia jatuh cinta dengan seorang politisi muda, Timur, yang tengah menancapkan kakinya di dunia perpolitikan Indonesia. 

Alanda sendiri membuat tokoh Sigi sebagai perempuan muda yang sedang merasakan masa pencarian jati diri. “Karakter Sigi yang ini seperti banyak ada di target pembacaku,” katanya. 

Banyak perempuan saat ini yang meski merasa independen, namun hidupnya dipenuhi oleh “kerja saja”. Tetapi, para perempuan ini juga sering dibatasi oleh lingkungan sosial karena gender mereka, seperti Sigi yang merasa sulit berkembang secara karier di lingkungan yang kental dengan budaya patriarki.

Di Indonesia sendiri, masih banyak pemikiran mengenai bagaimana seharusnya perempuan bertindak. Namun, Sigi seperti datang dengan kesamaan karakter perempuan Indonesia tetapi mencoba untuk membuatnya sedikit berubah. 

Untuk Alanda sendiri, tidak terlalu sulit ketika membuat karakter Sigi. “Sigi itu seperti banyak perempuan di Indonesia. Jadi seperti gampang untuk mengembangkan Sigi,” kata Alanda.

Namun, Sigi sangat berbeda dengan Timur yang sangat geek dengan sejarah dan cinta politik.

“Timur itu kontras dengan Sigi. Dia [Timur] punya banyak mimpi-mimpi, juga dengan partai politiknya,” ujar Alanda yang telah menerbitkan delapan buku, baik fiksi maupun non-fiksi.

Lewat Timur, ada banyak prasangka politik yang diangkat. Terutama karena Timur merupakan karakter yang selalu menyebut partainya beraliran sosialisme demokrasi. 

“Dalam diri kita ada semacam prasangka terhadap politik. Kayak ada sisi kanan dan sisi kiri. Padahal sisi ini memiliki arti yang berbeda di setiap negara,” ujar Alanda. 

Mengapa anak muda belum tertarik politik?

Alanda, yang merupakan dewan penasihat organisasi sosial Sinergi Muda yang dikenal dengan inisiatif Indonesian Youth Conference, secara pribadi tertarik dengan politik. 

Namun, ia melihat bahwa masih banyak anak muda di Indonesia yang belum memikirkan bagaimana politik berjalan di Indonesia. Padahal, menurutnya, demokrasi di Indonesia itu sangat seru. 

“Di Indonesia, pesta demokrasi sangat seru. Apalagi ketika pemilihan umum, rakyat Indonesia bisa memilih sendiri calon yang mereka inginkan,” ucapnya.

Menurut Alanda, ada banyak hal yang membuat anak muda di Indonesia belum tertarik untuk terjun ke dunia politik. 

“Ada banyak sebabnya. Bisa karena gambaran politik di mata mereka itu kotor, atau bisa karena ketidaktahuan mereka tentang proses politik,” katanya.

Banyak berita buruk mengenai politik di media Indonesia. Sehingga seseorang sudah memiliki persepsi jelek pula terhadap politik, dan akhirnya tidak mau masuk untuk mencoba dunia politik.

“Atau bisa juga seperti yang Timur bilang, anak muda belum punya partai yang cocok dengan dia,” ujar Alanda.

Ada banyak partai politik di Indonesia. Sayangnya belum ada partai politik yang memfokuskan diri kepada anak muda. Kebanyakan partai politik yang ada saat ini seperti lebih condong kepada orang-orang yang lebih senior. 

“Seperti anak muda di Indonesia tidak bisa mencocokkan diri mereka dengan salah satu partai yang ada,” kata Alanda.

Selain itu, literasi politik di kalangan anak muda juga dirasa kurang. Masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana politik berjalan. Seperti apa itu DPR? Bagaimana anggota DPR bekerja? dan hal-hal spesifik lainnya.

Untuk itu, lewat Sophismata, Alanda berharap bisa memberitahu tanpa terdengar mengajarkan. 

“Itu juga kenapa aku pilih untuk nulis fiksi. Biasanya aku nulis buku yang non-fiksi, tapi untuk yang ini, rasanya fiksi lebih cocok,” ujar Alanda. —Rappler.com